London One Night Stand

London One Night Stand
Chapter 31


__ADS_3

Boy sudah berada di depan kamar vvip dimana Alice berada, tanpa menunggu lama pria itu mendobrak pintu dengan kasar. Membuat kedua pria yang berada di dalam sana kaget dan menoleh ke arahnya.


"Brngsek! Lepaskan wanita itu!" teriakan Boy menggema. Di tambah saat ini, ia melihat keadaan Alice yang hampir polos tanpa sehelai benang dan terlihat berantakan.


"Siapa kau! Jangan sok ikut campur." bentak salah satu pria yang berada di atas Alice. "Wanita ini sudah berani menggoda kami, jadi dia harus bertanggung jawab." jelasnya.


Alice menggeleng di sela tangisnya. Ia tida menyangka jika Boy akan melihat keadaanya yang mengenaskan seperti ini.


Jika begini, apa Boy masih mau menerimanya?


"Tidak. Boy! Itu sama sekali tidak benar. Mereka yang sejak tadi--"


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di pipi Alice. Membuatnya meringis kesakitan. "Diam jallang! Kau datang ke club malam karena ingin mencari kepuasaan bukan? Jadi aku akan melakukannya." seringai tipis terlihat di sudut bibir pria itu.


Boy tidak mendekat, namun ditahan oleh pria yang lain. Terjadilah baku hantam sengit di antara mereka berdua.

__ADS_1


"Tolong, Tuan berhentilah berkelahi di sini." ujar manager club namun sama sekali tidak di dengar oleh mereka berdua.


Beberapa pukulan Boy layangkan hingga membuat kedua pria itu tidak sadarkan diri.


"Boy...Alice..." ucap mereka bersamaan.


Alice berlari memeluk Boy. Sedangkan Boy memalingkan wajahnya melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat malam ini.


"Maafkan aku terlambat datang." Boy membalas pelukan Alice, mengusap kepala wanita itu dan berusaha menenangkannya.


Alice masih menangis sesegukan tanpa menjawab kalimat yang di lontarkan oleh Boy. wanita itu mendongak dan menaik tengkuk leher Boy.


"Alice hentikan! Kau mabuk 'kan?! Kita pulang sekarang." Boy melepas jaket dan kemejanya untuk menutupi tubuh Alice lalu membopong wanita itu pergi dari sana.


Tanpa ia tau sejak tadi Clara sudah berada di belakangnya, menatap mereka berdua dengan raut wajah yang sulit diartikan. Hatinya terasa sakit, entah karena efek kehamilannya atau karena hal lain.


"Nyonya anda tidak--"

__ADS_1


"Kita pulang saja. Sepertinya aku mengantuk." Clara meninggalkan tempat itu. Andai saja malam ini Boy tidak pergi, mungkin saat ini pria itu sudah mengetahui kabar kehamilannya.


"Tapi, Nyonya." Mark melirik Boy sekilas dan segera mengikuti Clara. Inilah yang pria itu takutkan saat Boy memutuskan untuk menikahi Clara dan melepaskan Alice.


"Aku tidak mau ikut campur dengan urusan mereka berdua." gumam Boy.


Di dalam mobil, Clara menangis. Butiran bening yang ia tahan sejak tadi akhirnya tumpah. "Air mata sialan, kenapa kau harus menetes sih! Ayolah Clara, kau tidak mungkin 'kan cemburu pada bodyguard mu sendiri. Tapi kenapa rasanya sesak..." Clara menyentuh dadanya, kemudian turun ke perut lalu mengusapnya perlahan.


Clara tidak menyadari jika Boy sudah duduk di sampingnya dan melihat apa yang ia lakukan.


"Nyonya..."


"Antar aku pulang ke mansion kakak." perintah Clara lalu memalingkan wajahnya keluar jendela.


"Bagaimana kalau tuan mencari anda." Boy baru saja menghubungi Mark dan memintanya menjaga Clara karena kemungkinan malam ini dia tidak akan pulang.


"Kau pikir aku peduli! Lagipula dia juga tidak akan pulang malam ini. Dan mungkin saja sedang bersenang-senang dengan wanita itu." ketus Clara. "Kalau kau tidak mau, aku pesan taksi saja!"

__ADS_1


"Iya, Nyonya. Saya akan mengantar anda."


...****************...


__ADS_2