
Bruk....
Briana tiba-tiba datang dan menggebrak meja yang di tempati oleh alex, Silvia dkk.
"Heh murahan Lo gak usah mimpi yha bisa dekatin calon pacar gue" ucap briana menjambak rambut Silvia.
Alex menatap briana tajam "gak Sudi"
"Kyak...lepasin woy" pekik Silvia memukul tangan Briana.
"Turunin tanggan Lo dari rambut gue atau-" Ucap Silvia terputus.
"Atau apa...hah anak kampung?" tanya briana.
Silvia langsung mengigit tangan briana dan memelintir tangannya kebelakang.
"Gue kasih tau ke Lo nih, kampungan itu lebih cocok untuk Lo bukan untuk gue" ucap silvia.
"Dan apa Lo bilang dia calon pacar lo!! Ups....hahaha...wahh...dia aja ngak Sudi punya pacar kayak lo" sambung Silvia mengencangkan suara tawanya.
"Lepasin tanggan gue" pekik Briana.
Byurrr....
"Kyak...lo.." pekik Briana saat tiba-tiba disiram jus oleh Silvia.
"Itu akibatnya Lo berani gangu gue" ucap Silvia melepas tangan Briana.
Tangan Briana kini memerah bekas jari tangan Silvia.
"Awas aja lu bakal gue pastiin Lo keluar dari sekolahan ini" ucap Briana menelpon ayahnya.
Yups Briana adalah anak kepala sekolah disekolah yang Silvia dkk tempati saat ini.
"Hallo dad" ucap briana saat telepon tersebut diangkat.
"Loh anak dad kenapa?" tanya ayah Briana dari sebrang sana.
"Dad pokok nya aku gak mau tau sekarang dad ke kantin yang no 2" ucap Briana.
""Ya ya princes, dad datang" ucap ayah Briana.
ayah Briana kini telah sampai di kantin sekolah, ia langsung menghampiri briana.
"dad, dad keluarin dia yha dari sekolah namanya Silvia dad" ujar Briana menunjuk Silvia.
"loh tunggu deh" jawab ayah Briana melihat keadaan Briana dari atas sampai bawah.
__ADS_1
"yaampun bri kamu kenapa bisa sampai kayak gini?" tanya ayah Briana.
"dia dad yang buat aku kaya gini" jawab briana.
"heh kamu apain anak saya sampai seperti
ini?" tanya ayah briana.
"saya hanya memelintir tanggannya karena dia sudah menjambak rambut saya" jawab Silvia santai.
"kamu tuh yha!!! kamu gak takut heh saya keluarin dari sekolah ini" ucap ayah Briana.
"cepat kamu minta maaf sama anak saya dan saya akan pikirkan lagi apa kamu masih pantas sekolah disini" sambung ayah Briana.
bruk...
Silvia mengebrak meja karena sudah tidak lagi dapat menahan amarahnya.
"mohon maaf bapak kepala sekolah yang terhormat, sepertinya anda yang harus menyuruh anak bapak tersebut minta maaf" jawab Silvia sinis.
"anak saya tidak pernah salah, dan anak saya tidak pernah saya ajarkan untuk meminta maaf pada orang rendahan seperti kamu" jawab ayah Briana.
"ingin sekali rasanya tangan saya melayang menampar mulut kotor bapak itu"
"tapi saya masih punya rasa kemanusiaan dan untuk sekarang saya tidak ingin berdebat mending bapak membawa dia pergi sekarang juga" sambung Silvia.
"hey lo masih berani yha menjawab pertanyaan ayah gue" ucap Briana kesal.
"kamu siapa heh kamu itu hanya anak pungut yang beruntung bisa masuk sekolahan elit seperti sekarang ini" jawab ayah Briana.
"oh anak pungut ya..hmm...oke tunggu sebentar" ujar Silvia menelpon seseorang.
"hallo" ucap seseorang dari seberang sana.
"hallo, yah ada yang mau bicara nih sama ayah" ucap Silvia memberikan telepon tersebut pada ayah Briana.
ayah Briana pun mengambil hp tersebut dan segera berbincang dengan ayah silvia.
setelah selesai bicara hp tersebut langsung dikasih ke Silvia kembali.
"nak Silvia tolong Maafin kesalahan anak saya saya nak, tolong jangan keluarin saya dan anak saya dari sekolah ini" ucap ayah briana menangis.
"maaf pak tapi saya tidak ingin mengambil keputusan, sekarang silahkan bapak menghadap ayah saya" ucap Silvia berlalu pergi diikuti Clarisa dan Stania.
"dad kok Dady minta maaf sih kan aku gak salah?" tanya Briana kesal.
"diam kamu, apa kamu tidak bisa berfikir dulu sebelum bertindak dia itu anak pemilik sekolah ini" bentak ayah Briana.
__ADS_1
"haah..gak mungkin dad gadis kampungan kaya dia anak pemilik sekolah ini" jawab briana menganga tidak percaya.
"apa yang gak mungkin sekarang dad harus bicara apa sama ayahnya dia" ucap ayah Briana.
"dad nanti kalo dad dikeluarin aku mau beli baju di mall pakai apa donk" ujar briana.
"kamu itu ya masih aja mikirin soal baju-baju dan baju" ujar ayah Briana kesal dan segera pergi dari kantin.
------
Silvia kini berada diruang tamu, ia tadi ditelpon ayah nya disuruh pulang kerumah? entahlah mungkin membahas masalah yang disekolah.
"via apa yang kamu lakuin ke Briana?" tanya ayah Silvia menduduki dirinya di sofa.
"yah tadi dia tarik rambut aku pas lagi makan yaudah ku pelintir tanggannya" jawab silvia.
"kamu tidak bisa apa sekali saja tidak mencari masalah?" tanya ayah Silvia memijat pangkal hidungnya.
"tapikan dia yang mulai duluan yah" jawab Silvia.
"sudah sudah!! setelah lulus SMA nanti kamu akan ayah nikahi sama anak teman ayah" ucap ayah Silvia.
"hah!! yang bener aja yah jaman sekarang itu udah gak berlaku lagi dijodoh-jodohkan ini jaman udah berkembang yah" jawab Silvia cepat.
"siap bilang udah gak jaman lagi? banyak diluaran sana yang menjodohkan anaknya dan hasilnya bahagia aja kok" ucap ayah Silvia.
" yah aku kan masih mau kuliah kayak teman- teman ku yah" ucap Silvia kesal.
"kamu masih bisa kuliah setelah nikah nanti" jawab ayah Silvia.
"gak aku gak mau nikah apalagi harus mengurus rumah tangga diusia aku yang masih sangat muda" jawab Silvia dan pergi menuju kamarnya.
"mau kamu setuju atau tidak tetap akan ayah jodokan, atau kamu mau bikin sakit ayah kambuh lagi" ancam ayah Silvia setengah teriak.
jujur Silvia belum siap menikah apalagi harus mengurus rumah tangga, ia masih inggin bersekolah mengapai cita-citanya, apalagi diusianya yang masih dibilang sangat muda.
Silvia pernah mendengarkan sebuah cerita dimana membangun rumah tangga tidak semudah membangun rumah-rumahan. apalagi Silvia belum pernah bertemu dengan orang yang akan dijodohkan, satu perasaan yang ingin ia rasakan saat ini yaitu kecewa.
Silvia langsung menghempaskan tubuhnya keatas ranjang dan menutupi mata sembab nya dengan bantal.
"kenapa semuanya tidak ada yang mau mengerti perasaanku" ucap Silvia disela tangisnya.
"aku masih mau seperti teman-temanku yang menikmati dunia bebas tanpa memikirkan sebuah tanggung jawab" batin silvia.
"aku harus gimana, disatu sisi aku masih inggin bebas disisi lain aku tidak inggin penyakit ayah kambuh lagi"
akhirnya setelah lama menangis Silvia tertidur di kamarnya dengan keadaan mata yang sembab.
__ADS_1
-----
bersambung👀✌️