
"Jadi, Alice bukan hamil anak Boy?" tanya Clara yang tanpa sengaja mendengar semua percakapan mom Sofia dan juga Justin.
Mereka berdua menoleh saat tahu kalau Boy dan Clara sudah berdiri tidak jauh dari mereka. Justin beranjak dan menghapus air matanya yang sempat menetes keluar karena sudah membuat mom Sofia menangis.
"Clara? Sejak kapan kau berada di sini?" Justin mendekati Clara, namun belum sempat ia melangkahkan kakinya mom Sofia menarik tangannya.
"Jangan macam-macam, dia istri adikmu. Mau mom potong burung mu itu supaya tidak bisa terbang lagi, hum?!" bisik mom Sofia lirih, membuat Justin bergidik ngeri membayangkan jika itu benar-benar terjadi.
"Tenang saja Mom, aku tidak akan macam-macam hanya satu macam. Lagipula mereka berdua kan tidak saling mencintai. Jadi aku masih bisa--" belum selesai Justin bicara, mom Sofia sudah menarik telinganya hingga memerah karena menahan sakit.
"Dasar anak nakal! Berani kau mendekati menantuku lihat saja, benar-benar Mom babat habis." teriak mom Sofia membuat Clara dan Boy kaget dan saling menatap. Mereka sama-sama bingung dan penasaran apa yang sedang keduanya bicarakan.
"Sekarang kau tau bukan, seperti apa hubunganku dengan Alice." ujar Boy meraih pinggang Clara. "Malam ini, ku pastikan kau tidak akan bisa berjalan, Clara Alfred."
Clara menelan ludah kasar mendengar ucapan Boy. Semalam kalau bukan karena ia jujur mengenai kehamilannya, mungkin pagi ini Clara tidak bisa berjalan dengan benar. Membayangkan milik Boy saja sudah membuatnya panas dingin.
"Mom, bisakah kita bicara sebentar." Clara menepis tangan Boy dan berjalan ke arah mom Sofia.
"Tentu saja sayang." mom Sofia menarik tangan Clara dan mengajak menantunya itu masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Sedangkan Boy lebih memilih duduk lalu mengeluarkan laptopnya, namun sebelum itu ia menyuruh pelayan untuk membawa koper dan barang-barangnya ke atas.
"Kenapa kau membawa Clara kemari? Apa kau berniat tinggal di sini selamanya?" tanya Justin yang juga ikut duduk tidak jauh dari Boy.
Boy tak menghiraukan ucapan Justin dan tetap fokus pada pekerjaannya, menggerakkan jari-jarinya dengan lincah.
"Apa kau tidak takut kalau aku akan merebut Clara darimu?"
"Itu tidak akan pernah terjadi." jawab Boy santai tanpa mau menatap Justin.
"Percaya diri sekali." ejek Justin. "Tapi sepertinya Clara tertarik padaku. Yah, mungkin dua atau tiga hari aku bisa menaklukan hatinya. Apalagi dia akan tinggal selamanya. Semakin mudah bagiku untuk--"
"Kau tidak berniat untuk jadi pebinor, bukan? Menggelikan sekali, seperti tidak ada perempuan lain saja." ucapan Boy membuat tenggorokan Justin tercekat. Ingin rasanya Justin memukul wajah adiknya itu, namun ia tahan.
Boy mengepalkan tangannya erat dan mencoba untuk rileks. "Lakukan saja kalau kau bisa, karena aku dan Clara tidak akan pernah terpisahkan."
"Kita lihat saja nanti." Justin beranjak dari tempat duduknya dan berniat pergi dari sana.
"Karena saat ini bening kecebong ku sudah tumbuh subur di dalam sana." celetuk boy penuh percaya diri dan mengklaim bayi mereka anak kecebong.
__ADS_1
Sontak Clara yang baru saja keluar dari kamar mom Sofia mencubit lengannya nya.
"Aww sakit, sayang. Apa yang kau lakukan."
"Kau bilang apa tadi, benih kecebong? Jadi kau anggap bayimu ini katak!" teriak Clara kesal. Ia begitu marah, emosinya meluap-luap.
"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk..."
"Malam ini, tidur di luar!" bentak Clara lalu berlalu dari sana meninggalkan mereka bertiga.
Boy langsung berlari mengejarnya, berbeda dengan mom Sofia yang tersenyum bahagia melihat tingkah mereka berdua. Di tambah lagi Clara baru mengatakan kalau ia akan segera memili cucu.
"Lihat, kau pasti juga bisa bahagia seperti mereka. Cobalah move on dan lupakan dia." ujar mom Sofia menasehati Justin yang sejak tadi menatap tak suka pada kedua pasangan itu.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan melupakan Clara mom."
"Terserah. Mom cuma mau kau menikahi Alice, itu saja!"
"Mom..."
__ADS_1
"Pokoknya besok kalian harus menikah, Justin!" teriak mom Sofia menutup pintu kamarnya dengan kasar.
Justin mengusap wajahnya frustasi, ia mengambil kunci mobil lalu menuju ke garasi. "Sepertinya aku harus menenangkan diri." gumamnya dalam hati.