London One Night Stand

London One Night Stand
Chapter 51


__ADS_3

"Sayang, peluk..." ucap Boy manja pada Clara yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Sejak tadi pria itu merengek padanya seperti seorang bayi.


"Boy, bisakah kau bersikap dingin seperti biasanya. Aku geli melihatmu yang seperti ini. Rasanya masih aneh." tolak Clara lalu mendorong mundur dada bidang Boy. "Ingat kau sebentar lagi jadi Daddy, jangan--"


Cup!


Satu kecupan kembali mendarat di bibir Clara, dan ini bukan yang pertama tapi yang ke sekian kalinya. Perbuatan Boy yang tiba-tiba itu membuat bibir Clara sedikit bengkak karena sesapan dan gigitan yang tak biasa.


"Boy!" sentak Clara membuat pria itu langsung menjaga jarak aman. "Lihat ini, kau sudah memberikan banyak tanda di leher, sekarang bibir. Sebenarnya apa yang mau kau tunjukkan, hum? Aku harus pergi ke kantor mengurus surat pengunduran diriku."


"Tidak boleh! Kalau kau mengundurkan diri dari sana, aku tidak mau menerima jabatan itu." seketika raut wajah Boy kembali datar. Entah kemana sikap manjanya tadi. "Kau harus menjadi sekertaris pribadiku."


"Sekertaris baru sudah ada, Boy. Aku tidak mau jadi bahan gosip mereka lagi." Clara menuju walk in closed untuk mengambil pakaian kerjanya. "Atau kau bisa mencari sekertaris baru."


Ucapan Clara membuat Boy geram. Saat bersama Justin saja dia tidak menolak sama sekali menjadi sekertaris nya, kenapa saat dirinya yang meminta ia malah ingin mengundurkan diri.


"Baiklah, aku akan mencari sekertaris wanita yang seksi, cantik dan memiliki mphh..." kali ini Clara yang membungkam bibir Boy dengan bibirnya dengan kasar. Hingga terjadilah saling membalas ciuman yang tidak bisa terelakkan dan berakhir di atas ranjang siang ini.


*****

__ADS_1


"Jadi, Daddy memecat ku?" tanya Justin dengan raut wajah kecewa mengetahui posisinya saat ini akan di gantikan oleh Boy. "Memuakkan sekali, setelah bocah itu kembali semua orang mengacuhkan aku." gumam Justin lirih.


"Daddy tidak bilang begitu, hanya saja Daddy mau kau mengurus cabang perusahaan yang berada di Bandung." jelas dad Dave, kinerja Justin beberapa bulan ini sangat buruk. Membuat keuangan perusahaan melorot drastis.


"Tidak mau, Daddy sama saja ingin aku memulai dari nol!" tolak Justin beranjak dari duduknya.


"Daddy belum selesai bicara, Justin!"


"Ck! Sudahlah, sekuat apapun aku mengalah, Daddy akan tetap memecat ku dan memilih dia!" ucap Justin saat melihat Boy sudah berdiri di antara mereka, dan dipastikan ia mendengar semuanya.


"Tunggu! Kau masih bisa di perusahaan utama dan aku yang akan mengurus cabang." sela Boy karena sejak awal ia sama sekali tidak menginginkan posisi itu.


"Tidak perlu. Aku sudah tidak tertarik." setelah mengatakan itu Justin menuju ke kamarnya untuk bersiap pergi ke Bandung.


Justin tak menghiraukan ucapan Alice. "Justin, aku bertanya padamu. Apa kau pikir aku ini patung tak bernyawa? Aku istrimu!" teriak Alice, sontak membuat Justin mendongak dan menatapnya penuh kebencian.


"Jangan lupa, kalau kita menikah karena jebakan mu yang menjijikan itu."


"Tapi kau menikmatinya malam itu! Kita sama-sama merasakan--" Justin menjepit kuat dagu Alice dengan tangannya.

__ADS_1


"Aku muak melihat wajahmu! Berhentilah bersikap seperti wanita murahan. Karena sampai kapanpun kau tidak akan pernah mendapatkan tempat di hatiku!" Justin menyeret kopernya dan keluar dari sana meninggalkan Alice.


"Mau kemana?" tanya mom Sofia yang tiba-tiba sudah berada di depan pintu kamar, menghalangi langkah Justin.


"Tanyakan saja pada tua bangka itu, Mom." jawab Justin meminta mom Sofia untuk menyingkir, karena ia harus pergi sekarang.


"Lalu kau mau meninggalkan istrimu di malam pertama kalian?"


"Kumohon, jangan mulai lagi Mom. Aku pergi untuk urusan pekerjaan, bukan liburan." Justin tidak bisa bicara kasar pada mom Sofia, karena wanita itulah yang selalu mengerti keadaanya selama ini.


"Ajak dia!"


"Apa? Tidak perlu, biarkan dia tetap tinggal."


"Ajak dia Justin!" ujar mom Sofia penuh penekanan. Akhirnya Justin mengalah dan mengajak Alice pergi bersamanya.


"Bereskan barang-barang mu, aku akan menunggu dibawah." ucap Justin melangkah pergi dari sana.


Alice tersenyum menatap mom Sofia dan berlari memeluknya. "Thanks, Mom. Dan maaf karena sudah membuatmu kecewa."

__ADS_1


"Mom tau kau sudah lama mencintainya, meski caramu salah untuk mendapatkannya." mom Sofia mengusap punggung Alice, meminta agar menantunya tidak bersedih lagi. "Semua sudah terlanjur. Rebut lah hatinya."


Alice mengangguk dan mengusap air matanya. "Aku tidak akan mengecewakanmu lagi."


__ADS_2