
Pagi menjelang, Boy sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Ia akhirnya menerima tawaran Darren yang memintanya untuk bekerja di kantor milik Jean.
Bukan tanpa alasan, itu juga karena Clara semalaman meminta Boy menerimanya daripada ia harus bekerja di sebuah cafe milik sahabatnya.
"Pakaikan dasi ini," perintah Boy pada Clara.
Clara mendengus kesal, pasalnya pagi-pagi sekali ia dipaksa bangun oleh Boy untuk menyiapkan sarapan pagi dan juga memandikannya.
"Tau begini aku tidak menyetujui dan membiarkannya kerja di cafe kumuh itu," gerutu Clara.
Boy yang mendengarnya hanya bisa menggeleng. Sampai kapanpun ternyata wanita yang ada di depannya ini tidak akan pernah berubah.
"Pakaikan yang benar, bisa tidak?!"
"Iya. tentu saja aku bisa," jawab Clara dengan dengan wajah yang di tekuk. "Bisakah kau sedikit menunduk! Badanmu tinggi sekali seperti tiang listrik." lagi-lagi Clara mengomel dan mungkin ini akan menjadi rutinitasnya sekarang.
Selesai memakaikan dasi, Boy langsung membopong Clara tanpa persetujuannya, membuat Clara memekik kaget.
"Turunkan aku, Boy!"
"Diam dan jangan berisik. Aku bisa terlambat di hari pertamaku bekerja karena ulah mu!"
Memang benar, waktu menunjukkan hampir pukul tujuh pagi. Dan Boy masih berada di rumah.
"Suapi aku." pinta Boy sambil mengancingkan lengan bajunya.
"Apa?"
"Clara Alfred! Pendengaran mu masih normal, bukan. Jadi aku tidak mau mengulang kalimat untuk kedua kalinya. Cepat lakukan atau aku akanmph--" belum selesai Boy bicara, Clara sudah membungkam bibir pria itu. Ia memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
Boy melotot tajam, sedangkan Clara hanya tersenyum mengejek melihatnya.
"Uhuk...asin sekali." gumam Boy dalam hati.
__ADS_1
Pfthh!
Clara menahan tawa mati-matian melihat wajah Boy yang seakan menahan sesuatu. Sudah tau dirinya sama sekali tidak bisa memasak. Lalu kenapa ia menyuruhnya melakukan itu.
"Bagaimana rasanya, suamiku?" tanya Clara sedikit menekan ucapannya.
Boy terpaksa menelannya, ia tahu kalau Clara tidak bisa memasak selama ini. Namun, ia terpaksa meminta wanita itu melakukannya supaya Clara belajar mejadi seorang istri.
"Sangat nikmat. Terima kasih istriku." ucap Boy datar lalu beranjak dari duduknya.
Clara pikir Boy akan marah dan mengajaknya bertengkar lalu mengajaknya berpisah. Sayang sekali, tebakannya salah.
"Aku akan cepat pulang jadi jangan pergi kemanapun," Boy mencium kening Clara sebelum benar-benar pergi dari sana.
"Haish!Rencana ku gagal hari ini, tapi lihat saja besok. Aku pastikan kau akan memintaku meninggalkanmu!" seringai licik terukir di bibir Clara.
***
"Selamat datang tuan Boy. Semoga kita bisa bekerja sama selama anda berada di sini." ucap Nayla yang tak lain adalah sekertaris kepercayaan Jean.
"Ini adalah ruangan kerja anda, jika anda membutuhkan sesuatu bisa panggil saya." Nayla menunjukkan apa saja yang harus dikerjakan oleh Boy dan apa yang tidak.
"Aku mengerti, lalu apa jadwalku hari ini." tanya Boy. Pria itu melepas kemejanya dan duduk.
"Ada beberapa berkas yang harus anda pelajari dan ditanda tangani. Silahkan di baca. Lalu pukul sebelas ada pertemuan dengan pemilik perusahaan Anderson."
Boy menghentikan gerakan tangannya mendengar nama Anderson. "Lanjutkan."
"Nona Alice Anderson sudah berad di bawah sejak lima belas menit yang lalu." Nayla kembali melanjutkan kalimatnya.
Boy menghela nafas panjang. Ia pikir setelah mengakhiri hubungan mereka beberapa hari yang lalu, wanita itu akan berhenti mengejarnya.
"Suruh dia masuk."
__ADS_1
Nayla mengangguk. "Kalau begitu saya permisi, Tuan."
Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu yang membuat Boy menghentikan kegiatannya.
Pria itu mendongak berbarengan dengan pintu yang terbuka, masuklah seorang wanita dengan pakaian seksi dan memperlihatkan hampir seluruh lekuk tubuhnya.
"Selama siang, sayang." Alice tersenyum dan langsung duduk di pangkuan Boy.
"Alice, ini kantor. Bisakah kau bersikap sopan saat--" ucapan Boy terhenti saat Alice membungkamnya dengan jari telunjuknya.
"Malam itu kau meninggalkanku, dan sekarang kau mengusirku. Apa aku sudah tidak berarti lagi untukmu, Boy!"
Seketika Boy terdiam melihat wanita yang masih sangat ia cintai menangis dengan tubuh bergetar. Baru kali ini Alice menunjukkan sisi rapuhnya.
"Maafkan aku," Boy mengusap air mata Alice dan memeluk wanitanya.
Sungguh, ia tidak bermaksud ingin menyakiti wanita berhati lembut itu. Tapi, Boy juga tidak mau mengingkari janji suci pernikahan yang sudah ia ucapkan. Posisinya menjadi serba salah saat ini.
"Aku akan menunggumu, sampai kalian bercerai. Selama itu, aku ingin kau lebih memprioritaskan aku di banding wanita itu."
Boy mengangguk, bagaimanapun Alice adalah satu-satunya wanita yang ada di dalam hatinya saat ini. Melihatnya menangis, membuat hatinya hancur.
Alice mengusap bibir Boy dengan lembut, lalu mendekatkan wajahnya pada pria itu. Hingga saat ini tidak ada jarak di antara keduanya.
"Boy, aku ingin meminta ijin mu untuk--"
Reflek Boy mendorong Alice hingga wanita itu jatuh ke lantai.
"Boy!" pekik Alice.
"Maafkan saya, Tuan. Saya sudah mengatakan pada Nyonya kalau anda sedang ada tamu penting." Nayla menunduk, ia merasa bersalah karena membiarkan Clara masuk tanpa ijin.
"Ck! Sepertinya lain kali aku tidak perlu datang kesini. Pantas saja kau tidak mengangkat panggilan dariku. Menggelikan sekali." Clara menggeleng pelan dan melangkahkan kaki dari sana.
__ADS_1
"Berani kau melangkah keluar, aku tidak akan pernah memaafkan mu, Boy!" teriak Alice.
Seketika Boy berhenti dan berbalik untuk membantu Alice berdiri. "Maafkan aku."