
Ken bangun dari tidurnya, dia melihat Rava masih tertidur pulas di sampingnya. Dia tidak ingin membangunkan Rava. Ken pun mengecup kening Rava lalu bangkit untuk membersihkan diri.
Setelah beberapa menit Ken keluar kamar menuju ke dapur. Dia berencana untuk membuat sarapan pertamanya bersama Rava.
Sesampainya di dapur Ken di kejutkan dengan sebuah pemandangan tidak indah di depannya.
'Ya ampun, berantakan banget.' Batin Ken.
"RAAVVVAAAAAA..." Teriak Ken seketika.
"Buat apa dia ngacak-ngacak dapur kalo ujung ujungnya beli juga. Bukannya di beresin. Aduuuhh pusing aku." Omel Ken yang melihat dapurnya berantakan dengan peralatan yang kotor. Dia juga belihat beberapa kotak bekas makanan berserakan.
'Baru aja tadi malem aku tersentuh karena masakan Rava. Ehhh...Pagi ini malah nerima kenyataan kalo semuanya cuma pesenan.' Batin Ken.
"Kalo gak bisa masak, bilang aja gak bisa masak. Gak usah punya inisiatif tapi gagal. Kalo gini siapa coba yang repot." Omelnya.
'Ya tuhan, inikah sarapan pagi ku?' Batin Rava.
"Kenapa sih sayang pagi pagi udah marah marah?" Tanya Rava dari anak tangga.
"Gimana aku gak marah. Mas coba deh liat. Kamu apain dapurnya?" Tanya Ken dengan penuh penekanan.
"Kamu kan tau kalo aku masak buat kamu tadi malem sayang." Jelas Rava dengan lembut.
"Masak kamu bilang? Terus kotak kotak itu bekas apa?" Selidik Ken. Rasanya dia tidak ingin dibohongi lagi dengan alasan alasan Rava.
"He he Sayang.... masakan aku gagal. Jadi aku mau buat kamu kecewa. Yang pentingkan usahanya sayang." Pengakuan Rava namun tetap dengan pembelaannya.
"Bagus... sekarang mas beresin semuanya. Mas gak mau kan buat aku kecewa?" Pinta Ken sambil menyindir kata kata Rava.
Dengan pasrah Rava terpaksa membereskan semua kekacauan yang dia buat semalam.
"Sayang, kita baru nikah lo. Kamu kok nyiksa aku si." Rengek Rava.
"Sayang. Kamu tau gak, kamu udah nyiksa batin aku bangun tidur." Sindir Ken pada Rava.
"Iya deh maaf." Rava pasrah.
Dia membersihkan sampah sampah yang ada di bantu oleh Ken yang membersihkan peralatan masak. Rasanya dia tidak tega melihat suaminya merapikan dapur sendirian. Wajar lah, namanya juga pengantin baru. Tidak tega jika pasangannya lelah sendirian.
__ADS_1
"Kak Rava?" Panggil seseorang dari belakang Rava saat dia membuang sampah di depan apartement.
"Hey Noura, ngapain kesini?" Sapa Rava.
"Enggak, aku tadi lewat terus mampir kesini pengen liat kakak." Ucap Noura. Padahal dia memang berniat ke apartement Rava.
"Yuk masuk dulu." Ajak Rava yang berjalan mendahuluinya.
"Sayang." Panggil Rava pada istrinya.
"Ehh ada tamu ya?" Ucap Ken yang menyadari Noura di belakang Rava.
'Heh perempuan licik. Didepanku dia manis manis sama kak Rava. Tapi di belakangku dia nyiksa kak Rava.' Batin Noura.
'Kak Rava juga, kenapa dia milih perempuan licik ini dari pada aku.' Batin Noura.
"Kak Rava kak Rava, ayok duduk dulu. Pasti kakak capek kan harus beres beres rumah. Nih aku bawain sarapan, pasti kakak belum sarapan kan?" Ucap Noura sambil menarik tangan Rava, dia seakan ingin menyindir Ken.
Ken yang menyadari itu hanya membuang pandangannya serta tersenyum kecut.
"Nih silahkan diminum. Ngomong-ngomong kamu ngapain kemari?" Tanya Ken sambil meletakkan segelas susu coklat.
'Cuman mampir? Emang dia mau lewat kemana pagi pagi gini? Alasan aja ni anak.' Batin Ken.
"Kak nih.." ucap Noura sambil menyuapkan bubur ayam untuk Rava. Hal itu tentu saja membuat Ken semangkin muak.
'Wah ngajak perang ni anak. Udah kuat rupanya iman dia, berani ngelawan aku?' Batin Ken.
"Sayang, seinget ku kamu belum mandi deh. Mandi gih." Pinta Ken dengan lirikan kodenya. Rava yang mendapat sinyal - sinya aneh langsung bangkit. Dia memiliki firasat buruk melihat kedipan mata Ken.
"Kakak tinggal dulu ya Ra." Ucap Rava yang langsung naik ke lantai atas.
Ken duduk di sofa menemani Noura. Dia menatap anik iparnya tanpa bergeming. Sementara Noura meliriknya dengan tatapaan sinis.
"Mau sampai kapan kamu mengejar Rava? Apa kenyataan ini belum cukup untuk buat kamu sadar? Kamu gak maukan dicap pelakor?" Ucap Ken tegas. Yah selama hari pernikahan mereka, Ken cukup sabar dengan semua tingkah Noura. Namun bukan Ken namanya kalau tidak bisa memberikan serangan balasan.
"Aku cuman pengen buat kak Rava sadar dari perempuan licik seperti kamu. Kamu itu perempuan yang datang tiba-tiba dan kamu berani merusak semuanya. Lagian apa sih yang di lihat kak Rava dari kamu? dan satu lago, Aku bukan pelakor. " Jawab Noura dengan semangat berapi-api.
"Licik? Haruskah kita buktikan siapa yang licik disini? Dan saya tidak pernah merusak apapun." Tegas Ken namun tetap dalam posisi santai.
__ADS_1
"Ya jelas kamu yang licik. Berani beraninya kamu jadiin kak Rava babu di rumahnya sendiri."
"Wahhh.. sepertinya adik iparku sudah kehilangan sopan santunnya. Bagaimana caramu memanggil kakak iparmu?" Sindir Ken. Dia semangkin membakukan bahasanya ketika ia kesal.
"Maaf ya. Aku gak punya kakak ipar." Bentak Noura.
"Kalau begitu silahkan anda keluar dari sini. Dan bawa sarapan anda, karena saya dan suami saya tidak butuh." Tegas Ken.
"Siapa kamu berani ngusir aku." Tolak Noura.
"Apa kamu tidak tahu saya istri dari Rava? Haruskah kita berkenalan lagi? Dan satu hal lagi, saya minta jangan pernah datang kesini lagi." Usir Ken sambil menahan Rasa geramnya.
"Kakak ipar, mungkin waktumu menjadi istri hanya tinggal beberapa jam lagi. Jadi gunakan lah sebaik mungkin." Ejek Noura sambil tersenyum sinis. Dia langsung pergi membawa bubur yang dia bawa.
Di luar apartemen, Noura langsung melemparkan bubur yang dia bawa kedalam tong sampah. Betapa kesal di dalam hatinya melihat perlakuan Ken yang berani mengusir dirinya. Kepalanya seakan mendidi ingin menampar Ken yang nerani itu.
'Liat aja, aku pasti akan nendang dia dari posisi cucu menantu.' Natin Noura.
***
Ken masih duduk di sofa, dia menenangkan dirinya setelah melakukan perdebatan sengit.
'Berani juga nyalinya bentak aku.' gumam Ken.
"Sayang..." panggil Rava yang sudah selesai mandi.
"Noura udah pulang?" Tanya Rava. Namun Ken hanya diam.
"Sayang? Kamu berantem ya sama Noura?" Selidik Rava.
"Enggak." Jawab Ken singkat.
"Mas kamu udah laper? Mau sarapan gak?" Tanya Ken mendekati Rava.
"Ya mau dong." Jawab Rava santai.
Mendengar jawaban Rava, ken langsung menarik leher Rava lalu mencium bibirnya. Rava sedikit kaget dengan aksi tiba-tiba yang di lakukan Ken. Namun dia menikmatinya.
"Pagi yang buruk. Dan ini sarapan untukmu." Ucap Ken setelah menyudahi aksinya.
__ADS_1