
"Mommy mau mulai besok kalian tinggal di mansion utama!"
"What?!" pekik Clara dan Boy bersamaan lalu keduanya saling menatap.
Mom Sofia menatap curiga ke arah mereka berdua, seakan ada yang sedang di sembunyikan. Di tambah lagi keduanya sudah menikah hampir dua bulan dan belum ada tanda-tanda Clara hamil.
"Kalian sedang tidak menyembunyikan sesuatu dariku 'kan?" tanya mom Sofia memincingkan matanya penuh curiga.
"Tentu saja tidak ada, Mom." jawab Boy sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Meski gugup, Boy masih bisa menyembunyikan itu.
Berbeda dengan Clara yang ingin menolah tapi tidak bisa. "Baru berada di sini satu jam saja sudah membuatku hampir terkena serangan jantung, apalagi kalau tinggal bersama selamanya." gumam Clara.
Wanita itu menatap ke arah lain, agar mom Sofia tidak tau kalau ia sedang mengumpatnya.
Boy yang mengerti kenapa Clara diam tersenyum tipis. Mungkin ini satu-satunya cara agar ia bisa lebih dekat pada Clara. "Baiklah aku setuju. Besok kami akan pindah." ujar Boy dengan yakin membuat raut wajah mom Sofia berubah sendu.
Setelah sekian lama, akhirnya Boy mau pulang. Dan semua itu karena Clara.
"A-apa? Pindah? Kau bahkan belum minta persetujuan dariku, Boy. Bagaimana bisa..."
"Boy? Jadi selama ini kau memanggil suamimu dengan nama?" potong mom Sofia.
Clara mengangguk, ia menelan kasar ludahnya melihat tatapan tajam mertuanya itu.
"Mulai sekarang Mom tidak mau mendengarmu memangilnya dengan nama. Awas saja kalau Mom masih mendengarnya." ancam mom Sofia membuat Clara tidak bisa berkutik.
"Tapi Mom aku..."
"Dan satu lagi, kemanapun suamimu pergi kau harus ikut dan tidak boleh membantah. Apa kau mau jadi istri durhaka, hum?" lagi-lagi Clara mati kutu dibuatnya. Ia menghela nafas kasar, terpaksa menerima keputusan mertuanya.
__ADS_1
Boy tersenyum puas dalam hati, ia merasa kalau kedatangan mom Sofia adalah sebuah keberuntungan.
"Thanks, Mom." Boy memeluk mom Sofia dan mencium kedua pipinya. Tanda kalau ia begitu menyayangi wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Boy aku... em maksudku sayang, aku kau ke toilet sebentar." ucap Clara segera beranjak dari duduknya.
Sudah hampir satu bulan ini, Clara sering buang air kecil. Sangat menganggunya. Namun setelah dokter Aldo mengatakan penyebabnya, ia mulai terbiasa.
"Kenapa? Apa kau sudah mulai mencintai istrimu yang manja dan tidak bisa memasak apapun itu?" tanya mom Sofia pada Boy yang sejak tadi senyum-senyum sendiri tidak jelas. Wanita itu tau bagaimana putranya jika sedang jatuh cinta.
"Mungkin." jawab Boy. "Aku hanya merasa nyaman saat berada di dekatnya. Itu saja."
"Lalu bagaimana dengan Alice? Kalian masih berhubungan 'kan?" mom Sofia kembali menyeruput teh yang ada di atas meja.
"Alice hamil mom."
Prang!
"Clara, kau tidak apa-apa?" teriak Boy khawatir melihat pecahan gelas itu hampir mengenai kakinya.
"A-aku baik-baik saja." tanpa sengaja Clar mendengar kalimat Boy yang mengatakan kalau Alice itu hamil. Benarkah suaminya sudah melakukan hubungan terlarang itu dengan wanita lain?
"Astaga, kau sembrono sekali! Bagaimana kalau kau terluka?" bentar mom Clara memapah menantunya itu agar duduk di atas ranjang.
"Maaf, Mom." lirih Clara menunduk. Sebenarnya wanita itu sedang menahan air matanya agar tidak jatuh, entah kenapa hatinya merasa begitu sakit mendengar kenyataan yang ada di depan mata.
"Jangan cengeng," ujar mom Sofia menarik Clara ke dalam pelukannya.
Clara terisak dan wanita itu seakan tau apa penyebabnya.
__ADS_1
Boy senang melihat kedekatan mereka berdua. Padahal selama ia menjalin hubungan dengan Alice, mom Sofia sama sekali tidak pernah sehangat ini pada Alice.
******
"Ada apa?" tanya Boy melingkarkan tangannya di perut Clara. Mereka sudah berada di atas ranjang dan bersiap untuk istirahat karena malam mulai berganti pagi.
"Singkirkan tanganmu, Boy." ketus Clara kesal.
"Sayang. Aku mau kau memanggilku seperti itu." desis Boy. Saat ini ia wakahnya sudah berada dintengkuk leher Clara dan menciumnya dengan penuh kelembutan.
"Dasar buaya! Menyuruhku memanggilmu sayang tapi kau menghamili wanita lain." teriak Clara yang sudah tidak tahan lagi menahan emosi yang sejak tadi ia pendam.
Degh.
"Jadi kau mendengarnya..."
"Memuakkan. Kau adalah pria yang paling menjijikkan Boy!" Clara hendak beranjak dari tidurnya namun dengan cepat Boy menahannya. Pria itu mengungkung dan menindih tubuhnya.
"Boy, lepas..."
Cup!
Benda kenyal itu menempel dan mencium Clara sedikit agresif dan menuntut. Membuat bibir Clara sedikit bengkak dan berdarah akibat ulahnya.
"Mphh..." Clara mencoba memberontak, tapi akhirnya kalah. Nalurimya menginginkan Boy melakukan lebih dari sebuha ciuman.
"Aku mencintaimu, entah sejak kapan perasaan itu mulai muncul. Tapi percayalah kalau aku tidak pernah menghamili Alice."
Clara tersenyum kecut dan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Pembual." setelah mengatakan itu Clara benar-benar meninggalkan Boy dan memilih untuk merebahkan dirinya di sofa.