
Brakk!
Terdengar suara tabrakan yang begitu keras, dimana sebuah mobil box putih menabrak pembatas jalan karena menghindari seorang wanita yang hendak menyebrang.
"Lihat, wanita itu malang sekali. Cepat bantu dia." teriak beberapa pria mendekati wanita yang tergeletak tak sadarkan diri di tengah jalan. "Bawa dia ke rumah sakit cepat!" mohon nya pada yang lain.
Namun, tidak seseorang pun yang berani menyentuh wanita itu. Mereka membiarkannya begitu saja dan menunggu pihak yang berwenang datang mengurusnya.
"Tuan, sepertinya telah terjadi kecelakaan." Mark menepuk punggung Justin yang sejak tadi melamun memikirkan Alice. Rasa bersalahnya muncul ketika beberapa orang suruhannya melapor, jika bayi yang dikandung Alice adalah darah dagingnya.
Ditambah lagi, setelah ia mengetahui jenis kelamin bayi itu adalah laki-laki. Justin begitu bahagia. Impiannya memiliki seorang putra akan segera terwujud. Tapi, disisi lain ia gengsi untuk mengungkapkan perasaannya. Ia belum bisa menerima Alice sepenuhnya sebagai seroang istri.
"Yang saya dengan korbannya seorang wanita muda yang sedang hamil dan..."
"Apa kau bilang? Wanita?!" teriak Justin pada Mark sembari berlari semakin mendekat ke arah kerumunan.
Deg!
Seorang wanita tergeletak di jalanan. Wajahnya berlumuran darah dan susah untuk di kenali. Pakaian yang ia kenakan mirip sekali dengan yang Alice pakai saat menemuinya tadi di kantor.
__ADS_1
"Tidak, ini tidak mungkin!" gumam Justin dalam hatinya. "Menyingkir kalian dan jangan menghalangi jalanku!" Justin begitu terpukul dan merasa bersalah, berdoa semoga saja wanita itu bukan Alice, istrinya.
"Pria ini kenapa begitu aneh, marah-marah tidak jelas. Apa dia suaminya?" mereka saling berbisik namun terdengar di telinga Justin.
"Tega sekali membiarkan istrinya berjalan sendirian, hingga membuat nyawanya melayang seperti ini. Suami macam apa dia," ejek ibu-ibu yang lain.
Justin hanya bisa terdiam dan mengguncangkan tubuh Alice berkali-kali, agar wanita itu bangun.
"Aku melihatnya menangis saat keluar dari dalam sana, lalu tak berapa lama sebuah mobil box dengan kecepatan tinggi datang menghampirinya. Sayang sekali, dia tidak bisa menghindarinya." kata seorang pria yang melihat semua kejadian itu.
"Usir mereka semua, Mark!"
Justin merebahkan kepala Alice yang sudah berlumuran darah di pahanya. Ia menepuk wajahnya, berharap jika wanita itu bangun dan membuka mata, tersenyum padanya seperti biasa.
Jalanan yang awalnya sepi menjadi ramai, beruntung saat ini tidak banyak kendaraan yang melintas lewat sana.
"Hei, bagun lah. Ini aku Justin, suamimu." lirih Justin, ia mengusap pipi Alice yang mulai memucat.
"Alice, jangan bercanda! Ini tidak lucu..." tanpa sadar, air mata Justin menetes dan jatuh di pelipis Alice. Ia menyesal, karena selama ini sudah bersikap tak adil padanya. Mendiamkan istrinya dan selalu menganggap kehadiran mereka tidak pernah ada artinya.
__ADS_1
"Alice Anderson! Kau harus bangun sekarang! Atau aku tidak akan pernah memaafkan mu!" mau sekuat apapun Justin berteriak memanggil namanya. Wanita itu sudah tak lagi bernyawa, hembusan nafasnya sudah tak terlihat. Bahkan tubuhnya semakin dingin dan memucat.
Mark mendekati Justin dan menepuk pundaknya perlahan.
"Tuan, foto ini saya temukan di paper bag yang nyonya bawa saat menemui anda di ruangan tadi." Mark memberikan sebuah foto hasil Usg milik Alice.
Ya, dari sana Justin tau kalau Alice ingin memberinya sebuah kejutan. Namun, saat sampai di dalam, justru Alice lah yang terkejut melihat dirinya bersama wanita lain.
Justin meremat foto tersebut dan meneriakkan nama Alice berulang kali.
"Maafkan aku, maaf! Kumohon jangan tinggalkan aku Alice, kau harus tetap hidup. Aku janji, akan berusaha menerima dan mencintaimu." bisik Justin ke telinga Alice. "Jadi kumohon, bangunlah!" Ia mengecup kening wanita itu berulang kali.
"Arghhh!"
"Tuan, anda harus ikhlas." Mark mencoba menenangkan Justin. "Ambulan sudah tiba, biarkan mereka membawa nyonya."
"Tidak! Aku tidak akan mengijinkan mereka membawa istri dan bayiku!" Justin memberontak dan berteriak seperti orang yang tidak waras.
_______________
__ADS_1
Maaf kakak. Aku selesaian part Justin dulu ya, hehe... Buat selingan. Semoga nggak bosan. Makasih