Lelaki Kiriman Mama

Lelaki Kiriman Mama
Penguntit


__ADS_3

Setelah dua minggu di Jakarta, Akhirnya hari ini papa Ken memutuskan untuk kembali ke Jepang. Rasanya Ken tidak ingin berpisah dari  papa, tapi papanya harus mengurus kembali perusahaan yang dia tinggal. Ken juga tidak bisa ikut kembali karena harus mengurus beberapa pekerjaan disini. Ken dan Rava mengantarkan papa Ken ke bandara.


"Nak, papa berangkat ya. Kamu hati-hati disini, jaga kesehatan. Kalau ada sesuatu segera telvon papa." Nasehat papa Ken sambil memeluk anaknya.


"Nak Rava, om titip Ken ya, tolong jaga dia disini. Kadang-kadang dia suka nakal, kamu sabar-sabar." Pesan papa Ken lalu merangkul pundak Rava.


"Siap om." Jawab Rava.


***


"Kamu mau langsung pulang atau ke suatu tempat dulu." Tanya Rava sambil mengemudikan mobilnya.


"Aku ikut ke kantor kamu boleh gak? Suntuk aku gak ada temen." Pinta Ken.


"Ya udah... boleh-boleh aja." Jawab Rava.


"Tapi kita mampir ke mini market bentar ya!" Pinta Ken.


Setelah hampir 40 menit perjalanan, Rava memberhentikan mobilnya di sebuah mini market.


"Tunggu disini aja, aku gak lama kok." Ucap Ken langsung turun dari mobil. Rava pun menurut.


Ken berlari kecil memasuki mini market. Dia mengelilingi mini market dengan keranjang yang di tentengnya. Sepuluh menit kemudian Ken keluar dengan menenteng dua plastik yang berisi penuh makanan ringan.


"Kamu mau bangun mini market di kantorku?" Tanya Rava yang heran melihat belanjaan Ken. Ken meletakkan melanjaannya di kursi mobil belakang.


"Emang boleh Va?" Tanya Ken sok serius.


"Boleh... Tapi di atap." Jawab Rava.


"Makasih Va. Pasti mini market ku bakal maju kalau di atas gedungmu." Ucap Ken sambil tertawa puas. Sementara Rava hanya menggelengkan kepalanya.


* HS Group


Setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir, Rava dan Ken memasuki gedung tersebut. Masih sampai di halaman Rava melihat kearah Ken yang menenteng dua plastik belanjaannya. Rava langsung merebutnya dari tangan Ken, namun Ken menguatkan pegangannya.


"Mau ngapain?" Tanya Ken.


"Sini biar aku bawain." Pinta Rava. Tangan mereka masih menggenggam kantong plastik yang sama.


"Udah gak usah, nanti martabak mu jatoh kalau nenteng belanjaan." Jelas Ken.


"Martabat bukan martabak." Ucap Rava.

__ADS_1


"Iya itu lah pokoknya." Ucap Ken.


"Tapi citra ku sebagai lelaki sejati bisa hancur kalo biarin cewek bawak belanjaan." Jelas Rava.


"Bener juga ya, nanti kalau karyawan mu mikir kamu bos yang kejam karena gak mau bantu cewek cantik, kan bisa hancur reputasimu. Ya udah kamu yang bawak belanjaannya." Ucap Ken sambil melepaskan plastik tentengannya.


"Cewek cantik dari Hongkong." Cetus Rava lalu meninggalkan Ken.


Ken langsung mengejar Rava dan menyejajarkan langkah mereka. Di loby, mata karyawan yang ada semua melihat kearah Ken dan Rava. Ken yang sadar dirinya di perhatikan agak merasa risih tapi tidak dengan Rava. Dia sudah biasa menjadi pusat perhatian di kantornya.


"Liat deh pasti mereka pada kesemsem liat kita, secara kita sosweet gitu." ucap Ken melirik beberapa karyawan Rava.


"Kamu salah, mereka lagi marah sama kamu karna udah buat bos ganteng mereka nenteng beginian. Ati-ati aja kamu, jangan jalan sendirian. Silap-silap kamu kena lempar ke planet lain." ledek Rava. Ken memonyongkan bibirnya.


***


Sesampainya diruangan Rava, Ken langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Rava meletakkan plastik belanjaannya ke atas meja tepat di depan Ken. Lalu dia berjalan menuju meja kerjanya. Ken langsung menyambar bungkusan yang ada didalamnya.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar, pandangan Ken beralih ke arah pintu. Seorang wanita masuk ke dalam ruangan.


"Hay Nad." Sapa Ken. Nadia tersenyum menjawab Ken.


"Permisi pak Rava, kita ada rapat hari ini. Semua ketua bagian sudah menunggu di ruang rapat." Ucap Sekretaris Nadia.


"Kamu jangan kemana-mana ya. Inget pesanku tadi." Pesan Rava sambil senyum jahat lalu meninggalkan Ken.


***


Ken sedang asik menonton acara stand up comedi yang lihat di layar HPnya. Tiba-tiba terdengar suara nada dering panggilan. Ken melihat ke sekelilingnya tapi tidak menemukan sumber suara. Lalu ken berjalan ke meja kerja Rava. Ternyata ada panggilan masuk di HP Rava yang bertuliskan nama 'Jingga'. ' ohhh.. kates jingga rupanya.' Gerutu Ken pelan. Ken tidak berniat mengangkatnya. Dia hanya melihat dan menunggu panggilan itu mati dengan sendirinya. Tak lama panggilan pun terputus.


Ken langsung mengambil HP Rava, dia melihat beberapa notif di layar HP tersebut. 'Agen Z? siapa ni? Apaaa... jangan-jangan ini nomor pembunuh bayaran. Rava kamu nyewa pembunuh bayaran?' Gumam Ken sambil menutup mulutnya dengan rasa tidak percaya. Pikiran gilanya mulai berkembang merajalela.  Ken langsung membuka pesan tersebut namun sayang, HP terkunci.


"Apaan ni polanya?" Tanya Ken pada diri sendiri. Ken mencoba berbagai pola yang biasa dia pakai saat menggati-ganti polanya. Namun gagal hingga dia harus menunggu 30 detik untuk bisa mencoba lagi. Dia mencoba terus hingga akhirnya dia bisa membuka kuncinya.


"Gila ya, aku udah coba pola bintang, bulan, matahari dan planet-planetnya, eh..... taunya cuma ceklis doang." Gerutu Ken kesal.


Ken membuka pesan tersebut, dan membacanya dengan teliti lalu menscroll keatas.


'Nona Ken berada  di cafe X bersama Nadia dan Sasya.'


'Nona Ken pergi ke Mall X'


'Nona Ken pingsan di pemakaman, Sekarang dirawat di RS Bersama, Ruang XX no.7'

__ADS_1


'Nona Ken akan berangkat ke kota J'


'Nona Ken sedang di rukonya.'


'Nona Ken ....'


'............'


'............'


Ken terkejut dengan apa yang dia baca. Pesan itu penuh dengan namanya. Tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat Rava masuk ke ruangan. Ken masih di posisinya dan melihat ke arah Rava.


Rava yang sadar handphonenya di tanggan Ken, langsung menghampiri Ken dan mengambil HPnya.


"Kamu mata-matain aku?" Tanya Ken tiba-tiba. Belum sempat Rava menjawab, Ken sudah menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan konyol.


"Kamu kenapa mata-matain aku? Apa dia pembunuh bayaran? Apa kamu mau bunuh aku?" Tanya Ken yang langsung mendapat pelukan dari Rava yang tidak bisa dia lepaskan. Rava menahan tawanya karna pernyanyaan konyol Ken.


"Maafin aku, aku bisa jelasin semua." Ucap Rava lembut.


"Dasar penguntit." Lanjut Ken. Perasaannya masih penuh tanda tanya.


Rava mengajak Ken untuk duduk di sofa. Ken menatap dalam dalam wajah Ken. Lalu Rava menggapai tangan Ken dan menggenggamnya.


"Ken, aku bukan penguntit. Dia bukan pembunuh bayaran dan aku gak mau bunuh kamu." jelas Rava sedikit tertawa.


"Aku hanya ingin menjagamu. Walaupun kamu jauh aku pengen tetep jaga kamu. Dan ini caraku untuk menjaga kamu." ucap Rava penuh keyakinan. Tapi Ken masih belum puas dengan jawaban Rava.


"Tapi kenapa harus kayak gitu?" tanya Ken.


"Nanti kalau waktunya udah pas, aku akan cerita." jawab Rava.


"Bukan itu jawaban yang pengen aku denger Va, aku butuh penjelasan." ucap Ken yang masih tidak terima. 'Bisa-bisanya ada yang mata-matain aku tapi aku tidak tahu.' batin Ken yang tak habis pikir dengan dirinya sendiri.


"Waktunya belum tepat Ken." bujuk Rava


"Oke.. tapi mulai sekarang jangan kirim mata mata untuk nguntit aku lagi." pinta Ken dengan kesal.


"Aku gak nguntit kamu, aku cuma ngawasin kamu." jawab Rava


"Sama aja itu Va. Merinding aku dengernya tau ga." ucap Ken bertambah kesal.


"Okeee..." Rava mengalah, sambil mengacak-acak rambut Ken.

__ADS_1


__ADS_2