
Di kediaman bunda Tama. Keluarga Andre dan Sasya sedang duduk di ruang Tv setelah tadi menikmati makan malam. Semenjak makan malam saat itu, Sasya mulai bisa berbaur dengan keluarga Andre. Begitu juga bunda Tama yang merasa cocok dengan Sasya yang rajin dan apa adanya. Sasya juga sering kerumah Andre membantu bunda membuat kue. Selain itu Sasya sangat ramah dan humoris, sehingga membuat bunda Tama senang di dekatnya.
"Ken sebentar lagi akan menikah. Kalian kapan?" Tanya om Putra membuka pembicaraan pada anak dan calon menantunya itu. Sasya langsung terbatuk mendengar ucapan om Putra.
"Nih minum dulu." Ucap Andre lalu menyodorkan gelas berisi air putih. Sasya langsung meminumnya.
"Ken nikah sama siapa pah?" Tanya bunda dengan serius memperhatikan wajah suaminya.
"Ya sama tunangannya dong bun." Jawab om Putra.
"Sama Rava pah?" Tanya Andre.
"Ya siapa lagi tunangannya." Jawab om Putra.
Sasya hanya mendengarkan pembicaraan keluarga tersebut. Dia tidak tahu kabar tersebut karena beberapa minggu ini Ken tidak membalas chat di grup mereka.
"Papa tau dari mana Ken akan menikah?" Tanya bunda.
Om putra langsung menceritakan tentang papa Ken yang menelvonnya untuk memberi kabar pernikahan Ken dengan Rava.
Bunda melihat ke arah putranya karena tidak percaya. Pasalnya yang mereka tahu pertunangan Ken sudah putus. Mereka juga ikut membantu Ken untuk tidak memberi tahu keberadaan Ken pada siapapun. Begitu pula Andre yang melihat wajah bunda lalu beralih melihat Sasya.
"Aku gak tau soal ini. Beberapa minggu ini Ken gak ada kabar." Jelas Sasya, dia paham dengan pandangan Andre yang penuh tanda tanya.
"Ya sudah besok bunda yang akan tanya langsung ke Ken." Ucap bunda.
"Kalau gitu kalian juga harus membicarakan tentang pertunangan kalian An." Lanjut bunda Tama pada anak dan calon menantunya.
"Iya bun, An sih terserah Sasyanya aja." Jawab Andre santai.
"Kalau Sasya sih terserah bunda aja, bun." Jawab Sasya.
"Ya udah deh, kalau gitu bunda terserah papa aja." Jawab bunda sambil tersenyum melihat om putra.
__ADS_1
"Terus papa terserah siapa dong." Jawab om Rava membuat semua orang tertawa.
"Jadi kalian pengen tunangannya itu di hotel atau di rumah aja?" Tanya bunda. Sepertinya bunda tidak mau kalah dengan papanya Ken.
"Di hotel oke, di rumah juga oke." Jawab Andre.
"Gimana kalau tunangannya di rumah aja bun. Jadi cuma dihadiri keluarga dan temen deket aja bun. Nanti resepsi pernikahannya baru di hotel." Ucap Sasya.
"Wah ide bagus itu. Kalau bisa kalian setelah sebulan tunangan langsung nikah." Ucap bunda Tama penuh semangat.
"Soalnya bunda udah gak sabar pengen punya cucu." Lanjut bunda dengan girang. Membuat pipi Sasya memerah dan tersipu malu.
Sasya dan Andre hanya menganggukan kepala mereka. Karena sebenarnya mereka juga sudah sering membicarakan hal tersebut. Apa lagi usia mereka akan menuju 28 tahun. Begitu pula dengan om Putra yang tidak menunjukan penolakan.
***
Sementara Ken dan Rava sedang duduk santai menikmati malam di sekitar menara eiffel. Tempat ini cukup ramai dengan pasangan-pasangan yang sedang bermadu kasih. Sinar lampu yang dipancarkan menara tersebut menambah romantis suasana. Semua orang seakan terhipnotis dengan keindahannya, tapi sepertinya hal itu tidak berpengaruh bagi pasangan Ken dan Rava. Mereka duduk terdiam dengan fikiran mereka masing-masing.
Rava sedari tadi hanya memandangi Ken. Tidak ada keindahan lain yang mampu membuatnya memalingkan wajahnya saat ini. Keindahan itu hanya ada pada sosok cantik yang sedang duduk si sampingnya.
"Kenapa kamu diem aja?" Tanya Rava membuka pembicaraan.
"Emm.. gak papa." Jawab Ken singkat.
"Kamu capek ya? Apa kita pulang aja?" Tanya Rava.
"Gak usah Va, aku cuma keinget momen kita dulu sebelum kita bertengkar. Kita selalu sama-sama. Kamu paling bisa buat aku seneng dulu. Dan sekarang akhirnya kita sama-sama lagi. Takdir kita lucu ya Va." Jawab Ken sambil tersenyum sendiri namun tidak mengalihkan pandangannya ke Rava.
"Maaf ya." Ucap Rava dengan raut sedikit berubah. Jika mengingat pertengkaran mereka, Rava masih merasa bersalah.
"Kenapa harus minta maaf. Va, ayo kita cerita tentang perasaan kita masing-masing." Jawab Ken.
"Jujur Va, walaupun kita udah sama-sama, tapi perasaan aku sekarang beda, udah gak kaya dulu lagi. " ucap Ken.
__ADS_1
"Iya aku paham. Aku gak akan maksa kamu untuk tetep kayak dulu." Ucap Rava.
"Sekarang, aku cuma mau memperbaiki semua. Memulai semuanya dari awal lagi. Dan buat kamu cinta lagi sama aku." Lanjut Rava lalu meraih tangan Ken dan menggenggamnya.
'Kebodohanku udah menghancurkan perasaanmu. Mana mungkin aku memintanya kembali. Bisa bersamamu lagi saja aku sudah bersyukur.' Batin Rava.
Ken tersenyum melihat wajah Rava. Wajah yang dulu selalu hadir menemani senyumnya. Wajah hangat itu ternyata masih bisa dia lihat diwajah Rava.
"Gimana perasaan kamu ke aku sekarang?" Tanya Ken.
"Perasaan ku sekarang masih sama seperti dulu. Aku cinta kamu. Aku sayang kamu. Kamu tetep sosok wanita paling cantik dimataku." Jawab Rava sengan senyum mengembang.
"Ah bohong banget." Jawab Ken tidak percaya.
"Aku jujur kali." Ucap Rava yang tidak senang dianggap bohong.
"Kemaren ada yang bilang loh, katanya dia nyesel gitu kenal sama aku. Udah gitu dia gak mau ketemu aku lagi." Sindir Ken dengan wajahnya dibuat sinis.
Rava yang merasa tersindir sedikit malu plus menyesal pernah mengucapkannya.
"Udah gitu malah sekarang dia ngejer ngejer aku. Pake bilang-bilang cinta segala lagi." Lanjut Ken.
"Ya ampun muka kamu imut banget kalo gini ya." Ucap Rava sambil menangkup wajah Ken lalu mencubit pipinya.
"Gak usah ngalihkan pembicaraan deh." Ucap Ken sedikit kesal. Rava langsung melepaskan cubitannya.
"Ken, untuk kesekian kalinya aku minta maaf sama kamu. Tapi kejadian itu gak buat rasa sayang aku ke kamu itu berkurang. Malah rasa cinta aku bertambah. Aku semangkin pengen buat kamu bahagia sama aku. Karena aku udah buat air mata kamu jatuh." Jelas Rava serius.
Ken manganggukkan kepalanya. Kata-kata Rava cukup membuatnya percaya.
'Setelah semua yang terjadi, akankah aku bisa mencintaimu seperti dulu? Tapi mengingat kebersamaan kita dulu, rasa cinta itu serasa masih ada.' Batin Ken.
"Kita jalan-jalan yuk." Ajak Rava. Ken pun menurutinya.
__ADS_1
Mereka melangkahkan kaki mereka sambil bergandengan tangan. Bagaimana pun perasaan mereka saat ini. Apapun yang terjadi pada mereka kedepannya. Biarlah itu menjadi tadir dari kisah cinta mereka sendiri.