
Sekitar jam 9 malam Silvia berjalan memasuki rumah orang tuanya, Karena alex ada keperluan yang dipastikan akan pulang pagi maka ia menyuruh Silvia menginap saja di rumah orang tuanya supaya tidak kesepian.
"Kenapa sepi sekali" batin Silvia, Ia pun mulai mencari-cari keberadaan sakelar lampu.
"Eh..non ada keperluan apa datang malam-malam kesini" tanya salah satu pembantu yang sedang lewat.
"Alex lagi pergi bi makanya saya datang kesini biar gak kesepian" jawab Silvia.
"yasudah bi saya keatas dulu ya" tambah silvia.
"Udah pada tidur semua mungkin ya" gumam Silvia mulai berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Silvia menghentikan langkahnya saat melewati kamar mamahnya yang pintunya sedikit terbuka.
"Apa masih belum cukup menjodohkan Silvia dengan rekan bisnis mu hah!! kenapa sekarang kau juga malah menjodohkan Kelvin" bentak Salva (mama Silvia).
"Haaaa jadi bang kelvin juga bakal dijodohin" gumam Silvia pelan, ia masih setia menguping pembicaraan orang tuannya didepan pintu.
"Karena hanya cara itu satu-satunya yang bisa kita pakai untuk menyelamatkan perusahaanku yang diambang kebangkrutan" Ucap ayah Silvia menendang meja.
Terkejut...? itulah yang dialami Silvia dan mamahnya.
__ADS_1
"Tapi kan masih ada cara lain!! Kau taukan bagaimana perasaan Silvia saat dijodohkan sama orang yang tidak dikenal, itu juga yang bakal dirasakan Kelvin anak kita yang sudah punya pacar" Ucap mama Silvia mendudukan dirinya di sofa yang berada didekatnya.
"Apa pedulimu sama Silvia!! dia itu hanya anak yang kau adopsi dari panti asuhan, karena kau dulu juga sangat ingin sekali punya anak perempuan, lagian dia juga gak ada gunanya sama sekali hanya merepotkan saja di rumah ini" ucap ayah Silvia meminum-minuman yang ada ditangannya.
DEG....
Jantung Silvia tiba-tiba menjadi sesak. ia langsung terduduk lemas dilantai dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.
"Tapi dia tetap anakku walau kami tidak satu darah...hiks...dia..hiks..dia juga tidak pernah merepotkan mu..hiks..dia selalu menuruti mu dia juga yang merawat mu saat kau sakit" ucap mama Silvia menumpu kepalanya dengan kedua tanggan.
"Cih anak pembawa sial kau bilang tidak merepotkan!! bolos, terlambat, selalu buat masalah disekolah, dan dengan seenaknya dia bilang anak kita bengkel, Tapi ada gunanya juga dia kita rawat setidaknya dia mau kita jodohkan hitung-hitung membalas jasa kita yang merawatnya " ucap ayah Silvia santai.
Silvia yang samar-samar mendengar suara langkah kaki mulai berlari dan memasuki kamarnya. ia langsung terduduk lemas dibalik pintu kamarnya.
perasaan Silvia kali ini benar-benar kacau, semuanya seakan berubah dalam sekejap. orang yang dulu ia anggap pahlawan malah dengan sengaja menjodohkannya tanpa meminta pendapat dan bahkan lebih parahnya ia dijodohkan hanya demi mempertahankan perusahaan.
"Ja...Hiks...jadi gue selama ini hanya...hiks...anak adopsi" ucap Silvia dengan suara parau.
"Kenapa rasanya sesakit ini!! gue memang anak pembawa sial, gue gak berguna, gue sudah banyak sekali merepotkan keluarga ini, gue benci diri gue sendiri" ucap Silvia memukul-mukul dadanya.
Silvia pun menatap kearah depan dan pandangannya seketika langsung tertuju pada bulan dan bintang yang ada di langit..
__ADS_1
Silvia mulai membuka pintu balkon dan menidurkan dirinya dilantai menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit.
seketika ia teringat dengan ucapan bi linyan yang dulu pernah mengajaknya menatap bintang dari balkon kamarnya.
"Aku sekarang mengerti bi apa sebenarnya makna dibalik semua kata-katamu itu" batin Silvia.
"Selamat tinggal Kamar" Ucap Silvia menatap seluruh kamarnya dengan derai air mata di pipinya.
Silvia langsung menuruni tangga dengan hati-hati dan langsung berlari keluar rumahnya lebih tepatnya rumah orang tua angkatnya.
Silvia terus berjalan di trotoar dengan wajah menunduk dan air mata yang terus mengalir, semua orang menatapnya prihatin namun tetap cuek bebek. ia. Silvia pun mendongakan kepalanya untuk melihat dimana sekarang ia berada, namun pandangannya langsung terfokus pada sebrang jalan saat melihat orang yang ia kenal bersama seseorang.
"Alex" batin Silvia, ia pun mulai berjalan mendekati orang yang Silvia bilang alex untuk memastikan.
"Kenapa Alex sama Bella bisa ada disini dan mesra sekali" batin Silvia terus-terus bertanya dan mengekori kedua orang tersebut dari belakang.
"Ah udahlah paling gue salah liat, ngapain juga gue ikutin mereka orang Alex aja orangnya batu mana mungkin bisa seromantis itu" gumam Silvia pergi meningalkan kedua orang tersebut.
-----
bersambung👀✌️
__ADS_1