London One Night Stand

London One Night Stand
Chapter 47


__ADS_3

"Lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan, hah?" teriak Justin pada dua orang pria yang sejak tadi menarik kedua tangannya dan bermaksud membawanya secara paksa.


Ya, saat ini Justin sedang berada di sebuah club malam di temani oleh beberapa wanita cantik. Tapi sama sekali tidak ada yang membuat pria itu tertarik. Jauh di dalam hatinya hanya ada Clara.


"Ikut saja, atau kami tidak segan-segan berbuat kasar pada anda." ucap pria dengan wajah datar dan dingin.


"Malas sekali aku ikut denganmu, kita saling mengenal juga tidak! Pergilah, aku sedang ingin bersenang-senang malam ini." Justin mencoba memberontak, namun sayang sekali tenaganya yang mulai lemas karena ia hampir mabuk malah membuatnya terlihat seperti orang bodoh.


"Maaf, Tuan. Kami terpaksa melakukan ini." salah satu pria mengambil sapu tangan dan membekap mulut Justin. Pandangannya mulai kabur, dan dengan cepat ia dibawa masuk ke dalam mobil.


"Bodoh! Kenapa kau membiusnya, bagaimana kalau nona marah pada kita?"


"Aku terpaksa, tenaga pria ini lumayan kuat meski dalam keadaan mabuk." jawab salah satu pria yang sejak tadi sudah menunggu di dalam mobil.


"Baiklah, kita langsung bawa saja dia."


Mobil yang membawa Justin menuju ke suatu tempat. Sebuah apartemen elite yang berada di daerah Jakarta.


"Nona, kami sudah membawa tuan Justin." ucap pria tersebut menghubungi seseorang yang sudah memerintahkannya menculik Justin.

__ADS_1


"Sebentar, aku sedang mandi." jawab wanita itu memakai handuk mandinya dan berjalan keluar membuka pintu. "Bawa masuk dan tidurkan di atas ranjang."


Kedua pria itu mengangguk dan menuruti ucapan Alice dan segera pergi dari sana setelah semua pekerjaannya beres.


Alice mendekati Justin, membingkai wajah tampannya yang begitu mirip sekali dengan Boy. Mungkin itulah alasan kenapa mereka bisa tidur bersama.


"Sayang sekali, kau bukan Boy ku!" gumam Alice mengusap lembut pipi Justin. "Mungkin menikah dan menjadi istrimu tidak buruk. Setidaknya aku masih bisa melihat Boy setiap hari." Alice melepas handuk mandinya dan kini ia polos tanpa memakai sehelai benangpun.


"Kita akan mengulangi malam panas itu sekarang, Justin." ucap Clara melepas satu persatu pakaian Justin dan mulai menggerayangi tubuhnya.


******


"Sayang, buka pintunya." teriak Boy yang sejak tadi berada di luar dan mengetuk berkali-kali pintu kamarnya. Namun, sampai sekarang Clara sama sekali belum membukanya. Bahkan menjawab ucapannya saja tidak. "Sayang, maafkan aku."


Boy dan mom Sofia sangat khawatir, apalagi saat ini Clara sedang mengandung keturunan Matteo. Sungguh, mom Sofia takut jika terjadi sesuatu pada cucunya.


"Mom, bagaimana ini." ucap Boy merengek seperti anak kecil. Tingkahnya jadi semakin menyebalkan setelah tau kalau istrinya itu hamil.


"Kenapa bertanya padaku, semua salahmu karena sudah membuat gara-gara pada wanita yang sedang hamil." celetuk mom Sofia. "Kau tau, istrimu sedang sensitif. Sekali salah bicara saja, habis kau! Mungkin malam ini atau sampai beberapa bulan ke depan, milikmu itu akan sedikit karatan." ledek mom Sofia tersenyum dalam hati karena sudah berhasil mengerjai putranya.

__ADS_1


"What? Apa maksudmu, Mom. Jangan samakan milikku dengan besi jelek itu. Milikku berbeda, lebih gagah dan--"


Bugh!


Satu pukulan keras mendarat di perut Boy. "Dasar tidak tau sopan santun, kenapa kau berbicara begitu fulgar pada Ibumu sendiri, hah?!" teriak seorang pria yang sudah berada di antara mereka.


"D-daddy?" ucap Boy dan mom Sofia bersamaan. Ya, pria itu adalah Dave Matteo, istri Sofia Matteo. Ia baru saja pulang setelah sekian lama melakukan perjalanan bisnis, mengurus perusahaannya yang berada di luar negeri.


"Honey, aku merindukanmu." ucap dad Dave memeluk mesra istrinya dan mendaratkan ciuman di bibirnya. Boy yang melihat itu menganga tak percaya.


"Dasar tua-tua keladi!" celetuk Boy berlalu dari sana untuk mengambil kunci cadangan.


"Bilang saja ku iri!" teriak dad Dave.


"Siapa yang iri pada mu pak tua!" jawab Boy tak mau kalah.


"Ya! Kembali kau anak kurang ajar!" dad Dave hendak mengejar Boy namum ditahan oleh mom Sofia.


"Jangan marah-marah, nanti kau cepat tua. Dan lagi, kenapa pulang ke rumah selalu tengah malam begini." gerutu mom Sofia kesal. "Seperti tidak ada waktu pagi saja"

__ADS_1


"Maaf..." dad Dave selalu saja tak bisa berkutik kalau sudah berada di samping mom Sofia. Berbeda saat dirinya menghadapi kedua putranya yang menyebalkan itu.


"Dasar suami takut istri!" ucapan Boy membuat dad Dave melotot ke arahnya dan kembali diam saat mom Sofia mencubit lengannya.


__ADS_2