
Mereka berdua sudah berada di salah satu cafe yang tidak jauh dari perusahaan. Boy masih bertanya-tanya dalam hati, ingin sekali ia memastikan apakah benar kalau benihnya sudah tumbuh di sana.
"Kenapa diam saja? Makan mu tidak akan habis jika hanya dilihat begitu. Berikan saja padaku." Clara menarik piring berisi nasi goreng yang jelas-jelas adalah makanan yang tidak ia sukai, selain ayam. Bagi Clara kedua makanan itu membuatnya gemuk.
Sama seperti malam itu, Clara juga menghabiskan nasi milik Boy. Bahkan meminta tambah.
"Sejak kapan suka nasi goreng. Biasanya kau akan membuangnya jika aku memasak untukmu. Atau jangan-jangan kau benar-benar sedang hamil?"
"Uhuk...uhuk..." Clara tersedak mendengar ucapan Boy yang tepat sasaran. Bukan tidak ingin memberitahu kehamilannya.
Clara tidak mau jika nanti anak ini lahir, Boy merebut bayi itu lalu menceraikannya dan menikah dengan Alice. Hati perempuan mana yang tidak hancur jika seperti itu.
"Pelan-pelan, aku tidak akan memintanya." Boy mengusap bibi Clara. "Jangan pernah menyembunyikan sesuatu dariku. Aku hanya ingin memulainya dari awal bersamamu."
Clara tersenyum miris, memulai dari awal tanpa cinta begitu? Memang nya dia wanita yang tidak punya perasaan.
"Baiklah karena kau terus memaksa, aku akan memberimu satu kesempatan." ujar Clara seraya menyelesaikan makan siangnya.
"Malam ini, Mommy ingin kita berkunjung ke sana." celetuk Boy tiba-tiba membuat Clara kembali tersedak.
"What? Mommy? Ibumu?" tanya Clara memastikan, karena selama beberapa bulan mereka menikah Boy sama sekali tidak pernah sekalipun bicara tentang mom Sofia.
Boy mengangguk, sebenarnya ia juga malas mempertemukan Clara dengan mom Sofia. Tapi wanita itu selalu memaksa dan mengancam dirinya kalau terus menyembunyikan Clara.
"Kalau kau tidak mau, aku tak akan memaksa dan--"
"Baiklah. Aku akan pergi ke sana." potong Clara.
Boy masih tidak percaya, seorang Clara yang angkuh dan menyebalkan mau menuruti permintaanya. Terlebih lagi menemui mommy nya.
__ADS_1
"Kau yakin tidak akan menyesali keputusanmu 'kan?" tanya Boy dengan raut wajah datar.
Clara meletakkan sendok dan garpu yang berada di tangannya, lalu menatap serius ke arah Boy. "Sejak kapan kau meragukan seorang Clara Alfred, hum?!" Mulai lagi, sikap angkuhnya akhirnya muncul.
Bukannya marah, Boy malah menarik sedikit sudut bibirnya ke atas. Ia ingin melihat apakah Clara bisa menghadapi tingkah menyebalkan mom Sofia.
"Sudah selesai, apa hanya ini yang ingin kau bicarakan?" Clara beranjak dari tempat duduknya, ia berniat kembali ke kantor.
"Tunggu!" Boy menahan tangan Clara.
Pria itu mendekat, membuat Clara melangkah mundur namun Boy berhasil menahan pinggangnya. Tubuh keduanya menempel hingga tak ada jarak, tangan Boy yang lain menyelipkan anak rambut Clara ke belakang telinga.
Boy mendekatkan wajahnya, lalu mengecup lembut kening Clara. "Aku akan menjemputmu nanti, jangan terlalu lelah. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada istriku." lirih Boy tepat saat bibir itu masih menempel.
Jantung Clara berdetak sangat kencang, nafasnya naik turun menerima perlakuan Boy yang tiba-tiba. Sangat aneh namun ia merasa nyaman.
Untuk sesaat mereka lupa jika sedang berada di tempat umum. Dengan cepat Clara kembali mundur dan menjaga jarak.
Boy mengusap dada berulang kali. Jantungnya juga seakan ingin lepas dari tempatnya. "Kalau bukan tips dari Mark, asisten sialan itu. Aku malas sekali melakukan ini. Nyosor duluan," gumam Boy dengan wajah dan pipi memerah.
Greb!
Sebuah tangan melingkar di perut Boy, membuatnya tersenyum. Ia berpikir kalau itu Clara. "Aku tau kau pasti kembali," lirih Boy.
"Tentu saja, sayang."
"Ini bukan suara Clara, tapi--" Boy menoleh dan menarik tangan wanita tersebut yang tak lain adalah Alice.
"Kau!" pekik Boy. "Apa yang kau lalukan di sini, Alice?!" Boy melepas paksa pelukan Alice. Membuat wanita itu memajukan bibirnya kesal.
__ADS_1
"Malam ini, aku ingin kau menemaniku. Daddy harus check-up ke dokter. Dia ingin kau yang mengantarnya." ujar Alice dengan nada manja.
"Maaf. Katakan pada Daddy aku tidak bisa." Boy berjalan menuju ke mobil dan mengabaikan Alice.
"Tapi kenapa? Kau tidak lupa 'kan, Daddy seperti ini karena ulah mu yang memutuskan sepihak pertunangan kita?!" teriak Alice yang terus mengikuti Boy.
Inilah yang tidak Boy suka dari Alice, selalu seenaknya sendiri. Berbeda dengan Alice yang dulu, yang lembut dan dewasa.
"Tapi aku yang menanggung semua biayanya apa itu belum cukup? Kau menjebak ku, Alice!"
"Aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu, Boy!" Alice menahan Boy yang hendak membuka pintu mobil. "Bukankah dulu kau yang mengejar ku, selalu ada untukku. Tapi setelah kehadiran jalaang itu kau mencampakkan aku!"
"Berhenti memanggilnya jalaang! Karena Clara bukan wanita seperti itu." Boy mencengkram tangan Alice yang sejak tadi menempel di dadanya.
"Ternyata semua dugaan ku benar, kau mulai mencintainya."
"Ya, aku mencintai Clara!"
Deg!
"Ka-kau pasti bercanda. Kau tidak boleh mencintai wanita manapun selain aku!"
Boy tidak peduli dan masuk ke dalam mobil. Meninggalkan Alice yang terus berteriak memanggil namanya.
"Tidak, Boy! Kau tidak boleh seperti ini. Kau milikku, hanya milikku! Arghh....."
"Menyedihkan sekali," celetuk Justin yang sejak tadi berada di sana mengamati apa yang mereka lakukan.
...----------------...
__ADS_1