
Justin pulang dan mencari keberadaan Alice. Namun, wanita itu sama semaki tidak ada dimanapun. bahkan dia sudah menelusuri semua sudut Villa. "Sial, pergi kemana lagi dia," gerutu Justin kesal lalu masuk ke dalam mobil dan berniat kembali ke Jakarta. Karena setahu Justin, kalau sedang marah istrinya itu akan kembali ke rumah orangtuanya untuk menenagkan diri.
"Tuan, anda yakin ingin kembali ke Jakarta sekarang? Bagaimana kalau nyonya masih berada di Bandung?" tanya Mark mencoba menahan Justin agar tidak pergi. Mana mungkin Alice kembali ke Jakarta sedangkan ia sama sekali tidak memegang uang sepserpun.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Aku ingin mencari istriku, Mark."
"Tapi, Tuan. Saya merasa kalau nyonya masih berada di sekitar sini. Beri saya waktu satu jam," Mark menghubungi seseorang yang sangat paham dengan saerah Bandung.
"Untuk apa, aku sudah memberimu cukup banyak waktu dan kau menyia-nyiakan semuanya." pria itu memasukkan beberapa barang pentingnya ke dalam koper. Justin memutuskan untuk tinggal di Jakarta bersama dengan adik dan iparnya. Itu tandanya, mereka akan kembali tinggal di bawah atap yang sama.
"Dasar keras kepala!" umpat Mark dalam hati. Kenapa ia selalu saja ada diantara kedua pria keras kepala yang sama sekali tidak mau mendengarkan nasehatnya.
"Sudah puas mengumpatku, hum?"
"Mana ada, saya bahkan sejak tadi diam," jawab Mark sedikit gugup. Padahal diirnya mengumpat dalam hati, bagaimana bisa Justin mendengarnya. Mungkin mulai sekarang ia harus lebih berhati-hati lagi, pikir Mark.
Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Jakarta karena Justin bersikeras kesana, entah kenapa fellingnya mengatakan kalau Alice berada di mansion keluarganya.
__ADS_1
Setelah melakukan perjalanan selama tiga jam, mobil yang mereka tumpangi sudah memsuki gerbang mansion keluarga Anderson. Justin bergegas turun dan masuk ke dalam mencari keberadaan istrinya. Langkah kakinya terhenti saat dua orang berbadan besar dan tinggi melarangnya masuk.
"Maaf, anda siapa?" tanya salah satu bodyguard.
"Minggir, jangan halagi jalanku!" Justin berusaha menerobos masuk namun kembali di tahan.
"Saya hanya menjalankan tugas, Tuan. Jadi jangan membuatnya sulit."
Justin menarik nafas panjang dan melepaskan satu pukulan arah pria itu hingga jatuh tersungkur ke lantai.
"Apa dirumahmu tidak ada televisi, hah? Kau tidak mengenalku?"
"Cukup, Tuan. Kita tidak punya banyak waktu!" Mark mencoba menahan lengan Justin agar tuan nya itu tak lagi melakukan hal bodoh.
"Kau sama saja menyebalkannya seperti mereka, Mark!" Jayden berhasil melewati kedua Bodyguard dan masuk kedalam. Ia berteriak memanggil nama Alice, tapi wanita itu tak kunjung keluar.
"Dia tidak ada di sini, Justin," ucap seorang wanita yang tak lain adalah mertuanya. "Kenapa kau mencarinya? Apa dia pergi, kalian sedang bertengkar?" tanya nyonya Anderson, ia terlihat khawatir dan mencecar Justin dengan banyak pertanyaan.
__ADS_1
"Tidak, Ibu. Hanya saja kami berselisih paham karena masalah kecil. Alice pergi dan sama sekali tidak pamit padaku. Sungguh aku sangat menyesal sudah membuat istriku marah," Justin meraih tangan ibu mertuanya.
Berbeda dengan Mark, ia seakan ingin muntah mendengar bualan Justin. Padahal selama ini dirinya lah yang mengacuhkan Alice dan menganggapnya tidak pernah ada.
"Astaga, sayang. Beruntung sekali Alice memiliki suami yang sayang dan perhatian seperti dirimu. Semoga rumah tangga kalian langgeng dan bahagia selalu," ujar nyinya Anderson memeluk Justin dengan sangat erat.
"Terima kasih, Ibu."
"Jika sedang marah Alice akan pergi ke tepi danau."
"Apa?!" pekik Justin.
"Hei, kenapa kau terlihat kaget begitu?"
"Ti-tidak, Bu. Aku pikir Alice--"
"Berniat bunuh diri?" potong nyonya Anderson. Justin mengangguk cepat sebelum ibu mertuanya semakin berpikir negatif tentang hubungan mereka yang memang tidak baik-baik saja. "Dia tidak akan melakukan itu. Apalagi saat ini Alice sedang hamil."
__ADS_1
"Sial," Justin mengurai pelukan ibu mertuanya dan segera pergi dari sana, ia takut Alice nekad dan ingin mengakhiri hidupnya.