
Clara menarik tangan Boy dan membawa suaminya itu masuk ke dalam rumah. Ia ingin mendengar semuanya langsung dari mulut Boy, siapa sebenarnya dirinya dan apa tujuannya selama ini menjadi bodyguardnya.
"Sekarang, katakanlah padaku tanpa ada yang kau tutupi lagi." ujar Clara.
Boy menghela nafas dan menceritakan semuanya tanpa menutupi sedikitpun dari Clara. Wanita itu adalah istrinya sekarang, mau tidak mau ia harus mengetahui semua tentang dirinya.
Clara duduk di sofa, memijat pelipisnya yang terasa begitu pusing. Belum selesai soal kehamilannya yang sengaja ia tutupi, sekarang harus mengetahui sebuah kenyataan yang membuatnya tercengang.
"Jadi kau benar-benar keturunan Matteo yang terkenal kaya raya itu?" tanya Clara dengan wajah yang sulit di artikan. "Lalu kenapa kau harus menyamar jadi seorang bodyguard? Dasar tidak bersyukur."
"Tentu saja karena itu adalah cita-citaku sejak kecil." jawab Boy datar.
Astaga, ekspresi macam apa itu. Boy benar-benar membuatnya kesal. Kalau tau selama ini dia adalah anak orang kaya, kenapa tidak menggaet Boy saja.
"Lalu sekarang setelah kau tau siapa sebenarnya diriku, apa yang akan kau lakukan?" Boy balik bertanya pada Clara.
"Tidak akan ada yang pernah berubah, meski kau sekarang kaya. Aku tetap tidak bisa mencintaimu." jawab Clara beranjak dari duduknya berniat meninggalkan Boy.
Namun langkah kakinya terhenti saat Boy menarik tangannya. "Kenapa? Apa kau tidak mau sama sekali memberikan kesempatan untukku." lirih Boy.
"Apa yang kau harapkan dari wanita sepertiku. Kau punya Alice, wanita yang sangat mencintaimu. Lagipula pernikahan kita hanya akan bertahan selama satu tahun." ucap Clara menahan air mata. Entah kenapa tiba-tiba saja ia ingin menangis. Benar- benar seperti bukan dirinya.
__ADS_1
Saat perjalanan pulang, mom Sofia menghubungi Boy dan meminta putranya itu kembali agar segera melangsungkan pernikahan dengan Alice. Dan semua itu di dengar oleh Clara.
Sesak rasanya, padahal tidak ada hubungan apapun diantara mereka. Hanya sebatas status, suami dan istri.
"Bagaimana kalau kau hamil?" tanya Boy. Ia tau kalau saat ini Clara sedang menyembunyikan wajahnya yang ingin menangis.
"Tidak akan, karena saat kita melakukan itu aku dalam keadaan tidak subur. Pergilah temui orangtuamu."
Clara mengurai tangan Boy dan berlari menuju kamarnya.
"Arghh! Ini benar-benar tidak seperti yang aku rencanakan. Ada apa denganku." Boy mengacak-acak rambutnya frustasi dan berlalu dari sana.
"Wow, kau datang lebih cepat daripada dugaan ku." Justin yang berada di ruang tamu tersenyum dan menghampiri adiknya, namun respon Boy tidak seperti yang pria itu pikirkan.
"Tidak udah basa basi, dimana Mommy!" kemarahan terlihat di mata Boy, apalagi saat mengingat kalau selama beberapa hari ini Justin lah yang selalu ada untuk Clara.
"Akhirnya setelah sekian lama, kau datang sayang." ucap seorang wanita paruh baya yang berjalan mendekati Boy dan memeluk putra bungsunya itu.
"Kenapa tiba-tiba Mom ingin aku segera menikah dengan Alice. Bukankah Mom tau kalau aku sudah menikah."
"Menikah tanpa ijinku dengan wanita yang hanya menginginkan seorang pria kaya, begitu maksudmu." sinis mom Sofia melirik ke arah Justin.
__ADS_1
Justin menggelengkan kepala dan diam. Apa yang sudah keluar dari mulut mom Sofia tidak bisa dibantah sedikitpun.
"Kau tau, orang tua Alice marah dan berniat membatalkan semua kerja sama mereka dengan keluarga kita, sayang." ucap mom Sofia dengan nada memelas agar Boy luluh. Tapi semua perkiraannya salah.
"Aku tidak bisa menikahi wanita yang sudah bermain dengan pria lain dibelakang ku!" seru Boy menatap tajam ke arah Justin.
"Bawa istrimu kemari. Mom ingin tau seperti apa dia."
"Jangan pernah macam-macam, karena sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhnya sedikitpun." setelah mengatakan itu Boy benar-benar pergi tanpa menoleh sedikitpun.
Mom Sofia menjatuhkan dirinya di sofa dan mengelus dada berulang kali.
"Tenanglah mom, dia pasti akan membawa Clara kemari. Cepat atau lambat." Justin mencoba menenangkan mom Sofia dan mengambil segelas air.
" Lalu apa maksud ucapannya tadi, kalau Alice bersama dengan pria lain?" Mom Sofia menatap Justin curiga. Membuat pria itu menggaruk tengkuk lehernya karena bingung harus menjawab apa.
"Entahlah." Justin menggidikan bahu acuh.
...----------------...
__ADS_1