
Setelah berhasil menemukan kunci cadangan, Boy membuka pintu kamarnya dan berhasil masuk ke dalam. Ia menutupnya kembali lalu menguncinya.
Namun, pria itu sama sekali tidak menemukan keberadaan Clara. "Kemana dia pergi," gumam Boy. Ia melepas pakaian satu persatu dan melilitkan handuk di pinggangnya. Sejak tadi sore Boy belum membersihkan diri karena Clara tidak mengijinkannya masuk kamar sama sekali.
"Sepertinya berendam air hangat akan membuat tubuhku rileks." tanpa menunggu lama Boy melangkahkan kakinya, namun terhenti saat Clara sudah berada di hadapannya.
Wanita itu sepertinya baru saja menyelesaikan ritual mandi malamnya. Kedua mata Boy tidak berkedip saat melihat pemandangan yang begitu memanjakan mata.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Clara sewot. Ia masih kesal dengan ucapan Boy pagi tadi. "Kau kenapa bisa masuk? Aku bahkan sudah mengunci pintunya?"
Bukannya menjawab pertanyaan Clara, Boy malah semakin mendekat. Membuat Clara mundur ke belakang hingga ia terpojokkan ke tembok.
"Sepertinya kau lupa sedang berada di wilayah siapa, sayang." Boy menaik turunkan alisnya, ia sengaja menggoda Clara yang dipastikan saat ini sedang gugup. "Apa kau gugup?" bisik Boy lirih.
"Pergilah aku ingin..." belum selesai Clara bicara, Boy sudah menarik dagu wanitanya mendekat dan menempelkan bibirnya di bibir Clara.
"Mphh..." lenguh Clara saat benda tak bertulang itu menerobos masuk dan mengobrak abrik bagian dalam sana. Sedangkan tangan Boy, melepas perlahan handuk yang Clara pakai hingga terjatuh di lantai.
__ADS_1
"Boy..." Clara memukul dada bidang suaminya agar menjauh, jujur ia merasa malu dengan posisi mereka yang saat ini begitu intim.
"Kenapa?"
"Aku kedinginan." Clara menunduk dan hendak mengambil handuknya, tapi kembali di tahan oleh Boy.
"Apa kau mau kehangatan?" tanya Boy dengan seringai tipis yang terukir di salah satu sudut bibirnya. Boy berlutut lalu mencium perut Clara yang ternyata sudah terlihat buncit.
"Hai kesayangan Daddy, apa yang sedang kau lakukan di dalam sana," Boy mendaratkan beberapa ciuman lembut di perut Clara. Hingga ciuman itu turun ke bawah.
"Boy, kumohon. Aku sedang tidak ingin melakukannya," bohong Clara. Padahal jelas sekali ekspresi wajahnya menginginkan lebih dari itu.
"Maaf."
"Tidak perlu minta maaf, mungkin sebaiknya aku jajan saja di luar." Boy menutup pintu kamar mandinya meninggalkan Clara yang masih diam mematung di sana.
"What? Apa dia bilang tadi? Jajan di luar?" Clara mondar mandir menunggu Boy yang sudah hampir satu jam belum keluar. Entah apa yang pria itu lakukan, intinya Clara tidak mau kalau suaminya mencari wanita lain sebagai pemuas nya.
__ADS_1
"Kau belum tidur?" tanya Boy berjalan menuju walk in closed untuk mengambil pakaian. Clara mengikutinya perlahan sampai pria itu berhenti tiba-tiba.
"Aww..." Clara mengusap dahinya yang tanpa sengaja menabrak punggung Boy. "Bisakah tidak berhenti tiba-tiba begini Sakit tau!"
"Sayang, aku tidak menyuruhmu untuk mengikuti ku. Dan ini, kenapa kau belum mengganti pakaianmu, hum? Bagaimana kalau kau sakit?"
Clara diam mematung mendengar ucapan Boy yang kembali bicara lembut padanya. Bukankah tadi pria itu terlihat kecewa?
"Aku pikir kau marah, jadi bagaimana kalau sekarang kita melakukannya." ucap Clara malu-malu dan memalingkan wajahnya.
"Melakukan apa, sayang? Aku tidak mengerti." Boy membuka lemari, mengambil kaos dan juga celana boxer berwarna hitam dan hendak memakainya.
"Puaskan aku!" pinta Clara.
"K-kau bilang apa?"
"Haish! Tidak ada replay." Clara berlari dan naik ke atas ranjang menutupi wajahnya yang memerah dengan selimut.
__ADS_1
"Dasar jalaang nakal! Terima hukuman mu malam ini."