
Brugh!
Tanpa sengaja, saat berlari keluar dari kantor Clara menabrak tubuh seorang pria.
"Aww! Sakit!" pekik Clara mengusap dahinya yang seakan baru sja menabrak sebuah benda keras.
"Clara?" sapa seorang pria yang tak lain adalah Justin. "Maafkan aku," Justin mengusap dahi Clara dan sedikit meniupnya.
"Thanks, Justin. Aneh sekali bukan, akhir-akhir ini kita lebih sering bertemu." celetuk Clara tersenyum ke arah pria berwajah tampan tersebut. Namun seakan tidak asing, karena mirip dengan seseorang.
"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Clara.
"Oh, aku ingin bertemu dengan seseorang." jawabnya sedikit gugup.
"Kalau begitu aku--" belum selesai Clara bicara, Justin menarik tangannya dan mengajaknya masuk ke mobil.
Entah apa yang ada di dalam pikiran pria itu, meski tau Clara sudah memiliki seorang suami, tidak membuatnya menyerah untuk terus mendekatinya.
"Kenapa tidak menghubungiku?" Justin melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat Clara menelan saliva dengan susah payah.
__ADS_1
Boy tidak mengijinkannya pergi kemanapun tanpa dirinya. Mengancamnya dengan berbagai cara agar dia tidak bisa berkutik. Pria itu begitu posesif setelah menikah, padahal dia mencintai wanita lain.
Ingin rasanya Clara mengatakan itu pada Justin dan menceritakan segala keluh kesahnya, namun ia sadar mereka tidak memiliki hubungan apapun.
"Kau mau kemana, aku akan mengantarmu."
"Tidak, terima kasih. Sepertinya aku harus pulang karena rasanya kepalaku sedikit pusing." Clara memijat pelipisnya.
"Susah tau sakit, kenapa kau masih saja nekat datang kemari sendirian. Seharunya ajak supir pribadimu untuk--"
"Aku tidak punya apa-apa sekarang setelah menikah dengan pria menyebalkan itu. Bahkan mereka membiarkan aku tinggal di sebuah apartemen kecil. Tega sekali." gerutu Clara mengepalkan tangannya erat dan mengingat saat kakaknya menarik semua fasilitas yang ia punya tanpa terkecuali.
Sungguh ia juga merasa kasihan padanya. Tentu saja Justin tau bagaimana kehidupan wanita kaya pada umumnya. Apalagi saat pertama kali ia melihat penampilan Clara saat kabur dari pesta pernikahan dengan gaun yang begitu mewah.
"Apa yang kau inginkan?" ucap Justin tiba-tiba membuat Clara langsung menoleh ke arahnya.
"Kau serius ingin mengabulkan apa yang aku inginkan?"jawab Clara dengan mata berbinar. Wanita itu tersenyum malu lalu menggigit sedikit bibir bawahnya. "Kita pergi ke suatu tempat. Aku tidak jadi pulang."
"Baiklah, ratuku." kekeh Justin meledek Clara yang juga tergelak karena ucapannya.
__ADS_1
***
"Apa masih sakit?" tanya Boy sambil mengusap pinggang Alice yang sakit karena ulahnya tadi.
"Hmm, aku baik-baik saja." Alice menyandarkan kepalanya di pundak Boy. "Maaf karena aku terlalu egois dan memaksakan hubungan kita, Boy." Alice merasa bersalah sudah membuat pria yang ia cintai menjadi bimbang seperti ini.
Ditambah lagi sikapnya beberapa hari ini yang terkesan seperti wanita penggoda. Yang memang bukan dirinya sama sekali.
"Mungkin lebih baik kita akhiri saja hubungan ini," kalimat yang keluar dari bibir Alice membuat Boy mengerutkan dahinya.
"Tidak! Aku masih sangat mencintaimu. Sampai kapanpun, kita tidak akan pernah berpisah." Boy menarik Alice ke dalam pelukannya. Memejamkan matanya erat, merasakan setiap kehangatan tubuh wanitanya.
Pria itu sudah sangat lama memendam perasaanya pada Alice, dan beberapa tahun terakhir dengan berani Boy mengungkapkan perasaanya pada wanita itu. Ia tidak akan pernah menyianyiakan wanita itu.
"Semoga saja kau menepati janjimu Boy, aku tidak mau kau sampai jatuh cinta padanya."
...----------------...
Jangan lupa mampir..
__ADS_1