
Satu minggu berlalu, kehidupan rumah tangga Justin dan Alice seakan tidak ada kemajuan sama sekali. Justin semakin bersikap dingin dan kasar meski Alice sudah melakukan semua kewajibannya sebagai seorang istri. Pria itu seakan menganggap kalau Alice itu tidak ada.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Justin pada Alice yang duduk di sampingnya memakai pakaian seksi dan sedikit terbuka.
"Ini untukmu, kau pasti lelah." Alice menyodorkan secangkir teh hangat pada Justin. Namun, tanpa Alice duga, Justin menepisnya hingga gelas tersebut terjatuh ke lantai.
Prang!
"Sudah kukatakan, jangan masuk ke dalam kamarku. Dan berhentilah berpura-pura menjadi istri yang baik. Karena sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menerimamu." setelah mengatakan itu, Justin beranjak dari duduknya. Ia mengambil handuk dan menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
Berbeda dengan Alice yang hanya diam menerima perlakuan Justin setiap harinya. Merasa tidak sanggup? Tentu saja tidak, Alice bertekad untuk merebut hati suaminya sampai dapat.
"Sampai kapan kau akan bersikap dingin padaku seperti ini, Justin." Alice berjongkok dan membereskan sisa pecahan gelas yang berceceran di lantai. "Aww..." ringisnya saat tanpa sengaja pecahan tersebut mengenai tangannya.
Mendengar teriakan Alice, Justin segera berlari keluar. Tanpa sengaja ia melihat tangan Alice terluka. Ada rasa sesak tersirat di dalam hatinya. Namun, disisi lain Justin juga sangat membencinya. "Dasar ceroboh! Kau bisa menyuruh pelayan untuk membersihkannya." bentak Justin. Meski ucapannya sedikit kasar, pria itu masih memiliki rasa peduli.
Justin menarik tangan Alice agar mendekat ke wajahnya. Dan sengan perlahan, ia menyesapnya hingga darah itu tidak keluar lagi.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa." ucap Alice berusaha untuk menjauhkan tangannya dari bibir Justin. Jujur saja saat ini rasa gugup menyelimutinya.
"Jangan besar kepala, aku melakukannya karena rasa kemanusiaan." ketus Justin. "Aku tidak mau kau menghabiskan uangku untuk pergi ke dokter hanya karena luka kecil ini." Justin selalu di didik oleh mom Sofia untuk menghargai seorang wanita, jadi jika ia melakukan itu pada Alice mungkin saja karena salah satu hasil didikan mommy nya.
"Iya aku tau." Alice berdiri dan keluar dari kamar Justin.
"Arghh! Sial! Sampai kapan aku harus menahan semua ini. Kalau bukan karena bayi itu mungkin aku tidak akan mau menerimanya sebagai istri." Justin mengacak-acak rambutnya frustasi. Segera ia mengambil ponselnya yang berada di atas nakas dan menghubungi seseorang, meminta agar pria itu mengirim makan malam untuk mereka.
Justin baru ingat kalau pelayan yang bekerja di villa akan kembali besok pagi dan hanya bekerja padanya sampai pukul lima sore.
.
.
.
.
__ADS_1
Keesokan harinya, Clara dan Boy sudah berada di sebuah rumah sakit terkenal di kota. Mereka berniat untuk memeriksakan kandungan Clara. Beberapa hari ini ia merasakan sakit luar biasa di bagian intinya.
Saat ini mereka berdua ada di dalam ruangan pemeriksaan. Sejak tadi Boy menatap tak suka pada dokter Aldo. Clara terlihat akrab dan terus bercanda bersama pria itu.
"Cepat lakukan dan jangan sampai kau menyentuh istriku!" celetuk Boy kesal saat melihat Aldo yang mulai memegang perut Clara.
"Bagaimana aku tau keadaanya jika tidak boleh menyentuhnya sama sekali. Lagipula aku memakai kaos tangan. Tidak ada kontak fisik dan--" kalimat dokter Aldo terpotong saat Boy menarik lengan kemejanya, hingga membuat pria itu sedikit sesak.
"Jangan banyak bicara! Kau membuang-buang waktuku."
"Sayang, apa yang kau lakukan. Cepat lepaskan!" Clara melerai mereka berdua.
"Aku akan menunggu diluar, jika aku terus berada di dalam mungkin aku bisa gila karena cemburu." Boy benar-benar keluar meninggalkan mereka berdua untuk mendinginkan hati dan pikirannya. Kalau saja terlihat mungkin saat ini asap putih terlihat keluar dari telinganya.
"Wow, Tuan Matteo. Anda di sini?" sapa seorang pria bule dengan tubuh tinggi, tampan dan manik mata berwarna biru.
"Nicholas..."
__ADS_1