
Setelah sampai di apartemen, Clara merebahkan dirinya di atas ranjang. Ia mengusap perut datarnya dan tersenyum tipis.
"Daddy mu itu benar-benar menyebalkan. Pria datar, dingin dan sama sekali tidak peka. Lebih bodohnya lagi, mommy malah mulai merasa nyaman saat berada di sampingnya." gumam Clara hingga suara bel membuyarkan lamunannya.
"Siapa yang datang malam-malam begini. Bukankah Boy ada di rumah sakit?" Clara bangkit dan berjalan membuka pintu. Ia dikagetkan dengan sesosok wanita paruh baya menatap datar ke arahnya.
Tatapan itu mengingatkannya pada seseorang yang tak lain adalah suaminya sendiri.
"Selamat malam, menantuku." ujar mom Sofia yang langsung saja menyelonong masuk tanpa permisi.
"Me-menantu? Jadi Nyonya..."
"Tidak sopan. Kau seharunya mencium tanganku." mom Sofia mengulurkan tangannya, berharap kalau Clara menerima uluran tangan tersebut. Tapi ia salah, Clara malah terdiam dan mengedipkan matanya berulang kali.
"Oh astaga, bagaimana bisa putraku menikah dengan wanita yang tidak tau sopan santun sepertimu!" ucap mom Sofia dengan nada sedikit membentak. Seketika membuat Clara menunduk.
"Maafkan aku, Nyonya. Selama ini..."
"Mommy! Aku bukan majikan mu dan kau bukan bawahan ku!"
"Maaf..." lagi-lagi Clara mengulang kata maaf, membuat mom Sofia menghela nafas.
__ADS_1
"Sudahlah, telingaku gatal mendengar mu meminta maaf begini. Buatkan saja aku teh manis tanpa gula." celetuk wanita itu membuat Clara melongo.
"Tapi Mom, mana ada teh manis tapi tanpa gula." Clara menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
Berbeda dengan Mark yang sejak tadi berdiri menahan tawanya. Itulah mom sofia yang sebenarnya. Meski terlihat dingin dan ketus ia selalu saja bisa membuat lawan bicaranya tak berkutik.
"Buat saja, aku ingin tahu seperti apa teh buatan menantuku yang manja dan tidak becus melakukan apa-apa ini." mom Sofia mengambil kipas kecil dan menyalakannya. "Panas dan sempit sekali, kenapa putraku yang keras kepala itu mau tinggal di tempat seperti ini."
Clara berjalan ke dapur, membuat teh hangat tanpa gula dan mengambil cemilan yang berada di dalam kulkas. Ia segera kembali ke ruang tamu, karena sejak tadi ibu mertuanya terus berteriak memanggil namanya.
"Iya Mom, aku segera ke sana." jawab Clara sambil mengaduk tehnya. "Oh God! Jangan sampai aku tinggal satu rumah dengannya, bisa kena serangan jantung mendadak jika terus di teriaki seperti ini." gerutunya beranjak dari dapur melangkah menuju ruang tamu.
Clara memejamkan mata namun sesekali mengintip, ia ingin tau ekspresi mom Sofia setelah meminumnya.
Satu detik, dua detik hingga satu tegukan teh berhasil melewati tenggorokan wanita itu. "Tidak buruk." ujar mom Sofi.
Clara tersenyum mendengar jawaban mertuanya, karena ini adalah kali pertama ia membuat teh.
"Akhirnya, aku bisa membuat segelas teh." ceplos Clara membuat mom Sofia melotot.
"Apa kau bilang?! Pertama kali?" Clara mengangguk. "Jadi kau menjadikan mertuamu ini kelinci percobaan? Bagaimana kalau aku keracunan. Oh astaga, kedua putra kesayanganku itu pasti akan sangat kehilangan." mom Sofia menyenderkan tubuhnya di sofa dan memijit kepalanya.
__ADS_1
"Biar aku saja yang melakukannya, Mom." Clara mengambil alih dan mulai memijitnya.
Wanita itu diam menikmati apa yang sedang Clara lakukan. Hampir setengah jam mereka berada di posisi yang sama. Tangan dan kaki Clara mulai terasa pegal.
"Mom, capek." ucap Clara melirik mom Sofia yang masih tak menjawab ucapannya.
"Apa sudah ada tanda-tanda kalau kau hamil?"
Uhuk...uhuk...
Clara tersedak air liurnya sendiri dan muncrat tepat di wajah mom Sofia. Wanita itu bangun dan melotot tajam ke arahnya.
"Clara Alfred! Kau ini benar-benar..."
"Mom? Kau di sini?" potong Boy yang baru saja pulang dari rumah sakit.
Clara segera berlari dan bersembunyi di belakang Boy. Ia takut jika mertuanya itu kembali membentaknya. "Tolong aku..." lirih Clara, tanpa tau kalau saat ini Boy sedang tersenyum melihat tingkah menggemaskannya.
...----------------...
__ADS_1