London One Night Stand

London One Night Stand
Chapter 43


__ADS_3

"Arghh..." seorang wanita sedang melempar semua barang berharga yang berada di dalam kamarnya. Membuat semua pelayan yang berada di rumah itu sama sekali tidak berani mendekatinya.


"Sayang, hentikan. Kau bisa membuat dirimu terluka." ujar Karmila, ibu kandung Alice. Wanita itu baru saja kembali dari luar negeri saat tahu suaminya meninggal. Hubungan mereka selama ini memang tidak begitu harmonis seperti yang terlihat.


"Kenapa Ibu pulang? Bukankah Ibu lebih senang berada jauh dari kami. Dan sekarang, Ayah meninggalkan aku sendirian hiks..." Alice meratapi kepergian sang ayah yang baginya terkesan tiba-tiba. Di tambah lagi dirinyalah salah satu penyebab utama meninggalnya tuan Anderson.


Kabar kehamilan Alice membuat ayahnya terkena serangan jantung di usia yang terbilang cukup muda.


"Semua salahku, dan sekarang aku hamil. Sedangkan pria yang menghamili ku malah mencintai wanita lain. Hidupmu benar-benar menyedihkan, Alice!"


Prang!


Alice memukul cermin yang berada di hadapannya dengan vas bunga hingga hancur berkeping-keping. Ia mengambil salah satu bagian yang runcing dan menempelkan di pergelangan tangannya.


"Aku sudah tidak sanggup lagi. Aku tidak bisa hidup tanpamu, Boy." gumam Alice.


Karmila yang melihat itu menjerit histeris. Ia tidak menyangka jika Alice akan berbuat nekad seperti ini. "Buang benda itu sayang, Bunda mohon. Jangan main-main, itu bisa melukaimu." teriak Karmila yang sudah mulai kebingungan harus berbuat apa.


Ingin sekali ia menghubungi Boy, namun jika ia melangkah pergi pasti Alice akan lebih nekad dari sekarang. Terpaksa ia menyuruh salah satu pelayan untuk menghubungi Boy dan memintanya datang kemari.

__ADS_1


"Hubungi dia, katakan kalau Alice sedang mencoba untuk bunuh diri." bisik Karmila perlahan namun terdengar oleh Alice.


"Baik Nyonya." angguk pelayan tersebut lalu pergi.


"Ibu tidak perlu memanggilnya, karena aku baik-baik saja sekarang." ucap Alice menangis sesegukan. Jujur saja ia tidak pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Yang dia lakukan sekarang hanya untuk memanggil Boy, agar pria itu mau datang kemari.


"Berhentilah bersikap manja dan seperti anak kecil begini, Alice! Ibu hanya ingin kau bahagia sayang." Karmila mendekat, mencoba menenangkan Alice. Namun wanita itu menolak dan menepisnya.


"Berhenti di sana sebelum aku melakukan hal yang lebih dari ini."


******


Clara masih enggan beranjak dari sofa, meski sejak tadi Boy terus memanggil namanya. Meminta dirinya untuk naik ke atas ranjang dan tidur bersama.


Boy menghela nafas kasar. Ia mendekati Clara dan terpaksa membopong wanitanya agar mau tidur di atas ranjang bersama nya.


"Turunkan, Boy! Aku bisa jalan sendiri."


"Katakan, aku sudah menunggu selama ini." ujar Boy meletakkan Clara perlahan dia atas ranjang. Dengan lembut ia mengusap dan membingkai wajahnya.

__ADS_1


"Katakan apa maksudku?" ucap Clara sedikit terbata. Mencoba menyembunyikan rasa gugupnya.


"Clara Alfred!" Boy sedikit meninggikan suaranya dan menata tajam wanita yang saat ini sedang mengalihkan wajahnya setiap kali ia menatapnya.


Sungguh, Clara melakukan itu hanya untuk mengontrol detak jantungnya yang berdetak begitu kencang karena berdekatan dengan Boy.


"A-ku sebenarnya aku hamil..."


Drtt...drtt..!


Ucapan Clara berbarengan dengan bergetar nya ponsel milik Boy yang berada di saku celananya. "Alice..."


Clara tersenyum getir. Lagi-lagi perempuan pengganggu itu lagi. "Pergilah, aku tidak apa-apa." lirihnya. Padahal jauh di dalam lubuk hatinya, Clara ingin Boy tetap tinggal.


"Kau yakin ingin aku pergi?" Boy tersenyum tipis melihat Clara mengangguki ucapannya lalu ia segera beranjak dari sana. "Padahal aku ingin sekali kau menahan ku agar tidak pergi."


Melihat Boy yang benar-benar pergi demi wanita lain membuat Clara kesal. Ia mengingat kembali ucapan dokter Aldo, sahabatnya.


"Tidak! Kau tidak boleh pergi!" gumam Clara berlari mengejar suaminya.

__ADS_1


"Boy Matteo! Kembali atau tidak sama sekali!" teriakan Clara membuat Boy menghentikan langkah kakinya dan menoleh dengan senyuman lebar di kedua sudut bibirnya.


"Akhirnya kau menahan ku juga, dasar wanita keras kepala." gumam Boy.


__ADS_2