
"Terima kasih karena sudah mau mengantarku," ucap Clara berniat turun dari mobil, namun tangannya ditahan oleh Justin.
"Tentang ucapan ku tadi, kuharap kau memikirkannya." setelah mengatakan itu Justin melepaskan tangan Clara. "Aku akan sering menghubungimu, Clara."
Clara tersenyum lalu berjalan masuk ke dalam. Ia terlihat sangat bahagia malam ini. Meski sebelumnya, Boy membuat moodnya hancur berantakan.
"Darimana saja, kenapa baru pulang?" Boy yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan Clara segera menarik tangan wanitanya.
"Lepaskan Boy, sakit." terik Clara saat cengkraman Boy semakin kuat.
"Jawab aku!"
"Apa peduli mu! Ingat Boy, kita menikah karena sebuah kesalahan. Kita tidak saling mencintai dan bahkan kita-" belum selesai Clara bicara, Boy sudah membungkam bibir wanita itu dengan bibirnya.
Clara mencoba mendorong Boy agar menjauh darinya, namun pria itu malah semakin erat menghimpit tubuhnya agar tidak bisa bergerak sedikitpun.
Cukup lama bibir keduanya saling menempel, hingga Clara mulai kehabisan nafas dan Boy melepaskannya.
Plak!
Clara yang tidak terima menampar Boy dan berlari ke amarnya meninggalkan pria itu yang masih diam, lalu mengusap wajahnya frustasi.
Clara membanting pintu kamarnya dan melepas paksa gaun pengantinnya. Namun, wanita itu terlihat kesusahan. "Sial!" umpat Clara kesal.
__ADS_1
Hingga sebuah tangan tiba-tiba saja menyentuh punggungnya dan membantu menurunkan resleting gaun yang dipakainya.
"Kenapa kau ada di sini?!" tanya Clara gugup.
Boy menarik pinggang Clara agar menghadapnya. Di tatapnya manik mata berwarna coklat yang melihatnya dengan rasa benci.
"Jangan lupa kalau kita sudah menikah. Daddy mempercayakan dirimu padaku," ucap Boy lirih.
Clara berdecak kesal. Ia lupa kalau sekarang sudah menjadi seorang istri dari Boy, bodyguardnya sendiri.
"Bersihkan dirimu, aku sudah menyiapkan air hangat. Setelah itu kita tidur."
"Kita?" dahi Clara mengerut, menunggu Boy menjelaskan apa maksud dari kita.
"What? Aku tidak mau, lebih baik aku tidur di kamar lain daripada--"
"Tidak ada kamar lain lagi di sini," Boy memberikan handuk yang sejak tadi ia pegang pada Clara lalu keluar dari sana.
"Huwaaa mommy! Aku tidak mau hidup miskin seperti ini hikss..."
Boy tersenyum tipis mendengar semua ucapan Clara. Wanita yang terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan kini harus hidup sederhana bersama dengannya.
***
__ADS_1
"Bagaimana Mark, kau sudah mengantarnya pulang 'kan?" tanya Boy pada Mark.
Mark mengangguk. "Ya, Tuan."
Saat di pesta tadi, Alice menghampiri Boy. lalu mengajaknya pergi. Kedua orang tua Alice ingin bertemu dengan Boy, dan membicarakan tentang pertunangan mereka yang tertunda.
Boy menolak dan lebih memilih untuk pulang dan mengikuti Clara. Namun, saat ia menghampirinya, wanita itu sudah tidak ada. Dan menyuruh Mark menemani Alice.
"Lalu bagaimana dengan Justin, Tuan?" Mark memberanikan diri menanyakan tentang Justin pada Boy.
"Biarkan saja dulu." Boy duduk lalu memijat pelipisnya. Berada di antara kedua wanita itu membuat kepalanya ingin pecah.
"Tuan Matteo--"
"Aku bilang biarkan saja dulu! Apa kau tuli Mark!" Boy beranjak dari tempat duduknya dan kembali ke kamar.
Mark mengusap dada berkali-kali mendengar Boy yang sejak tadi terus membentaknya. Atasannya tersebut bahkan membuat Boy mau tidak mau masuk dan ikut andil dengan hubungan percintaan mereka bertiga.
"Ini alasan semua wanita tidak tahan berhubungan denganku dan mengira kalau aku tidak normal!" gumam Mark kesal.
...----------------...
__ADS_1