
Pagi menjelang, Clara dan Boy sudah bersiap untuk pindah ke mansion utama. Karena hari ini mereka berdua memutuskan untuk menerima permintaan mom Sofia.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Boy meraih koper yang berada di tangan Clara. Wajahnya berubah dingin setelah mendengar kenyataan kalau Clara sedang hamil dan mengandung anak mereka. Ditambah lagi, Boy adalah orang ketiga yang tahu kalau istrinya sedang hamil setelah Justin.
Kecewa, tentu saja. Kenapa Clara tidak mengatakannya sejak awal. Bahkan semalam ia menunda hasrat bercintanya demi mendengar penjelasan Clara.
"Sayang, apa kau masih marah padaku?" Clara menarik lengan Boy, membalik tubuhnya agar mau menghadapnya. "Maafkan aku, selama ini aku sudah menyembunyikannya. Bukankah kau tau alasan kenapa aku melakukan itu."
Boy terdiam dan enggan mendengar penjelasan Clara yang menurutnya sudah terlambat. "Aku sedang tidak ingin membahasnya. Mommy sudah menunggu jadi cepatlah." Boy melangkahkan kaki keluar dari kamarnya dan mengambil beberapa barang penting miliknya.
Clara pasrah, ia tau dirinya salah. Bukankah seharusnya dia juga marah karena suaminya itu sudah menghamili wanita lain. "Dasar egois, dia jua sama. Bahkan mencintai dua orang wanita sekaligus." gerutu Clara dalam hati.
Mereka kini sudah berada di dalam perjalanan menuju mansion mom Sofia. Keduanya sama-sama tidak saling bicara dan hanya diam dengan pikiran masing-masing.
Mark yang melihat itu menggelengkan kepalanya. Baru saja semalam mereka saling memanggil sayang di hadapan mom Sofia kenapa sekarang sudah berubah lagi.
"Apa ada yang ingin kau katakan, Mark?" tanya Boy merasa aneh dengan tingkah Mark karena sejak tadi terus meliriknya.
"Hari ini nyonya ulang tahun. Apa anda tidak berniat untuk memberikan beliau kejutan. Tuan." ucap Mark sedikit gugup namun kembali untuk tetap tenang.
__ADS_1
"Ulang tahun? Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi. Sebelum sampai di sana aku ingin kita berhenti di mall terdekat dan membeli sesuatu untuk mommy." Clara tersenyum dan memikirkan hadiah apa yang akan dia beli untuk ibu mertuanya itu.
"Tidak perlu! Mom sudah memiliki semuanya, lagipula kita sudah membawa kado yang selama ini mom tunggu." celetuk Boy kemudian memalingkan wajahnya, ia baru sadar kalau bibirnya keceplosan.
"Kita bahkan tidak membawa apapun kecuali koper dan beberapa barang di bagasi." jelas Clara dengan sedikit rasa bersalah di hatinya.
Boy menahan tawanya, ingin rasanya ia menerjang wanita itu saat ini juga. Namun sayang sekali ada Mark yang sejak tadi mencuri pandang ke arah mereka diam-diam.
"Tuan, kalau anda ingin melakukannya silahkan saja. Saya akan menutup telinga dan pura-pura tidak mendengar apapun." Mark tersenyum puas karena sudah berhasil membuat Boy mati kutu di depan Clara.
"Dasar mesum!" ucap Clara.
"Gombal." ketus Clara melirik tajam Boy. Ya, keduanya saling menatap permusuhan tanpa ada yang mau mengalah.
"Tuan bukan gombal, Nyonya. Tapi kain lap." celetuk Mark lalu kembali fokus ke depan karena saat ini mobil mereka sudah masuk melewati gerbang mansion utama.
Mark kemudian turun dan membuka pintu mobil untuk keduanya bergantian.
"Silahkan turun Tuan, Nyonya..."
__ADS_1
Bugh!
"Arghh! Apa yang anda lakukan, Tuan. Kenapa anda memukul saya!" pekik Mark tidak terima saat Boy mendaratkan satu pukulan tepat di perutnya.
"Kau yang kain lap, bukan aku." setelah mengatakan itu Boy melangkahkan kakinya menyusul Clara yang sudah lebih dahulu masuk.
"Apa-apaan dia?" Mark terlihat seperti orang bodoh melihat punggung tuannya itu berlalu.
*****
"Pokoknya Mommy mau pesta pernikahan kalian segera dilakukan secepat mungkin." ucap mom Sofia tanpa mau di bantah. Ia benar-benar tidak menyangka jika kedua putranya yang harus menikah karena sebuah kesalahan. "Astaga, apa dosaku di masa lalu. Kenapa kalian bisa seperti ini." gumam mom Sofia sambil memijat kepalanya yang mulai terasa pusing.
"Maafkan aku, Mom." Justin berlutut dan meminta maaf. Ia meraih tangan mom Sofia dan menciumnya. Berharap jika wanita itu mau memaafkan semua kesalahannya. "Aku juga akan bertanggung jawab pada bayi itu, tapi tidak dengan menikahinya."
Ucapan Justin membuat mom Sofia murka dan memukul lengan pria itu berkali-kali. "Bagaimana bisa kau berpikir picik begitu, hah? Apa kau sengaja ingin membuatku mati sekarang?" teriak wanita itu kesal.
"Tapi Mom, aku sama sekali tidak mencintai Alice. Dia memang hamil anakku tapi bukan berati aku mau menikah dengannya." Justin mencoba mengelak.
"Dasar anak kurang asam!"
__ADS_1