
"Dad, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku dan Alice sama sekali tidak punya hubungan apapun." elak Justin karena sejak tadi dad Dave terus menekan dan menuduh dirinya sudah berbuat senonoh pada Alice. "Wanita gila ini yang menjebak ku supaya tidur bersama dengannya."
"Apa kau bilang? Aku menjebak mu? Kau waras kan." Alice menempelkan punggung tangannya di dahi Justin, namun dengan cepat di tepis oleh pria itu.
"Jangan menyentuhku!"
"Kau bahkan sudah menyentuhku dua kali dan sekarang aku hamil. Dasar buaya." Alice melipat kedua tangannya di bawah dada dan memalingkan wajahnya. "Kau harus bertanggung jawab."
"Ogah! Aku tidak mencintaimu. Lagipula aku tidak yakin kalau bayi dalam perutmu itu anakku." Justin menatap tajam Alice, ia merasa sedang terpojokkan dan mencoba mencari alasan.
"Cukup! Daddy tidak mau tau, hari ini juga kalian harus segera menikah." tegas dad Dave lalu menyuruh Mark untuk mempersiapkan semuanya.
"Tapi Dad..."
"Tidak ada penolakan, Justin."
Justin menghela nafas kasar. Perintah daddy nya tidak bisa diganggu gugat. Keinginannya adalah menikah dengan Clara, bukan dengan Alice. "Baiklah, aku setuju menikah dengannya. Tapi, setelah anak itu lahir aku ingin bercerai."
"Apa kau bilang?" terlihat raut kecewa dari wajah Alice. Namun, wanita itu mencoba untuk tetap bersikap seperti biasanya. "Baiklah, aku setuju..."
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Justin. "Sejak kapan kau menjadi pengecut begini, hum? Apa Daddy pernah mendidik mu jadi pria yang tidak bertanggung jawab, katakan!" bentak dad Dave dengan lantang. "Kau pikir, pernikahan itu sebuah permainan, begitu?!" Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Justin.
"Dad aku hanya membela diri, di sini aku korbannya." lagi-lagi Justin melawan semua ucapan dad Dave. Berbeda dengan Alice yang meremat ujung gaunnya menahan emosi. Dirinya seperti di permainkan dan diabaikan oleh Justin.
"Baiklah aku setuju." ucap Alice.
__ADS_1
"Jangan dengarkan Justin, Nak. Dia tidak waras." dad Dave tau apa yang Alice rasakan dan mencoba membelanya.
"Aku baik-baik saja, Dad. Sama seperti dirinya, aku juga tidak mencintainya!" Alice menghapus air matanya dan bangkit. "Aku akan membereskan barang-barang ku." ucapnya lalu berlalu dari sana.
"Kau lihat, dia menangis. Bagaimana bisa kau menyakiti hati seorang wanita, hah?!" dad Dave mengusap wajahnya frustasi. "Belajarlah dari adikmu!"
"Terus saja bandingkan aku dengan dia. Karena semua yang aku lakukan selalu salah di mata Daddy." Justin menyusul Alice dan meninggalkan dad Dave.
"Kenapa mereka berdua sangat berbeda." gumamnya lirih memikirkan sikap kedua putranya yang bertolak belakang. Boy memang tidak bisa diatur, tapi kalau menyangkut kedua orang tuanya, ia sangat penurut.
"Lepaskan Justin, sakit." pekik Alice merasakan sakit di pergelangan tangannya.
"Menjijikan, aku tidak menyangka kalau kau itu wanita licik yang menghalalkan banyak cara untuk mendapatkan keinginanmu."
"Apa maksudmu? Aku tidak--"
"Lupakan masa lalu kita, karena sampai kapanpun hanya ada Clara di dalam hatiku. Selama ini aku memberimu kesempatan, tapi kau malah menghancurkan semuanya." Justin benar-benar marah mengingat apa yang Alice lakukan dengan alasan mendapatkan hati Boy.
"Lakukan saja, dan bersiaplah untuk sebuah penolakan."
Brak!
Alice duduk di tepi ranjang dan merenungi nasibnya. Justin adalah cinta pertama Alice. Namun saat itu Alice tidak berani mengatakannya karena Justin sudah memiliki kekasih.
Tanpa Alice duga, Boy juga memiliki perasaan padanya. Ia terpaksa menerima cinta Boy untuk membuat Justin cemburu, namun semua nya sia-sia. Hingga ia terpaksa menjebak Justin untuk tidur dengannya.
Meski ada darah daging Justin di dalam perutnya, pria itu masih tetap tidak mau menerimanya. "Lihat saja, kau nanti yang akan mengejar ku!"
__ADS_1
Justin dan Alice sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Mereka menikah di depan pemuka agama, disaksikan oleh dad Dave.
"Maaf, karena Daddy belum bisa membuat pesta meriah untuk pernikahan kalian." ucap dad Dave pada Alice, lalu diangguki oleh menantunya itu.
"Aku mengerti Dad, tidak perlu membuat pesta atau apapun." jawab Alice. Ia berniat mencium punggung tangan Justin, namun di tepis olehnya.
"Berhenti bersikap sok baik." ketus Justin berlalu meninggalkan Alice.
"Jangan pikirkan sikapnya yang dingin itu." ucap dad Dave mengusap punggung Alice dan mengajak menantunya pulang.
******
"Boy, emm maksudku sayang. Kau belum menghabiskan sarapan mu." Clara duduk di samping Boy yang sedang fokus pada ponselnya. " Kau harus segera berangkat ke kantor, karena hari ini--" belum selesai Clara bicara, Boy melirik tajam ke arah nya.
"Kenapa tidak dilanjutkan?" Boy meletakkan ponselnya dan mendekati Clara.
"K-kau mau apa?"
"Menurutmu..." Boy menarik tangan Clara hingga wanita itu jatuh ke dalam pelukannya. "Aku tidak suka ada yang memanggilmu sayang selain aku. Jangan menatap daddy juga Justin. Jauhi mereka!" jelas Boy dengan nafas menggebu, terlihat sekali kalau dia sedang menahan amarah.
"Pufthh!" Clara menahan tawanya. "Jadi suamiku cemburu pada daddy dan kakaknya sendiri, begitu?"
"Mana ada, aku tidak cemburu." jawab Boy malu-malu, wajahnya merona.
"Oh, begitu. Baiklah aku akan turun dan menyambut daddy juga Justin."
"Untuk apa menyambut mereka?" Boy menduselkan wajahnya di ceruk leher Clar, mencium aroma vanila yang khas pada wanita itu.
__ADS_1
"Justin sudah menikah dengan Alice. Dan dipastikan mereka akan tinggal satu rumah bersama kita."
"Mereka menikah?" Boy terlihat kaget dan mendongak menatap Clara yang kemudian mengangguk mengiyakan. "Setelah ini pasti akan banyak masalah terjadi." gumam Boy dalam hati.