London One Night Stand

London One Night Stand
Chapter 36


__ADS_3

"A-aku sedang--" belum selesai Clara bicara tangannya sudah ditarik oleh seseorang. "Boy, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Clara bingung, bukankah suaminya ini pergi ke Bali kenapa tiba-tiba sudah berada di sini.


"Ikut denganku!" ajak Boy.


"Tidak boleh! Dia sudah janji akan makan siang denganku." ucap Justin tak mau mengalah pada Boy. "Lagipula apa yang sedang kau lakukan di sini?"


Boy tersenyum kecut dan kembali menarik tangan Clara.


"Aku ingin mengajak istriku makan siang. Jadi lepaskan tangannya sekarang juga!" Boy menghempaskan tangan Justin.


Melihat Clara diperebutkan dengan dua pria sekaligus membuat Alice geram lalu mendekati Boy dan menarik tangannya.


"Lepaskan dia, lagipula istrimu harus menyelesaikan tugasnya. Iya 'kan, Justin." wanita itu memberi kode pada Justin agar mengiyakan ucapannya.


Berbeda dengan Justin yang malah melepaskan tangan Clara. "Tiga puluh menit, setelah itu temui aku." setelah mengatakan itu, Justin masuk ke ruangannya.


Alice menjejakkan kakinya kesal. Bagaimana bisa Justin malah membela Boy dan mengabaikan dirinya. Padahal sudah jelas di dalam tadi ia menyetujui rencananya.


"Lepaskan tanganku!" ketus Boy dengan raut wajah dingin. Ia menepis tangan Alice dan membawa Clara pergi dari sana.


"Awas kalian!"


Clara berjalan terlebih dahulu menuju lift dan di susul oleh Boy. "Kenapa kau ada di sini? Bukankah seharusnya kau di Bali bersama dengan Mark dan--" belum selesai Clara bicara, Boy sudah menarik tubuhnya. Memeluk dirinya erat,

__ADS_1


"Aku merindukanmu." lirih Boy tepat di telinga Clara. Entah kenapa tiba-tiba pria itu bersikap manis dan sedikit manja padanya.


Clara mendorong dada Boy dan memegang dahinya. Ia ingin memastikan jika suaminya itu baik-baik saja. "Kepalamu tidak terbentur 'kan? Apa saat perjalanan ke Bali mobilmu--"


Cup!


Lagi-lagi Boy membuat Clara terkejut, sebuah ciuman mendarat di bibirnya. Ciuman yang awalnya biasa-biasa saja kini berubah menjadi sedikit menuntut. Dan sialnya, Clara malah membalas ciuman itu.


"Emhh..." lenguh Clara saat benda tak bertulang itu menerobos masuk dan mengobrak abrik bagian dalam sana.


Boy memojokkan tubuh Clara, lalu menekan tengkuk lehernya agar ciuman itu tidak segera terlepas.


Sedangkan tangan Boy yang lain sudah bergerak liar kemana-mana. Membuat tubuh Clara lemas karena sentuhan-sentuhannya.


"Hmm, ada apa?" ujar Boy menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Clara. Sesekali ia memberikan ciuman dan sesapan lembut.


''Jangan seperti ini, kita tidak boleh melakukannya." tolak Clara. Ia kembali mengingat bagaimana selama ini Boy pergi menemui Alice dan meninggalkan dirinya sendirian.


"Aku merindukanmu." lirih Boy mengusap bibir Clara.


"Tapi aku tidak. Lebih baik kita akhiri saja semuanya sebelum terlambat." Clara memalingkan wajahnya, menatap ke arah lain.


"Kita tidak akan pernah berpisah"

__ADS_1


Clara mendongak, menatap mata Boy dan berharap pria itu akan memberinya penjelasan. "Kalau kau ingin seperti dulu lagi, hidup bergelimang harta dan foya-foya, aku akan mengabulkannya. Tapi tidak akan pernah ada kata perpisahan!."


"Kau aneh!"


"Ya anggap saja begitu."


"Lalu bagaimana dengan Alice, kau sering menemuinya tanpa ijin dariku!"


Boy menghela nafas, sudah berapa kali ia menjelaskan kalau hubungannya dan Alice sudah berakhir. Namun, Clara tetap saja mencurigainya.


"Mulai sekarang aku akan meminta ijin darimu. Jadi, maukah kau memberiku kesempatan menjadi suami dan juga Daddy terbaik untuk anak kita." senyuman tipis bahkan sangat tipis hingga tak terlihat terukir di sudut bibir Boy.


"Ka-kau tahu?" tanya Clara gugup. Padahal ia belum memberitahu Boy sama sekali.


Boy mengeryit bingung melihat raut wajah Clara. "Tahu apa maksud mu?"


Ting!


Pintu lift terbuka, Clara melangkahkan kakinya keluar menuju ke mobil. "Lupakan, anggap saja kau tidak mendengar apapun."


"Atau jangan-jangan benih super ku milikku berhasil tumbuh di sana, hum?" celetuk Boy membuat langkah kaki Clara terhenti.


Deg!

__ADS_1


__ADS_2