London One Night Stand

London One Night Stand
Chapter 55


__ADS_3

"Bisakah kau memanggil suamimu masuk? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan juga dengannya." ucap dokter Aldo dengan raut wajah khawatir.


Clara bangun dan duduk di hadapan dokter Aldo. "Ada apa, Aldo? Bayi kami baik-baik saja 'kan?" tanya Clara. Ia tahu kalau dokter Aldo sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Tentu, dia baik-baik saja." jawab Aldo. Clara menghela nafas lega mendengarnya. Lantas kemudian, ia memeluk Aldo.


"Terima kasih karena sudah mau menjadi sahabat yang baik untukku." ucap Clara, ia segera mengurai pelukan sebelum Boy masuk dan melihat mereka.


"Istriku sudah melahirkan anak laki-laki." cetus dokter Aldo memberitahu kabar bahagia tersebut pada Clara. "Jika kau berkenan datangnya ke ke rumahku."


"Benarkah? Selamat, akhirnya keinginanmu memiliki jagoan tercapai." Clara kembali memeluk dokter Aldo dan kali ini lumayan lama, kebiasaannya sejak dulu memang tidak berubah main peluk sana dan sini.


"Hei, kalau kau tidak melepaskan ku sekarang, aku tidak bertanggung jawab kalau singa jantan itu marah dan menerkam mu." dokter Aldo terkekeh, ia tau sikap posesif Boy muncul saat Clara hamil.


"Menyebalkan. Aku jadi heran apa yang membuat suamiku itu jadi begitu posesif dan pemarah saat aku berdekatan dengan pria lain. Bahkan dengan ayah kandungnya sendiri." bibir Clara cemberut saat mengucapkan itu lalu melangkah ke arah pintu untuk menemui sang suami. "Aku akan segera kembali..."


Dokter Aldo mengangguk seraya tersenyum melihat tingkah Clara yang masih sama saja, manja. "Semoga saja bayi mereka laki-laki, jika perempuan pasti akan sangat mirip dengan ibunya." gumamnya pelan.

__ADS_1


.


.


.


"Apa yang sedang anda lakukan di sini, tuan Nicholas?" tanya Boy yang saay ini sudah duduk di lobby bersama dengan Nicholas. Tatapan sengit dan tak suka ia tunjukan pada pria bule itu.


"Kenapa, kau terlihat tidak suka melihatku. Apa kehadiranku membuatmu gelisah?" Nicholas menjawab pertanyaan Boy dengan sebuah pertanyaan. Tentu saja membuat Boy geram dan mengeraskan rahangnya menahan emosi.


Seketika tawa Nicholas pecah, ia tidak menyangka jika Boy akan mengatakan itu padanya. "Maybe. Aku tidak waras karena menginginkan istri orang." Nicholas mengangguk. "Apalagi saat aku mendengar mantan kekasihku menikah dengan bodyguardnya sendiri dan menghabiskan malam panas bersamanya."


Tangan Boy terkepal. pria itu berdiri dari duduknya dan menatap Nicholas dengan tatapan permusuhan. "Jaga bicaramu, Nicholas!"


Dengan santai nya pria bule itu mengangkat satu kakinya, bertumpu pada kaki yang lain lalu memainkan ponsel. "Aku setuju bekerja sama dengan perusahaan mu dengan satu syarat..." ucap Nicholas memperlihatkan wallpaper layar ponselnya pada Boy. Dimana ada foto Clara dengan balutan busana seksi terlihat di sana. "Biarkan wanita mu menghabiskan satu malam denganku."


"Brngsek!" Boy langsung melayangkan satu pukulan ke wajah Nicholas. Pria bule itu jatuh tersungkur ke lantai. Bukannya membalas, Nicholas malah tertawa terbahak.

__ADS_1


"Akulah pria pertama yang sudah hampir melihat seluruh lekuk tubuh milik Clara. Tapi sayangnya, aku belum sempat mencicipinya." Nicholas menyeka sudut bibitnya yang berdarah akibat perbuatan Boy. "Pikirkan tentang perusahaan dan juga tawaranku tadi, tuan Matteo."


"Hanya dalam mimpimu!"


"Kita lihat saja nanti. Aku pastikan kau akan menyerahkan Clara padaku dengan keinginanmu sendiri." seringai tipis terukir di bibi Nicholas. Ia berdiri dan merapikan jasnya. Namun, langkah kaki seorang wanita mengalihkan pandangannya.


"Sayang, apa yang kau lakukan di sini. Sejak tadi aku mencari mu." kedua bola mata Clara tertuju pada sesosok pria yang berdiri tidak jauh dari Boy dengan bibir pecah dan pipi sedikit lebam. "Nicholas..."


Memori Clara kembali berputar, ia mengingat kembali saat dimana Nicholas mengkhianati dirinya dengan sahabatnya sendiri. Padahal saat itu, Nicholas adalah satu-satunya pria yang sangat ia cintai.


"Kita pergi dari sini." ajak Boy menarik pinggang Clara melangkah pergi dari sana. Namun, Nicholas berhasil menarik tangan Clara dan mengecupnya.


"Lepaskan aku!" teriak Clara.


"Aroma mu masih sama seperti dulu, Clara." tanpa rasa malu Nicholas mengucapkan kalimat yang kembali membuat hati Boy menjadi panas.


"Istriku haram kau sentuh!"

__ADS_1


__ADS_2