
Boy berada di dalam perjalanan menuju ke apartemennya, tentunya ada Alice yang berada di sampingnya. Sedangkan Clara, duduk di kursi belakang.
"Ck! Memuakkan!" gumam Clara kesal. Karena sejak tadi ia terus melihat Alice dan Boy bermesraan di depan matanya. Meski tidak dengan suaminya itu, yang hanya diam seakan tidak merespon apa yang Alice.
"Sayang, kenapa diam saja. Aku sejak tadi mengajakmu bicara," ucap Alice memeluk lengan Boy dan membenamkan kepalanya di pundak pria itu.
"Bisakah kau tidak mengganggu ku, Alice! Aku sedang fokus menyetir,'' Boy melirik ke arah spion yang berada di depan nya, bermaksud melihat wajah istrinya.
Dan benar saja mata mereka bertemu tanpa sadar, Clara segera memalingkan wajah. Sedangkan Boy hanya bisa menghela nafas kasar. Di satu sisi ada istrinya dan di sisi lain ada mantan tunangannya.
"Aku ingin mampir dulu ke sebuah restoran, aku lapar,'' ucap Alice pada Boy.
Sebentar lagi mereka segera sampai, namun ucapan Alice membuat Boy terpaksa menurutinya. Boy tau seperti apa watak Alice jika ia tidak menuruti ucapannya.
Kalau kalian mau makan, silahkan. Biar aku pulang naik taksi.'' Clara hendak turun namun ucapan Boy berhasil membuatnya tidak berkutik.
"Berani kau melangkahkan kaki dari sini, lihat saja akan aku patahkan." ancam Boy seketika membuat Clara terdiam mematung sambil menelan susah payah saliva nya.
"Kau tidak berhak mengaturku, Boy!' pekik Clara tak mau kalah.
"Tapi aku suami mu sekarang, Clara Alfred!" teriak Boy membuat kedua wanita itu sama-sama terkejut dan menatap sedikit ketakutan ke arahnya.
"Suami di atas kertas! Jangan lupakan itu!"
Raut wajah Boy berubah menjadi merah, terlihat sekali kalau ia sedang menahan amarahnya. Alice yang melihat itu tersenyum kecut, ia merasa ada sesuatu yang aneh. Tidak mungkin 'kan kalau Boy mulai menyukai Clara?
"Sudahlah, tidak perlu berdebat. Kita turun sekarang, sayang." Alice menarik tangan Boy.
"Aku akan menunggu di sini."
__ADS_1
"Kau juga harus ikut masuk!" perintah Boy dengan suara penuh penekanan.
"Kau gila? Lihat aku sekarang, aku masih mengenakan gaun pengantin!" alasan Clara cukup masuk akal. Ia memang segera mencari alasan agar bisa kabur.
"Dia benar, sayang. Kalau--"
"Tidak! Kau harus ikut masuk!" Boy memotong ucapan Alice dengan cepat. Lalu keluar dari dalam mobil dan menyeret Clara.
"Iya aku akan segera turun. Jadi berhentilah untuk--'' belum selesai Clara bicara, tubuhnya terasa melayang. Boy membopongnya masuk ke dalam restoran tanpa peduli dengan tatapan pengunjung lain yang menatap heran ke arah mereka.
Sedangkan Alice berjalan mengikuti mereka berdua dari belakang dengan raut wajah kesal dan mengumpat dalam hati. "Wanita itu memang istri nya, tapi aku wanita yang dicintai olehnya." lirih Alice mengepalkan tangannya dengan erat.
Mereka mulai menyantap makanan yang tersedia di depan meja. Clara sama sekali tidak menyentuhnya. Bahkan untuk sekedar melihatnya saja rasanya begitu mual.
"Makanlah, sejak tadi kau belum makan sama sekali." ucap Boy datar.
"Boy berikan udang ini pada istrimu. Dia pasti menyukainya. Menu ini adalah yang paling spesial di restoran ini," Alice mencoba menyela, ia mengusap lengan Boy penuh kelembutan. Berharap jika pria itu akan menyetujui ucapannya.
''Dia tidak makan udang."
"Apa?" Alice membisu.
Bagaimana bisa Boy tau apa yang Clara suka dan tidak? Sedangkan padanya saja pria itu sama sekali tidak seperti ini. Apakah karena selama ini dia dan Clara lebih sering bersama dibanding dirinya yang terlalu sibuk melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri?
Ditambah lagi melihat apa yang sedang Boy lakukan sekarang. Memotong kecil steak yang berada di piringnya lalu memberikannya pada Clara.
"Makanlah, aku tau kau sangat menyukai ini, bukan." Boy menukar piringnya dengan piring milik Clara.
"Sudah aku bilang, aku tidak--" melihat tatapan Boy yang begitu mengerikan membuat Clara terpaksa menuruti perintahnya. Apalagi Daddy dan Kakaknya sudah mencabut semua fasilitas yang mereka berikan untuknya tanpa terkecuali. Bisa dipastikan ia tidak akan bisa makan enak seperti ini nanti.
__ADS_1
"Aku ingin ke toilet sebentar, kalian bisa menungguku di mobil." Clara bangkit dari tempat duduknya, lalu mengangkat bagian bawah gaun pengantin yang membuatnya kesusahan untuk berjalan menuju ke kamar mandi.
Brugh!
"Aw..." seseorang menabrak Clara hingga tubuh wanita itu hampir terjatuh, namun berhasil di tangkap olehnya.
"Maafkan aku, Nona." suara serak namun terdengar sangat seksi terdengar, membuat Clara langsung mendongak.
"Kau...?" ucap mereka berdua bersamaan. Lalu sesaat kemudian mereka juga tertawa bersama, apalagi melihat posisi keduanya yang sangat intim saat ini.
"Maafkan aku," ucap Clara malu sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
"Tidak, akulah yang menabrak mu, Nona." jawab pria yang tak lain bernama Justin tersebut dengan senyuman.
"Clara, panggil saja aku seperti itu."
"Hmm baiklah, Clara. Apa yang sedang kau lakukan di sini dengan pakaian yang...?" Justin melihat penampilan Clara dari atas kebawah, "Apa kau sedang mengikuti kontes kecantikan atau modeling?"
"Ck! Kau ini," Clara memukul lengan Justin, "Aku baru saja menikah dengan seorang pria yang sama sekali tidak aku cintai." lanjut Clara duduk di kursi yang berada di dekat taman.
"Aku benar-benar kecewa," Justin ikut duduk di samping Clara.
Dahi Clara mengeryit bingung.
"Kau kecewa? Kenapa? Karena seharusnya aku yang paling kecewa disini." Clara terkekeh geli melihat keadaannya. Entah kenapa saat bersama dengan Justin keras kepala dan sikap sombongnya hilang untuk sesaat.
"Ya aku pikir jika kita bertemu untuk kedua kalinya, aku ingin mengajakmu berkencan," celetuk Justin tiba-tiba membuat Clara langsung menoleh ke arahnya.
"Apa? Kencan?"
__ADS_1