
"Jangan pergi, tetaplah di sini..." lirih Clara menarik ujung pakaian Boy. Rasanya ingin sekali saat ini ia menghilang karena malu.
Untuk pertama kalinya, selama bersama dengan Boy baru kali ini menahan pria itu agar tidak pergi. Biasanya dirinya lah yang slalu di tahan oleh seorang pria.
Boy menghentikan langkahnya, ia tersenyum tipis. Bahkan sangat tipis hingga Clara tidak bisa melihat itu. "Kenapa? Bukankah tadi kau yang memintaku untuk pergi, dan sekarang kau menahan ku agar tetap tinggal?"
Clara mematung, ia tidak tau harus bicara apa sekarang. Membayangkan dirinya merayu seorang pria membuatnya ingin muntah.
"Katakan sesuatu agar aku tidak pergi." ujar Boy menarik dagu Clara agar mau menatap matanya.
"Mengatakan apa? Kau tau bukan kalau sejak dulu aku tidak..."
"Sayang, jangan pergi." celetuk Boy tiba-tiba membuat Clara melotot tajam ke arahnya. Panggilan sayang yang Clara ucapkan tadi saat ada mom Sofia saja membuatnya malu setengah mati. Dan saat ini Boy malah meminta dirinya mengucapkan itu.
"Tidak." ceplos Clara.
"Oh, baiklah kalau begitu. Aku pergi sekarang." Boy berbalik dan hendak membuka pintu menuju ke basement.
Clara menarik nafas panjang dan menghembuskan nya.
"S-sayang bisakah kau tinggal? Aku mau malam ini kita tidur bersama dan--" belum selesai Clara bicara tangan kekar Boy menarik pinggangnya semakin dekat, hingga tubuhnya menabrak dada bidang milik Boy.
"Aku memang tidak akan pergi kemanapun." Boy terkekeh melihat Clara mendelik ke arahnya.
"Bukankah tadi kau mau pergi?" tanya Clara bingung.
"Tidak, aku hanya ingin mengunci pintu ini. Saat mom pulang aku lupa menguncinya." seringai tipis terukir di bibir Boy. Ia puas karena sudah berhasil menjahili istrinya.
__ADS_1
Lihat saja, saat ini pipinya merah merona karena malu.
"Dasar menyebalkan!" Clara memukul dada bidang Boy. "Kalau begitu lepaskan. Aku mau kembali tidur." bukannya melepaskan, Boy semakin erat menarik pinggang Clara dan memeluk tubuhnya.
"Malam ini, aku menginginkan mu." bisik Boy lirih tepat di telinga Clara.
Clara yang mendengar itu langsung memalingkan wajahnya. Jantungnya berdebar kencang hanya karena suara Boy yang terdengar seksi dan menggoda. Ia bisa merasakan hembusan nafas Boy menerpa rambutnya. Entah kenapa Clara juga seakan menginginkannya.
"Kalau kau belum siapa kau akan menunggu." ucap Boy tidak mau membuat Clara merasa tertekan karena permintaanya yang aneh.
"Tunggu, aku bahkan belum menjawabnya."
"So..."
Wanita itu mengangguk pelan, menandakan ia tidak menolak permintaan Boy.
"Shitt! Ekspresi macam apa itu! Menggemaskan sekali!" gumam Boy dalam hati, ia langsung membopong Clara menuju ke kamar dan merebahkan perlahan tubuh istrinya di ranjang king size miliknya.
Pria itu melepas satu persatu pakaiannya hingga terlihatlah otot kekar dan deretan roti sobek miliknya. Clara menelan ludahnya kasar saat matanya melihat ke bawah. Besar dan panjang dengan ukuran yang tak biasa.
"B-bisakah kau lakukan dengan perlahan." ujar Clara.
Boy menarik ke atas gaun yang di pakai clara dan mendaratkan ciuman lembut di perut datarnya. Membuat seluruh tubuh Clara meremang seketika. "Aku tidak janji bisa melakukannya dengan perlahan. Sudah lama aku menahannya, jadi jangan salahkan aku kalau malam ini kau tidak akan bisa--"
"Aku hamil..." meski mengatakan dengan suara lirih, Boy bisa mendengar jelas apa yang Clara ucapkan.
"What? Hamil?"
__ADS_1
******
Di tempat berbeda, di sebuah Club malam. Terlihat seorang pria sedang duduk dan menikmati segelas wine. Wajahnya terlihat murung dan frustasi.
"Brngsek! Bagaimana bisa dia hamil. Padahal aku hanya melakukannya sekali." Justin meletakkan gelas berisi wine di atas meja lalu membenamkan kepalanya di sana.
"Sudah saya katakan, Tuan harus berhati-hati saat melakukannya. Apalagi saat itu kalian berdua sama-sama dalam keadaan mabuk." ujar Mark yang tiba-tiba sudah duduk di samping Justin.
"Berhentilah bicara kalau kau tidak memiliki solusi untuk masalahku!"
"Kenapa anda pusing memikirkan itu, toh jalan keluarnya sudah ada." ucapan Mark membuat Justin mendongak dan menatap serius ke arahnya.
"Katakan apa solusinya?"
"Nikahi saja nona Alice." Mark menoleh dan mengatakan itu tanpa ada beban sedikitpun. Ia hanya ingin kedua pria yang selama ini membuatnya hampir gila, segera menemukan pawangnya.
"Apa kau tidak waras, Aku tidak mencintainya." memang benar, Justin tidan mencintai Alice selama ini. Sejak lama, ia sudah menaruh hati pada Clara. Namun saat tau wanita itu pergi ke luar negeri ia mundur karena mom Sofia memintanya untuk tinggal.
"Tapi di dalam perut nona Alice ada benih kecebong anda, Tuan. Mau tidak mau anda harus bertanggung jawab. Bersikaplah gentle seperti yang dilakukan oleh adik anda." Mark tidak peduli lagi kalau ucapannya saat ini akan membuat Justin marah dan murka padanya.
"Kau ini benar-benar..." Justin tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat ponselnya bergetar. "Alice, tumben sekali dia menghubungiku, tidak penting!" Ia tidak menghiraukan panggilan tersebut dan mematikannya sepihak.
"Tuan!" teriak Mark yang baru saja berniat pergi, kembali lagi. "Nona Alice berniat bunuh diri."
"Oh bunuh diri, biarkan saja." jawabnya santai namun kembali mengingat ucapan Mark.
"Hah? Bunuh diri?"
__ADS_1