
"Kenapa tidak bilang dari tadi kalau Alice hilang," teriak Clara sambil berkacak pinggang dan menatap tajam Mark. "Sekarang kalian berdua cari dia!"
"Sayang, kau yakin ingin aku mencari Alice?" tanya Boy sambil memeluk erat istrinya. "Aku masih mual," rengek nya.
Clara memutar bola mata malas mendengar ucapan Boy. Bagaimana bisa dia marah kalau kakak ipar nya yang sedang mengandung kabur dari rumah akibat ulah Justin. Pasti sudah terjadi sesuatu di antara mereka berdua.
"Kalau begitu aku akan ikut mencarinya," Clara bermaksud untuk menemui ayah mertuanya namun ditahan oleh Boy.
"Lalu rencana jalan-jalan kita bagaimana? Aku ingin sekali naik roller coaster."
"Manja sekali sih! Kita tunda dulu, Boy. Bukankah ini keadaan darurat?" ujar Clara.
Wanita itu naik ke atas untuk mengambil beberapa barangnya agar bisa ikut mencari keberadaan Alice.
Sedangkan Boy dan Mark saling menatap lalu menggidikan mengangkat kedua bahunya. Mereka tidak menyangka jika respon Clara benar-benar di luar dugaan.
"Saya pikir nyonya akan cemburu dan ngamok, Tuan."
"Aku juga berpikir begitu, Mark. Tapi sepertinya dugaan kita salah. Istriku sudah berubah dan aku sangat menyukai perubahannya sekarang," Boy tersenyum melihat Clara yang saat ini mendekat ke arahnya.
"Kita berangkat sekarang?"
Mark mengangguk. "Tentu, Nyonya. Saya sudah bicara pada tuan Dave. Beliau bersedia untuk membantu, ya meski harus dipaksa. Karena sebenarnya tuan besar tidak mau ikut campur lagi mengenai masalah tuan Justin."
Clara menghela nafas. Sungguh ia merasa iba dengan keadaan rumah tangga Justin, Sama seperti dirinya dulu, bahkan saat itu Clara selalu menolak dan menghina Boy.
"Maafkan aku, sayang." ucap Clara seraya memeluk lengan Boy. Kedua nya sudah berada di perjalanan menuju kota Bandung.
"Untuk apa meminta maaf, bukankah kau bilang kita bisa pergi lain kali." Boy mengusap kepala Clara dan mendaratkan kecupan di sana.
"Maaf karena dulu aku pernah menyakitimu. Kau pasti sangat terluka dengan ucapan ku saat itu."
__ADS_1
Clara menunduk dan meneteskan butiran bening dari kedua sudut matanya. Sedangkan Boy, terkekeh melihat tingkah istrinya yang berubah menjadi melow.
"Aku sudah memaafkan mu, jadi untuk apa kau menangis."
"Bodoh!"
"What? Kau bilang apa, sayang?"
"Lupakan!"
Mark tersenyum seraya menggeleng pelan melihat mereka berdua. Pria itu senang, akhirnya sebentar lagi akan segera memiliki dua keponakan. Meski jauh di dalam lubuk hatinya ia juga ingin menikah.
.
.
.
Wanita itu menatap kosong ke depan, sesekali ia tersenyum mengingat ucapan Justin. Kalau pria itu mulai mencintainya. Namun disisi lain ia takut kalau Justin akan meninggalkannya setelah anak yang ada di dalam kandungannya lahir.
"Hah..." Alice menghela nafas. "Mungkin leboh baik aku pergi dan meninggalkan pria menyebalkan itu." gerutunya kesal seraya bangkit dari tempat duduknya.
Alice terkejut saat melihat Justin yang sudah berada di hadapannya dengan nafas yang tersengal.
"Mau kemana lagi kau, Alice Anderson!"
"K-kau! Bagaimana bisa kau tahu kalau aku di sini?!"
"Sudah cukup bermain petak umpet nya! Sekarang ikut aku pulang!" Justin menarik tangan Alice dan mengajak wanita itu masuk ke dalam mobil.
"Tidak mau! Tinggalkan aku sendiri."
__ADS_1
"Lalu kau akan menceburkan dirimu ke sana, iya?!" teriak Justin menunjuk danau yang lumayan dalam tersebut.
"Apa yang kau katakan, Justin. Aku tidak mengerti mphh.."
Justin menarik tengkuk leher Alice dan melabuhkan ciuman di bibir wanita itu. Sebuah sentuhan yang sangat lembut yang belum pernah Alice rasakan sebelumnya.
"Kumohon, jangan tinggalkan aku. Aku ingin bersama mu dan juga anak kita." ucap Justin menatap serius mata Alice. "Maukah kau memulai semua nya dari awal bersamaku, Alice Anderson? Dan maaf untuk semua yang pernah aku lakukan padamu."
Alice mengedipkan kedua matanya tak percaya mendengar ucapan Justin. Ia tidak sedang bermimpi bukan? Jika ya, tolong cubit pipinya.
"A-aku..."
"Gugup mu aku anggap sebagai jawaban kalau kau mau memaafkan aku, sayang."
Tanpa menunggu lama, Justin mengangkat tubuh Alice dan menggendongnya. Berniat untuk membawa istrinya pulang, karena kabut di sekitar danau semakin tebal.
"Justin, turunkan aku!"
"Diam, atau aku akan menghukum mu malam ini!"
Tidak jauh dari mereka, Clara, Boy dan juga Mark tersenyum melihat keduanya. Akhirnya Justin berhasil membawa Alice kembali.
"Kita pulang," ajak Boy.
"Tunggu!"
"Apa lagi, saya--"
Cup!
Mereka berciuman tepat di hadapan Mark tanpa memikirkan perasaan asisten nya itu.
__ADS_1
"Dasar bucin tidak tahu tempat!" gerutu Mark sedikit menjauh meninggalkan mereka berdua.