London One Night Stand

London One Night Stand
Chapter 40


__ADS_3

"Lepaskan!" pekik Clara mencoba melepaskan tangan Boy yang semakin kuat mencengkram lengannya. Ia bisa melihat kemarahan dan murka di kedua sorot matanya.


"Pulang sekarang!" Boy menarik Clara dan mengajaknya pergi dari sana.


"Aku tidak mau!" tolak Clara. Saat ini ia merasa malu, karena banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka. Ditambah lagi ada dokter Aldo, sahabatnya.


"Hai, bung. Apa kau tidak melihat istrimu sedang kesakitan?" dokter Aldo yang tadinya tidak ingin ikut campur, terpaksa menjadi orang ketiga di antara mereka.


Boy melirik tajam dokter Aldo, mata mereka saling bertemu dan menatap tajam penuh permusuhan. "Jangan ikut campur!"


"Clara sahabatku, jadi aku berhak--"


"Tapi dia istriku!" celetuk Boy membuat dokter Aldo mengalah dan mundur. Ia tau posisinya saat ini hanyalah orang luar.


Sedangkan Clara, ia mencoba meminta bantuan dokter Aldo. Namun pria itu menggeleng dan mengangguk pelan. Seraya berkata, semua akan baik-baik saja


Clara menghela nafas dan mengikuti kemauan Boy.


"Jadi ini alasanmu pergi dan belum pulang sampai sekarang?" Boy tidak peduli dengan ucapan dokter Aldo, ia menatap wajah Clara sendu. Ada banyak pertanyaan yang saat ini menganggu pikirannya.


Di tambah lagi, malam itu ia menemukan alat testpack kehamilan di tempat sampah. Boy menunggu Clara bicara jujur, tapi sampai sekarang wanita itu sama sekali tidak mau terbuka.


"Katakan, kenapa kau diam?"


"Sakit..."


Melihat Clara yang kesakitan membuat Boy reflek melepaskan cengkraman tangannya. Jujur saja ia tidak terima kalau Clara dekat dengan pria lain.


"Maafkan aku," lirih Boy.

__ADS_1


"Kau bilang apa? Aku tidak dengar." ujar Clara sengaja meledek Boy padahal jelas sekali kalau ia mendengar suaminya itu meminta maaf.


"Aku menemukan ini malam itu..." Boy merogoh ponselnya dan menunjukkan sebuah foto alat tes kehamilan dengan dua garis merah di sana.


"Apa ini milikmu?" tanya Boy membuat Clara gugup dengan wajah memucat seketika.


"Oh itu, sebenarnya..." kalimat Clara terhenti saat melihat Alice yang berjalan mendekat ke arah mereka.


"Katakan, Clara. Jangan membuatku penasaran." Boy memincingkan mata curiga. Sungguh jika memang benar Clara hamil, Boy pasti akan sangat bahagia.


"Boy!" teriak Alice yang langsung merangkul lengan Boy. "Ayah mencari mu, dia ingin bicara tentang hubungan kita." lirikan tajam terlihat di mata Alice dan tentu saja ia berikan untuk Clara.


"Aku tidak bisa, ada yang harus aku urus." tolak Boy menjauhkan tangan Alice. Namun wanita itu sangat keras kepala dan enggan melepasnya.


"Apa kau tega melihat ayahku seperti ini. Kau jangan lupa lima puluh persen saham yang tertanam di perusahaan mu adalah miliknya." bisik Alice membuat Boy diam.


Memang benar, ia sebagian aset perusahaan adalah milik keluarga Alice. Karena saat itu Boy tidak mau memintanya pada mom Sofie.


Clara memutar bola mata malas, lagi-lagi ia harus melihat drama kemesraan yang membuat hatinya panas.


"Sebaiknya selesaikan saja urusanmu dengannya. Setelah itu kau boleh mencari ku!" ucap Clara pergi meninggalkan mereka berdua dan keluar dari lobby rumah sakit.


"Oh astaga! Kenapa semua nya menjadi begitu rumit." gumam Boy dalam hati, ia terpaksa mengikuti kemauan Alice dan mengabaikan Clara.


Mereka berdua sudah berada di sebuah ruangan, dimana tuan Anderson sedang tertidur di atas ranjang dan melihat ke luar jendela.


"Kau sudah datang, Boy." tanya tuan Anderson. Ia tersenyum dan memintanya mendekat. "Kemari lah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."


Boy menghela nafas kasar lalu menuruti permintaan pria paruh baya itu.

__ADS_1


"Tentang hubungan kalian berdua, aku tidak akan lagi menekan mu."


"Ayah! Apa yang kau katakan!" teriak Alice tak terima.


Tuan Anderson mengangkat tangannya dan memberi kode agar Alice diam. "Maafkan kesalahanku dan juga Alice. Mulai sekarang kami tidak akan pernah menganggu kehidupanmu lagi."


Ucapan tuan Anderson membuat Alice melotot tak percaya, bagaimana bisa ayahnya malah berniat memisahkannya dengan Boy.


"Tidak, aku tidak mau. Aku hamil ayah, dam ini adalah anak Boy."


Blarrr!


Bagaikan tersambar petir di siang bolong, ucapan Alice berhasil membuat kedua pria itu tercengang.


"Hamil kau bilang?!" tanya Boy tak percaya.


Berbeda dengan tuan Anderson, ucapan Alice seperti sebuah pukulan baginya. Ia mengusap dadanya yang terasa sesak dan sakit.


"Ayah! Tuan!" pekik mereka bersamaan.


"Panggil dokter Boy, cepat!" teriak Alice, segera Boy berlari keluar dan memanggil dokter.


"Maafkan aku, Ayah hiks..."


"Ayah harap kau tidak sedang bermain-main dengan api, putriku." lirih tuan Anderson menghela nafas panjang dan memejamkan mata untuk terakhir kalinya.


Alice menggeleng, tentu saja ia tidak sedang bermain-main. Karena dirinya benar-benar hamil. Namun ia tidak tau siapa ayah bayinya karena saat ia bangun, yang dilihatnya pertama kali adalah Boy.


...----------------

__ADS_1



...


__ADS_2