
Clara menuju lantai bawah bersamaan dengan Justin yang juga sedang menyeret kopernya menuruni anak tangga.
"Justin...Clara..." lirih keduanya bersamaan.
"Kau duluan." Clara mempersilahkan kakak iparnya itu untuk turun terlebih dahulu.
"No. Lady first!" ucap Justin tersenyum sangat manis. Karena saat ini jantungnya berdetak tak karuan, apalagi saat melihat penampilan Clara yang akhir-akhir ini terlihat sangat berbeda. Lebih cantik dan anggun.
"Baiklah. Terima kasih." Clara mulai menuruni anak tangga dan di ikuti oleh Justin yang berjalan di belakangnya. "Kau mau pergi liburan?" tanya Clara menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Justin.
"Tidak. Aku akan pergi ke Bandung untuk memulai bisnisku yang baru." jawabnya kembali memperlihatkan senyuman.
"Kau terlihat bahagia sekali, apa karena kau menikah dengan Alice dan segera memiliki momongan?" Clara mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia tau jika membicarakan bisnis Boy pasti ikut terkait di dalamnya.
"Bisakah aku tidak menjawabnya, Clara. Karena itu adalah privasi ku."
Clara mengangguk lalu berjalan menuju ke ruangan pribadi dad Dave.
"Tunggu!" Justin mendekati Clara. "Ada sesuatu di matamu." tangan nya terangkat dan membersihkan make up Clara yang terlihat sedikit berantakan.
"Benarkan?" Clara mengambil cermin kecil dari clutch bag yang memang selalu ia bawa kemanapun. "Oh, ini eye linear yang sedikit belepotan. Karena cuaca panas jadi aku berkeringat."
Bukannya menjauh, Justin malah semakin mendekat dan menatap wajah Clara lekat. Pria itu mengusap keringat yang menetes di pelipis Clara dengan sapu tangannya.
__ADS_1
"Kau tetap cantik meski tidak memakai polesan wajah." celetuk Justin membuat Boy yang baru saja keluar dari ruangan dad Dave mengepalkan tangannya. Jelas sekali ia mendengar apa yang kakaknya itu katakan.
"Ehem.."
Suara deheman membuat Justin sedikit menjauh berbeda dengan Clara yang terlihat biasa saja dan langsung menghampiri Boy.
"Kenapa lama sekali, aku sudah menunggumu sejak tadi."
"Benarkah? Aku pikir kau sedang bermesraan dengan pria lain dan lupa padaku," jawab Boy dengan nada ketus. Ia menatap tajam ke arah Justin yang juga melakukan hal sama padanya.
"Jangan bilang kau cemburu pada kakakmu sendiri." ucap Clara dengan bibir cemberut.
"KIta pergi sekarang!" ajak Boy, menarik pinggang Clara posesif dan berlalu dari sana menuju ke mobil.
"Aku sudah siap, Justin." Alice menggandeng tangan Justin, namun segera di tepis oleh pria itu.
"Sudah kukatakan untuk tidak menyentuhku! Dan berhentilah bersikap kalau kau ini adalah istri seorang Justin Matteo." ketus Justin meninggalkan Alice.
"Sabar Alice, kau pasti bisa mendapatkan hati pria dingin itu." Alice mengusap perut datarnya. "Mommy janji, kau akan segera mendapat pengakuan dari daddy mu sayang."
*****
"Boy, kenapa diam saja? Kau marah padaku?" tanya Clara namun Boy masih saja mendiamkannya tanpa mau bicara sepatah katapun. "Aku minta maaf, tapi tadi tidak seperti yang kau lihat. Justin yang--"
__ADS_1
Boy menginjak rem mendadak hingga membuat dahi Clara hampir membentur dashboard depan mobil.
"Aku belum ingin mati, Boy!" teriak Clara.
Boy menghela nafas lalu menatap wanitanya yang saat ini terlihat ketakutan dengan tubuh yang bergetar. "Maaf..." lirihnya. "Aku tidak suka kau dekat-dekat dengannya." Boy menarik Clara ke dalam pelukannya dan Membenamkan kepalanya di ceruk leher wanita itu.
"Hmm, aku akan memaafkan mu tapi dengan satu syarat." Clara tersenyum penuh arti, berbeda dengan Boy yang menelan saliva susah payah. Perasaannya tidak enak saat ini.
"Berteriak lah kalau kau mencintaiku."
"Hanya itu?"
"Tidak, kau harus berteriak sepanjang jalan menuju ke kantor. Lalu saat kita sampai kau harus menggendongku, dan bilang pada semua orang kalau aku adalah istrimu." ujar Clara menangkup pipi Boy dan mengecup sekilas bibirnya. "Apa kau sanggup?"
"Tentu saja, aku akan melakukannya. Itu bukan hal yang sulit."
"Kau yakin, tantangannya belum selesai, Boy." Clara bermain-main di dada bidang Boy, mirip seperti wanita penggoda.
"Maksudmu apa, sayang?" Boy menahan tangan Clara yang sudah berhasil membuat sisi liarnya bangun kembali.
"Kau harus berdandan seperti badut."
"What?"
__ADS_1