
Keesokan harinya, Darren sudah bersiap untuk membawa Clara ke dokter. Awalnya ia menolak karena takut dengan jarum suntik. Namun, Jean berhasil meyakinkan dirinya.
"Kak, kenapa harus ke dokter. Kenapa tidak ke mall atau liburan ke London?" ujar Clara bergelayut manja pada Darren.
"Jangan menyentuhku, Clara!" bentak Darren karen sampai sekarang hanya Jean dan kedua putra putrinya yang bisa bersentuhan fisik dengannya. "Apa kau tidak melihat perut kakak ipar mu sebentar lagi akan meletus?" ceplos Darren tanpa sadar.
"Apa kau bilang sayang? Bukankah kau yang membuatku jadi seperti ini. Tiap malam selalu saja tidak berhenti meminta jatah!" gerutu Jean tak terima dengan ucapan Darren. Ya, mereka sudah tidak sabar menunggu kelahiran bayi ketiganya.
Clara hanya menggeleng melihat tingkah Darren dan Jean. Tapi ia juga ikut senang, meski begitu mereka saling mencintai. Tidak seperti dirinya yang hamil karena sebuah kesalahan.
"Masih ingin pergi ke dokter atau tidak?" tanya Darren langsung diangguki oleh Clara.
"Aku berangkat, honey." Darren mengecup bibir Jean.
"Hum, hati-hati. Jangan lirik kanan kiri." ketus Jean.
"Astaga Kak, kami hanya pergi ke dokter bukan club malam. Mungkin lain kali aku bisa mengajak Kakak ke sana sih," Clara sengaja menggoda Jean.
Jean yang merasa kesal melempar apel yang berada di tangannya ke arah Darren. Namun, pria itu berhasil menghindar.
Bugh!
"Aww..." pekik Boy yang tiba-tiba datang dan langsung mendapat sambutan buah apel.
"Oh God! Aku salah sasaran." Jean segera berlari dan menghampirinya. "Apa sakit, Boy?" tanpa merasa bersalah sama sekali, Jean menanyakan sesuatu yang jelas membuat Boy menahan marah. Buah apel itu tepat mengenai burung nya yang sedang tertidur lelap.
Darren menahan tawanya mati-matian, namun segera menetralkan kembali ekspresi wajahnya. Sedangkan Clara lebih memilih diam dan pergi terlebih dahulu dari sana.
"Clara, tunggu! Aku--" belum selesai Boy bicara seseorang menahannya.
Bugh!
__ADS_1
Bugh!
Dua bogeman mentah mendarat di perut dan pipi Boy. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Darren, yang sejak semalam menahan emosi.
"Sayang, apa yang kau--" ucapan Jean terhenti saat Darren memberi kode padanya untuk diam dan kembali menghajar Boy.
"Kenapa kau diam saja, hah! Balas aku sialan!"
"Darren, hentikan! Penyakitmu bisa kambuh lagi." teriak Jean yang langsung berlari memeluk Darren sekaligus berniat menenangkannya.
Boy hanya diam menunduk tanpa berani membalas pukulan Darren. "Aku hanya ingin bicara dengan istriku, itu saja."
"Istri kau bilang? Sejak kapan kau menganggapnya istri!" bentak Darren. "Kalau kau memiliki tunangan kenapa meminta Clara menjadi istrimu, hah?!"
Clara yang mendengar suara keributan dari luar segera masuk lagi ke dalam. Ia shock saat melihat suami dan kakaknya yang sama-sama terluka.
"Kak, apa yang terjadi?" tanya Clara yang lebih memilih mendekati Darren dibandingkan dengan Boy. Ada rasa kasihan di dalam hatinya saat melihat pria itu terkapar tidak berdaya, namun Clara menepis semua perasaannya.
"Dokter?" Boy menautkan kedua alisnya mendengar Mark menyebut kata dokter.
"Mampus, aku keceplosan lagi." gumam Mark dalam hati setelah mendapat tatapan tajam dari Clara.
"Lupakan, kita pulang sekarang." Clara memapah Boy dan mengajaknya pulang. "Lain kali saja kita pergi, Kak."
Darren dan Jean hanya mengangguk. Mereka tidak mau ikut campur dengan urusan rumah tangga sang adik. Kecuali kalau Clara yang memintanya.
****
Selama dalam perjalan menuju ke apartemen, Clara dan Boy saling diam dan tidak banyak bicara. Tidak seperti saat mereka belum menjadi sepasang suami istri.
Dulu, Clara banyak bicara, sekarang hubungan mereka malah menjadi canggung. Di tambah lagi apa yang Clara lihat tadi malam. Mungkin Boy sudah menghabiskan malam panas bersama kekasihnya itu.
__ADS_1
"Nyoya, kita langsung ke rumah sakit atau pulang?" tanya Mark mencoba mencairkan suasana.
"Pulang!" ucap Clara dan Boy bersamaan. Mereka saling menatap kemudian memalingkan wajah.
Boy melirik Clara yang sejak tadi lebih memilih menatap ke luar jendela. Lidahnya seakan kelu untuk berucap.
"Maafkan aku," lirih Boy yang hampir tidak terdengar sama sekali oleh Clara. "Hei, apa kau mendengar ku?"
Clara menghela nafas panjang lalu menoleh ke arah Boy. "Lupakan, untuk apa kau meminta maaf? Semua salahku karena sudah menjadi penghalang cinta kalian berdua. Kau tidak perlu menunggu selama satu tahun untuk menceraikan aku. Besok aku akan mengurus semuanya." setelah mengatakan itu Clara turun dari mobil dan masuk ke dalam.
Berbeda dengan Boy yang tidak menyangka kalau Clara akan mengucapkan kata perpisahan.
"Tuan..."
"Apa salahku Mark, aku hanya berusaha untuk membantu Alice karena dia butuh pertolongan. Lalu, kenapa Clara malah meminta cerai?"
"Kesalahan anda adalah masih mempertahankan nona Alice, saat hati anda mulai menginginkan wanita lain, Tuan."
"Apa maksud mu?" tanya Boy yang masih bingung dengan perasaannya.
"Jangan sampai anda terlambat menyadarinya dan menyesal. Akhiri saja hubungan anda dengan nona Alice." lagi-lagi ucapan Mark membuat Boy diam dan tidak tau harus menjawab apa.
"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Alice!"
"Tapi seharusnya anda tidak peduli pada wanita lain di saat istri anda sedang--"
Ponsel Boy kembali bergetar, membuat Mark menghela nafas. "Dasar buaya! Apa dia tidak bisa setia hanya dengan satu wanita saja." gerutu Mark melihat Boy turun dan mengangkat panggilan ponselnya.
----------------
__ADS_1