
Setelah keluar dari kamar Alex langsung turun dan berjalan menuju pintu utama untuk pulang ke apartemennya,namun sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Alex mau kemana lagi kamu!! sini ayah mau bicara sama kamu?" ucap ayah Alex.
"Apa" jawab Alex singkat.
"Gimana kamu setuju dijodohkan ibu kandung mu?" tanya ayah Alex.
"Hm"
"Saat sudah berkeluarga kamu ingin lanjut kuliah apa langsung cari kerja?" tanya ayah Alex lagi.
"Ga tau"
"Yaudah gimana kalo kamu gantiin ayah sebagai CEO diperusahaan yang disini, nanti ayah urus perusahaan yang ada di Paris?"
"Hm"
"Jawabannya hanya iya atau ngak" ucap ayah Alex.
Alex mengangguk "iya "
"Kamu kenapa jadi pendiam lex, apa karena mantanmu atau ibumu yang meningal?" tanya ayah Alex.
"Bukan urusan anda" jawab Alex.
Awalnya tujuan alex datang ke mansion ayah nya untuk mengingat kembali kenangan nya bersama ibu kandungnya namun semua nya sia-sia kedatangannya tidak pernah dianggap.
----
Silvia sudah bersiap-siap dengan seragam putih abu-abu nya tak lupa ia pun memakai jaket kesayangannya.
Ting..Ting..
Silvia melirik hp nya sekilas dan melihat nomor tidak dikenal menelponnya.
"Nomor siapa sih" gumam Silvia memberanikan diri mengangkat telepon tersebut.
"Hallo...dengan siapa" tanya Silvia.
"Vi nomor gue gak lu sv ya" ucap seseorang diseberang sana.
"Ini siapa" tanya Silvia lagi.
"Gue Naufal, dan sekarang gue didepan rumah Lo buat berangkat bareng" ucap penelpon tersebut yang tak lain Naufal.
"Loh..."
Tut...Tut..
Silvia langsung berlari kearah jendela dan melihat Naufal yang sedang duduk dimobilnya dengan kaca terbuka.
Silvia langsung mengambil tas sekolahnya dan berlari menuruni tangga.
"Vi hati-hati jangan lari" ucap mama Silvia.
"Eh...mah aku duluan ya" ucap Silvia mencium tanggan mamahnya.
__ADS_1
"Hosh...Hosh...Lo ngapain didepan rumah gue...Hosh....sepagi..gini" tanya silvia.
"Berangkat bareng lah Vi, kan gue udah chat Lo tadi malam" ucap Naufal.
"Oh gue gak tau" ucap Silvia langsung naik ke mobil naufal.
-----
"Vi kantin yok" ajak stania.
"Malas gue desak-desakan gimana kalo kita kerjain orang aja " ucap Silvia.
"Gue sih ya" tanya Clarisa.
"Mingir-mingir guru killer mau lewat" pekik stania dan para siswa yang berdesak-desakan langsung secara spontan memberi nya jalan.
"Kyak...lari" pekik Silvia langsung berlari dan duduk dibangku yang masih kosong diikuti Stania dan Clarisa.
"Apa kalian semua mau protes" pelotot Silvia.
"Ish...kak gak bisa gitu donk kan aku yang liat bangku ini dulu" ucap salah satu siswi.
"Hilih tapi gue dulu yang tempati, semua dan Lo mending pergi atau bernasib sama dengan Briana" ancam Silvia.
Semuanya pun langsung bubar dan kembali ke aktifitas masing-masing.
"Wah...hebat Lo Vi, semua langsung takut dan bubar" ucap stania bertepuk tangan.
"Ia donk Silvia gitu loh" jawab Silvia menepuk-nepuk dadanya.
Disisi lain alex dkk sedang duduk disalah satu meja seraya menunggu pesanan mereka.
"Malas gue ntar dibilang homo lagi" ucap Naufal.
"Oiya Lex lu kemarin kemana habis pulang sekolah?" Tanya Naufal.
"Makam"
"Makam mamah Lo" tanya Naufal lagi.
"Hm"
"Lo ada masalah apa lagi sih Lex,Lo kayak orang kesepian tau gak" ucap Naufal.
"Gpp"
Beralih dari bangku Alex menuju bangku Silvia dkk.
"Gaes lihat deh kasihan banget si culun itu dibully sama teman Briana" ucap Silvia.
"Hooh...gue heran deh fi, kenapa yang lemah selalu ditindas" tanya Stania.
"Percuma kuat tapi gak pernah dihargai" ucap Silvia berjalan membantu si culun.
"Hallo manusia tak ada otak" ucap silvia menahan tanggan cindi yang akan menampar si culun.
"Lo lagi...Lo lagi...gak bisa apa Lo gak muncul dihadapan gue" ucap cindi.
__ADS_1
Silvia tersenyum miring "gak bisa kenapa"
"Heh culun hari ini Lo selamat, tapi ingat kalo gue ketemu Lo lagi habis nyawa lo" ucap cindi beranjak pergi diikuti temannya.
"Lo gak papa kan" tanya Stania membantu siculun berdiri.
"Gak papa ko ka,makasih ya ka udah nolong aku" ucap si culun.
"Eh tunggu, nama Lo siapa" tanya Clarisa.
"Namaku adinda ka dari kelas 10 dan nama panggilanku adin" jawab si culun yang bernama adinda.
"Din Lo kalo lain kali dibully sama siapa aja Lo harus berani lawan ya" ucap silvia.
"Aku takut ka!! semua orang hanya bisa memanfaatkanku, kalo aku gak turutin apa maunya aku nanti dibully lagi" ucap adinda menduduk.
"Lo gak usah takut, percaya deh orang yang lemah akan selalu ditindas sedangkan orang yang berani melawan mereka akan dihargai" nasihat Silvia.
"orang seperti aku gak akan ada yang bisa hargai kak, kalo bisa aku diibaratkan kotoran debu yang hanya bisa mengangu pemandangan dan harus disingkirkan" jawab adinda menahan air matanya.
"eh jangan ngomong gitu donk, lu hanya perlu bersifat terbuka dan berani saja, jangan tunjukan kelemahan mu tapi tutupi kelemahan mu dengan kelebihan yang kau miliki" ujar Silvia membuat orang didepannya menganguk samar.
"Nah gitu donk baru ini yang namanya adinda, mulai sekarang Lo harus berani angkat kepala Lo ya jangan tunduk kayak gini" ujar Silvia.
Adinda pun mendongakan kepalanya dan tersenyum manis "makasih ka udah peduli sama aku yang lemah dan tidak berdaya ini"
"Didunia ini gak ada orang yang lemah din, Lo hanya perlu berani dan percaya diri untuk bisa dihargai" ucap Silvia.
"Makasih ka udah peduli sama aku....em..aku boleh peluk kakak gak" ucap adinda.
"Ya tentu saja boleh" ucap Silvia langsung memeluk adinda.
"Oh iya ini pake jaket gue, biar baju Lo yang kotor bisa ketutup" ucap Silvia memberikan jaketnya.
"Makasih ka kakak mirip kayak almarhum kakak aku orang nya baik banget" ucap adinda.
"Udah anggap aja sekarang gue seorang kakak yang membantu adiknya" jawab Silvia tersenyum manis.
"Wah...sekali lagi makasih ya kak, kakak adalah orang terbaik yang pernah aku temuin" tambah adinda langsung berjalan menuju keluar kantin.
Semua orang yang ada disana tercengang mendengar percakapan antara Silvia dan adinda sama halnya dengan kedua temannya silvia.
"Kyak...via ini baru teman gue" pekik Stania.
"Vi itukan jaket kesayangan Lo" ucap clarisa.
"Gue bisa beli yang baru" jawab Silvia.
"Udah lah yok kekelas keburu bel masuk bunyi" ucap Silvia keluar dari kantin diikuti Clarisa dan Stania.
"Wah ngak nyangka gue, gue kira Silvia orangnya sombong dan memanfaatkan harta ayahnya sebagai perlindungan" bisik- bisik seluruh penjual dan murid yang ada dikantin.
"Terharu gue fal, tadi aja habis buat onar sekarang udah nolong orang" ucap Dion.
"Makannya nilai seseorang itu jangan dari covernya aja" jawab Naufal.
"Didunia ini gak ada yang lemah, Lo hanya perlu berani dan percaya diri" batin alex dan tersenyum tipis mengingat ucapan Silvia.
__ADS_1
------
Bersambung👀✌️