
"Aku ingin makan es itu," Clara menunjuk ke arah dimana ada penjual es krim yang berada di pinggir taman.
Justin menganga tak percaya, Clara mengajaknya pergi jauh hanya untuk membeli sebuah es krim? Ia pikir wanita itu akan mengajaknya ke mall untuk membeli barang-barang branded seperti yang saat ini dipakai olehnya.
"What? Kau mau makan es krim?" tanya Justin.
Clara mengangguk lalu duduk di salah satu kursi yang berada di pinggir taman. "Cepat, Justin. Aku ingin sekali makan es krim itu."
Justin tersenyum. "Baiklah aku akan membelikannya untukmu." ucapnya hendak melangkah dari sana, namun terhenti karena ucapan Clara.
"Aku mau rasa coklat dan stroberi di campur menjadi satu."
Degh!
Pria itu teringat sesuatu dimana sang adik juga meminta hal yang sama dengan Clara, selalu minta dibelikan es krim saat dirinya sedang bersedih.
"Tentu, seperti mau mu."
Setelah menunggu beberapa menit, Clara akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan. Dengan cepat, wanita itu mengambil es krim yang berada di tangan Justin.
"Terima kasih." Hanya itu yang Clara ucapkan.
Seharusnya ia tidak hanya meminta es krim bukan, mengingat Justin adalah orang kaya. Namun akhir-akhir ini kepalanya sering merasa pusing dan keinginan untuk berbelanja barang-barang mahalnya pun sirna begitu saja.
"Kau menyukainya?" tanya Justin melirik es krim yang mulai habis di tangan Clara.
"Entahlah, tiba-tiba saja aku ingin memakannya. Padahal aku benci sekali makanan manis. Aneh bukan." ucap Clara dengan tawa geli yang terukir di bibirnya.
__ADS_1
Clara menghela nafas, ia melamun dan memikirkan akan seperti apa kehidupannya setelah ini. Tunggu, wanita itu mengingat sesuatu dan mulai panik.
"Justin, ini tanggal berapa?"
"Kenapa kau menanyakan itu, apa kau ada janji dengan seseorang?" ujar Justin. Ia melihat tingkah Clara yang begitu aneh hari ini.
"Katakan saja, aku--"
"Lima belas." potong Justin.
"What?!" Clara bangkit dari duduknya lalu menggigit jari kukunya dan bolak balik di tempat.
Justin yang melihat itu ikut beranjak dan menenangkan Clara. "Jika kau butuh sesuatu katakan saja, aku siap membantumu."
Clara terdiam dan masih larut di dalam lamunannya. Memorinya kembali berputar dimana ia melakukan malam panas itu bersama Boy akhir bulan lalu.
Clara meraih clutch bag nya dan berjalan meninggalkan Justin.
***
Clara sudah berada di kamar mandi, sebelum pulang ia mampir ke mini market terdekat untuk memastikan sesuatu.
"Ayo Clara, tarik nafas dan hembuskan." Ia meraih benda pipih yang berada di tangannya lalu meliriknya dengan mata yang sedikit terpejam.
"TIDAK!" Clara reflek menjerit saat melihat dua garis merah terlihat jelas di sana.
Mendengar suara teriakan, Boy yang baru saja pulang dari kantor langsung berlari masuk menuju ke kamar Clara.
__ADS_1
"Clara, apa yang terjadi. Kau baik-baik saja bukan?" Boy mengetuk pintu tersebut namun sama sekali tidak mendapat jawaban dari wanitanya.
"Clara, jangan bercanda cepat jawab aku!" seru Boy.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, Clara keluar dari sana dalam keadaan baik-baik saja.
Boy menghela nafas dan menarik Clara ke dalam pelukannya. "Aku pikir terjadi sesuatu padamu."
Perlakuan Boy yang tiba-tiba seperti ini membuat hati Clara menghangat. Ia merasa nyaman dan tenang.
"Menyingkir lah, kau terlalu erat memelukku!"
"Maafkan aku," Boy mengurai pelukannya. Matanya menelisik ada yang aneh pada wanita itu.
"Tadi aku melihat kecoak, itu saja," ucap Clara sedikit gugup. Wanita itu tau kalau Boy pasti akan bertanya kenapa ia berteriak tadi.
Boy memapah Clara ke ranjang dan mengambil air minum untuknya. "Kau marah?" tanya Boy duduk di samping Clara.
Pertanyaan macam apa itu? Untuk apa dia marah untuk sesuatu tang sama sekali terasa tidak penting baginya.
"Jangan membahas itu, aku ingin istirahat. Kau kembalilah ke kamarmu." usir Clara, ia merebahkan dirinya ke ranjang lalu menyelimuti dirinya dan membelakangi Boy.
"Aku akan tidur disini bersamamu."
"Apa yang kau katakan, aku tidak mau--"
__ADS_1
"Tanpa penolakan!" Boy beranjak menuju ke kamar mandi dan untuk membersihkan dirinya.
"Dia benar-benar tidak waras!"