London One Night Stand

London One Night Stand
Chapter 60


__ADS_3

"Siapa yang sedang kau tangisi?" tanya seorang wanita kemudian duduk di samping Justin.


"Tentu saja istriku!" jawab Justin menahan isak tangis nya. Pria itu bahkan tidak peduli jika besok akan menjadi bahan perbincangan karena menangis dengan begitu keras memangil nama Alice.


"Tuan..." ucapan Mark terhenti saat wanita itu memberi kode padanya agar diam.


"Kau mencintai istrimu?" tanya wanita itu lagi. Mencoba memastikan apa yang sebenarnya Justin rasakan.


Justin mengangguk pelan sambil mengusap pipinya yang basah karena air mata. Sangat mirip dengan bocah yang sedang menangis karena tidak di belikan es krim. Saking sedihnya, Justin bahkan tidak mau menoleh ke arah wanita itu.


"Beruntung sekali wanita itu, karena di cintai pria sepertimu," Alice tersenyum tipis. dalam hatinya ia merasa bahagia karena ternyata Justin sudah membuka hati untuknya.


"Hei, Apa kau tidak mau melihat wajahku lagi?" Alice kembali mengusap pundak Justin, bermaksud untuk menenangkannya. "Paper bag ku terjatuh saat aku sedang berlari. Karena aku tidak tahan melihat penjual manisan yang ada di sebrang sana jadi aku mengejarnya."


Setelah mencerna kalimat wanita yang mirip seperti suara istrinya, Justin menoleh. Dan benar saja itu adalah Alice, ia terlihat cengengesan dengan wajah tanpa dosa.


"Huwaaa...." Justin tersentak kaget dan hampir terjengkang ke belakang. "Hantu! Hush pergi!" kalimat menyebalkan itulah yang keluar dari bibir Justin.


"What? Kau bilang istrimu ini hantu? Dasar suami tidak tau diri!" kesal Alice mengerucutkan bibirnya ke depan. Ia beranjak lalu berkacak pinggang, memaki Justin yang masih bengong tak percaya. "Bukankah seharusnya kau memelukku? Menyebalkan! Mungkin memang sebaiknya aku mati saja!"


Wanita itu pergi dari sana. Sedangkan Justin masih diam di tempat menatap punggung Alice yang berlalu dari sana.


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi Justin, hingga pria itu tersadar dari lamunannya. "Kejar istri anda, Tuan. Sebelum dia benar-benar pergi dadi kehidupan anda!"


"Jadi dia bukan hantu?" Justin mencubit tangannya sendiri dan berteriak kesakitan, "sial! Dia benar-benar istriku."

__ADS_1


"Pertanyaan bodoh macam apa itu. Mana ada hantu siang bolong begini," umpat Mark dalam hati.


Tanpa banyak bicara Justin bangkit dan mengejar Alice. Namun, langkah kakinya terhenti. Pria itu menoleh ke belakang dengan tatapan tajam.


"Hukuman untukmu akan aku berikan nanti!" Justin menunjuk pipinya yang merah dan panas akibat ulah Mark.


"Mampus!" gumam Mark dan berkali-kali mengumpat kebodohannya karena sudah berani menampar atasannya sendiri.


.


.


.


Di atas ranjang dengan ukuran king size, terlihat sepasang suami istri yang baru saja bergulat di atas ranjang. Keringat membasahi tubuh mereka, bahkan keduanya masih sama-sama mengatur nafas yang tersengal.


Clara menjawab dengan anggukan kepala lalu memeluk Boy erat, "Bisakah aku tidur sebentar?" tanya Clara.


"Tunggu, aku ingin memberikan sebuah kejutan besar untukmu," Boy tersenyum dan mengambil sesuatu dari dalam laci meja yang berada di sampingnya.


"Apa ini?"


"Buka saja."


Clara membuka amplop berwarna putih tersebut dan mengeluarkan dua tiket liburan. "London? Kau mengajakku berlibur ke sana akhir pekan ini?" teriak histeris dan juga bahagia terlihat dari raut wajah Clara. Ia menutup mulutnya tak percaya.


Setelah sekian lama, akhirnya Clara bisa pergi ke tempat yang sangat ingin ia kunjungi.

__ADS_1


"Terima kasih," Clara mengecup pipi Boy sekilas. "Aku merindukan, Kakek."


"Tentu saja, karena tiket itu pemberiannya."


"Sudah kuduga, kau tidak mungkin memiliki uang sebanyak ini untuk..."


"Sayang, jangan mulai lagi. Kau tau 'kan, kalau aku baru memulai nya dari awal. Seharunya kau mendukungku. Bukan malah mengejekku seperti ini," Boy cemberut dan tidur membelakangi Clara.


"Eh, kau marah? Padahal aku hanya bercanda," selalu saja baperan, sama seperti hari-hari biasanya. Salah bicara sedikit saja, pria itu ngambek tidak ketulungan.


Clara yang tidak mau berlama-lama melihat suaminya marah, menarik Boy agar menghadap ke arahnya. "Maafkan aku," wanita itu meletakkan kedua tangan di telinga dan menariknya. "Aku tidak akan mengulanginya lagi."


"Pufth..." Boy yang tidak tahan melihat wajah menggemaskan istrinya akhirnya tertawa terbahak. "Aku tau, sayang. Kau sudah berubah. Aku mencintaimu..." ucapnya seraya mengusap lembut pipi Clara.


"Aku lebih mencintaimu, Boy." mereka berdua kembali berpelukan. Mencurahkan seluruh perasaan yang saat ini mereka rasakan.


...----------------...


The End..


Maaf kalau End nya kurang memuaskan, masih ada beberapa Extra part Justin dan juga Alice, tentu saja ada Nicholas juga...


Terima kasih karena udah slalu stay kak,,


Buat nunggu up mampir ya ke karyaku yang satunya🤭 Masih baru, tapi di usahakan up tiap hari...


__ADS_1


__ADS_2