
Hari Senin adalah Hari ini adalah hari yang banyak tidak disukai banyak murid sama halnya dengan Silvia.
karena baru saja tidak masuk sehari sudah masuk lagi ditambah dengan upacara.
Silvia sudah rapih dengan seragam sekolahnya, ia sebenarnya tidak inggin berangkat namun ia juga tidak mungkin melewati masa-masa SMA nya.
Silvia memperhatikan tampilannya dari pantulan kaca yang berada dikamarnya.
"Perfect" gumam Silvia mengambil tasnya dan berjalan keluar dari kamarnya.
Namun saat menuruni anak tangga Silvia tiba-tiba berhenti saat melihat sosok yang ia kenal.
"Alex" ucap Silvia pelan.
"Sini Vi, ngapain kamu bengong aja disitu" ujar mama Silvia dari arah meja makan.
Silvia pun mengangguk dan melanjutkan langkahnya yang terhenti menuju meja makan "mah alex kok bisa ada disini"
"Iya Vi tadi katanya dia mau ngajak kamu berangkat bareng" jawab mama silvia.
"loh aku kan bareng sama ab...mah Abang mana" tanya Silvia menatap mamahnya dengan penuh tanda tanya.
"abangmu udah berangkat duluan vi" jawab mama Silvia.
"tumben banget mah Abang berangkat pagi biasanya juga malas" tanya Silvia.
"iyalah orang mamah yang suruh" batin mama Silvia dan senyum-senyum sendiri.
Silvia pun duduk dikursi yang kosong lalu mengambil beberapa lembar roti dan mengoleskannya dengan selai.
"Lex lu kesini naik apa" tanya Silvia menatap Alex yang berada didepannya.
"mobil" jawab Alex singkat dan memberi Silvia kode untuk segera berangkat.
"mah akhu bwrawkangat dhuwlu" ucap Silvia dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
"habisin dulu Vi makanan nya baru ngomong" ujar mama Silvia.
"ak...uhuk...uhuk" Silvia tiba-tiba keselek karena terburu-buru.
secara spontan Alex menyodorkan minuman yang ada dihadapannya, Silvia pun mengambil minuman tersebut dan meminumnya hingga habis.
"huft..makasih" ucap Silvia menaruh gelas yang kosong kemejanya.
__ADS_1
"mah aku berangkat duluan ya" ucap Silvia menyalimi mamahnya.
"duluan mah" tambah Alex.
"eh..wei dia mamah ku kenapa kau bilang dia mamah juga" selidik Silvia.
"udah Vi mama yang minta dia bilang mamah dengan sebutan mamah" jawab mamah Silvia.
"owh yaudah yok, aku duluan ya mah" ucap Silvia memakai sepatunya lalu menaiki mobil Alex.
-----
setibanya Alex dan silvia disekolah banyak bisik-bisik dari para murid.
"kok mereka bisa berangkat bareng yha"
"eh liat tuh kayaknya Alex dipelet deh"
"ngapain sih Alex mau berangkat sama dia, cantikan juga gue"
"pupus sudah harapan gue mendekati silvia"
"yaampun gue juga mau kali berangkat sama Alex"
"Alex sayang kekelas yuk panas disini" ucap Silvia menaikan nada suaranya dan melingkarkan kedua lengannya di lengan alex tak lupa ia pun menyenderkan kepalanya dipundak Alex.
bisik-bisik pun mulai terdengar lagi dan beberapa siswi langsung pergi dari sana dengan wajah kecewa.
"heh...ngapain Lo nyender ke pundak calon pacar gue hah" pekik Briana tiba-tiba datang dan mendorong bahu Silvia.
"Cih!! masih calon pacar kan bukan pacar beneran" jawab Silvia sinis.
"bentar lagi gue bakal jadi pacarnya, tunggu aja iya gak beb" ucap Briana melingkarkan tangannya di lengan alex manja.
"Lo masih calon pacar kan tapi gue calon istrinya" bisik Silvia penuh kemenangan dan langsung pergi menuju kelasnya.
Briana terdiam ia mencerna maksud dari ucapan Silvia.
"LEPAS" bentak Alex menyentakan tanggan Briana.
"ish...kok kamu bentak aku sih" ucap Briana dengan wajah sok sedihnya.
"Alex" teriak Dion turun dari motornya.
__ADS_1
"eh...ada ular berbisa" sindir Dion.
"Lo nyindir gue hah" ucap Briana berkacak pinggang.
"Lo kan emang ular berbisa jadi gue gak ngerasa nyindir kan" jawab Dion bersedekap dada.
"yang ular itu kalian tau gak, tiba-tiba datang mengangu momen aja" desis Briana.
"ntar gue ada bawa teman Lo" ucap Dion mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"ini" tambah Dion menyodorkan sebuah kotak.
"apa ini kenapa bentuk nya indah sekali" tanya Briana saat melihat tampilan kotak tersebut.
"buka aja Lo bakal tau!! oiya gue sama Alex duluan ya" ucap Dion menarik tanggan Alex menjauh dari parkiran dan bersembunyi dibalik dinding.
Briana yang merasa penasaran dengan isi kotak yang diberi Dion akhirnya memilih membukanya.
"Aaaaaaaaa.....ular...aduh mataku" pekik Briana membuat semua siswa yang ada disekitar membantunya.
"hahahahahahahha...makan itu bubuk cabai" ucap Dion berjalan pergi namun sebuah tatapan maut memberhentikan langkahnya.
"ke...Napa...Lo natap gue kayak gitu" tanya Dion bergidik ngeri.
"knp dia" tanya Alex.
"ayolah sejak kapan kau peduli dengan masalah sepele ini" ucap Dion mengalihkan pandangannya.
"kenapa" tanya Alex lagi membuat dion akhirnya menceritakan semuanya dengan jujur.
"tadi gue hanya masukin ular mainan didalam kotaknya, dan dibalik tutup kotaknya terdapat bubuk cabai yang pastinya lumayan banyak lah" ucap Dion cengengesan menjelaskannya dan langsung berlari meninggalkan Alex sendirian.
"yaampun Briana ada apa dengan matamu" tanya teman briana menyiram muka Briana dengan air.
"heh Lo ngajak ribut heh, muka gue ngapain Lo siram pakai air" pekik Briana dengan mata tertutup.
"gue hanya bermaksud kurangin bubuk cabai yang ada disekitar mata Lo" jawab orang tersebut.
"yasudah kita bawa dia ke uks saja" ucap salah satu murid membopong tubuh Briana dibantu temannya ke uks.
------
bersambung👀✌️
__ADS_1