London One Night Stand

London One Night Stand
Chapter 56


__ADS_3

Boy yang tidak terima istrinya di sentuh oleh Nicholas, kembali melayangkan pukulan ke wajah pria itu. Terjadilah perkelahian yang membuat keduanya harus di lerai oleh petugas keamanan.


"Memalukan sekali." ucap seorang pria yang tak lain adalah Darren. "Kalian bukan anak kecil lagi! Jadi berhentilah melakukan hal yang seharusnya tidak kalian lakukan."


"Kakak..." ujar Clara hendak memeluk Darren, namun lagi-lagi harus ia tahan karena penyakit anehnya itu.


"Kau baik-baik saja, bukan?" tanya Darren. Meski terlihat ketus sebenarnya ia juga merindukan adiknya itu. Ditambah lagi badannya yang bertambah kurus itu, membuat Darren tidak tega melihatnya.


"Ikutlah pulang bersamaku, Jean baru sama melahirkan putra ketiga kami." kata Darren hendak mengajak Clara pergi namun di tahan oleh Boy.


"Clara akan pulang bersamaku!" Boy menarik tangan Clara dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Biar aku saja yang--"


"Kau ingin melindungi Clara dengan cara seperti ini? Bahkan membuat keributan besar di rumah sakit. Seharusnya kau bisa menahan amarahmu!" sentak Darren membuat Boy terdiam. Memang benar seharusnya dia tidak berkelahi apalagi di rumah sakit. Banyak pasang mata yang saat ini menatap ke arah mereka.


"Maafkan aku..." ucap Boy menggenggam erat tangan Clara.


"Berhentilah meminta maaf. Dokter Aldo ingin bicara. Tapi sebelum itu kita obati dulu lukamu." Clara mengusap sudut bibir Boy yang sedikit berdarah.


"Hmm, baiklah."

__ADS_1


Mereka berdua masuk ke dalam ruangan pemeriksaan tanpa mempedulikan Darren dan juga Nicholas, yang saat ini saling menatap penuh permusuhan.


"Jika kau berani menyentuh adikku, aku tidak akan segan-segan menghabisi mu. Bahkan menghancurkan bisnis keluargamu, sampai ke akar-akarnya," bisik Darren lirih namun membuat Nicholas merinding. "Dan ku pastikan kau tidak akan pernah melihat dunia lagi." Ia tau siapa Darren, mafia kejam berdarah dingin yang tidak pandang bulu saat seseorang berani membuat masalah dengannya.


Nicholas tersenyum masam, ia sudah merencanakan semuanya dengan matang. Mana mungkin akan menyerah begitu saja karena sebuah ancaman yang belum tentu akan terjadi.


"Tapi sayang nya aku tidak tertarik pada wanita hamil. Namun, jika itu Clara mungkin akan aku pertimbangkan," Nicholas membalas ucapan Darren tak kalah sengit. "Jangan lupa, perusahaan kalian membutuhkan investor sepertiku. Jadi wajar saja jika aku menukar dengan sesuatu yang sangat aku inginkan." setelah mengucapkan itu, Nicholas pergi dari sana, ia tersenyum puas karena sudah membuat seorang Darren diam tak berkutik sama sekali.


"Dia benar-benar memuakkan," Darren menghela nafas kasar. "Mark, tutup semua jalur akses keluar. Jangan sampai Nicholas pergi tanpa sepengetahuanku. dan terus awasi dia." perintahnya pada Zayn yang sejak tadi berdiri di belakangnya.


"Baik, Tuan. Lalu bagaimana dengan kakek anda. Saya rasa tuan besar..."


.


.


.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Boy. Ia enggan menatap dokter Aldo mengingat sejak tadi pria itu sudah membuatnya cemburu buta karena menyentuh istrinya.

__ADS_1


"Kurangi berhubungan dengan Clara." jawab dokter Aldo seketika membuat Boy melotot tajam.


"K-kau! Untuk apa ikut campur urusan rumah tanggaku," Boya menoleh ke arah Clara. "Sayang, apa kau menceritakan semuanya pada pria menyebalkan ini?" Clara menggeleng. Ia bahkan tidak tau kalau dokter Aldo akan membicarakan hal seperti ini.


"Jangan salahkan istrimu. Ini juga demi kebaikan mereka."


"Mereka apa maksudmu?" tanya Boy mengeryitkan kedua alisnya bingung.


"Clara mengandung bayi kembar." celetuk dokter Aldo menatap mereka berdua bergantian. Sedangkan yang di tatap mematung seperti orang bodoh.


"Kembar?" ucap Boy dan Clara bersamaan.


"Kau sedang tidak bercanda, bukan?" Boy masih belum percaya dengan ucapan dokter Aldo. Ia tidak menyangka jika benih super premiumnya mencetak dua bayi sekaligus.


"Kau meragukan kemampuan ku sebagai seorang, Dokter?"


Boy memeluk Clara, lalu mengecup semua bagian wajahnya dan terakhir turun ke bibir. Melumattnya dengan lembut tanpa peduli saat ini dokter Aldo ada di hadapan mereka.


"Pasangan kurang ajar. Apa mereka tidak sadar jika masih ada aku di sini?" gerutu dokter Aldo dalam hati, ia bangkit dari duduknya dan meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2