
Clara dan Boy sudah berada di dalam mobil. Selama dalam perjalanan, mereka tidak banyak bicara. Apalagi Boy yang sejak tadi tidak menoleh ke arahnya sama sekali.
"Aku lapar," ucap Clara bermaksud mencairkan suasana. namun, lagi-lagi Boy mengacuhkannya. "Anak kita lapar, Boy." ulang Clara, dan kali ini Boy menoleh menatap wajah wanita yang sedang mengandung benihnya.
"Mau makan apa?" tanya Boy mengusap lembut perut Clara.
"Cumi lada hitam," celetuk Clara membuat Boy mengehentikan mobilnya tiba-tiba. "Apa aku salah bicara," gumamnya dalam hati.
Boy menghela nafas lalu meraih tangan Clara. "Di bagian mana bule sialan itu menyentuhmu. Ini atau ini, katakan," kata Boy meraih kedua tangan Clara dan menciumnya bergantian.
Clara terkekeh kecil melihat tingkah Boy yang begitu posesif padanya. "Apa kau cemburu? Bukahkan di luar sana wajar jika seorang pria mencium tangan serorang wanita?"
"Wajar jika kau berada di sana. Kita berada di jakarta, sayang. Apalagi dia mantan kekasihmu yang hampir melihat seluruh bagian tubuh mu dan--" Boy tidak melanjutkan kalimatnya. Ia tidak bisa menahan emosinya jika mengingat ucapan Nicholas beberapa saat lalu.
"Dan apa? Kau percaya semua kata-katanya?"
__ADS_1
Boy terdiam. Ia ingin sekali mempercayai istrinya. Namun di sisi lain, Boy juga tahu seperti apa Clara dulu sebelum menikah dengannya.
"Aku tidak menyangka, semudah ini kau percaya pada kebohongannya," Clara tersenyum kecut dan keluar dari sana. Wanita itu sangat kecewa. Padahal selama beberapa tahun terakhir, Boy lah yang selalau berada di sampingnya.
"Sayang, dengarkan aku!" Boy bermaksud menyusul Clara, namun wanita itu sudah lebih dulu naik taksi. "Argh! seharusnya aku percaya pada istriku, bukan bule pucat itu." gerutu Boy masuk mobil dan pergi dari sana.
.
.
.
"Honey, pertanyaanmu yang seperti kereta cepat itu membuat menantu kita bingung," dad Dav menyela, hingga akhirnya mendapat cubitan keras di bagian perutnya. "Honey, sakit..."
"Aku bertanya pada menantuku," mom Sofia berdiri dan memapah Clara agar mau duduk bersama mereka.
__ADS_1
"Mom, aku lelah. Bolehkan jika aku pergi ke kamar dan istirahat?" ujar Clara.
"Te-tentu sayang. Istirahatlah, kasihan cucu Mommy." jawab mom Sofia terbata. Ia merasa aneh dengan raut wajah Clara yang seakan tidak bersemangat. "Hati-hati sayang," teriaknya saat Clara menaiki anak tangga.
"Sepertinya kita harus menghancurkan lift itu," kata dad Dave menyela.
"Apa maksudmu?" mom Sofia kembali duduk di samping dad Dave, mengambil ponselnya untuk menghubungi Boy.
"Menantu kita tidak mau memakainya jadi untuk apa," ucap dad Dave dengan begitu entengnya. "Apa tidak sebaiknya kita membelikan mereka hadiah rumah untuk tinggal?"
"No! Aku ingin mansion kita ramai dengan suara tangisan bayi, jadi jangan pernah berpikir untuk menyuruh mereka pergi dari sini." ketus mom Sofia memalingkan wajahnya. Ucapan suaminya membuatnya kesal. Susah payah ia mengajak Boy kembali setelah sekian lama, pria itu malah ingin memisahkan mereka lagi.
Sungguh, itu adalah sesuatu yang akan dia tentang. "Urus saja putramu, Justin."
"Kau bilang apa, Honey? Bukankah Justin juga putramu. Dia putra kita," dad Dave meraih pinggang mom Sofia mendekat. "Ingat, kaulah yang selama ini memanjakannya."
__ADS_1
Mom Sofia menghela nafas kasar, ia sedang tidak ingin berdebat dan memilih menemani menantunya yang terlihat sedih.
"Haish, dimana-mana pria selalu saja salah."