
Setelah menyelesaikan pekerjaan di kantor, Boy langsung pulang ke apartemen miliknya. Pria itu masuk ke dalam kamar. Di sana ia sudah melihat Clara yang tertidur lelap.
Boy meraih handuk menuju ke kemar mandi untuk membersihkan dirinya. Pekerjaannya di kantor membuat kepalanya pusing, ditambah lagi ia mengingat ucapan mom Sofia yang menurutnya terkesan memaksa.
Selesai dengan aktifitasnya, Boy keluar dengan handuk tipis yang melilit di pinggangnya. Namun sebelum itu ia menoleh ke arah Clara.
"Shitt!" melihat gaun tidur yang dikenakan oleh Clara membuat Boy menelan ludahnya dengan susah payah. Ia kembali mengingat malam panas bersama Clara malam itu.
Rasanya ingin sekali menerkamnya, tapi Boy berubah pikiran lalu menuju ke ruang ganti.
"Sepertinya aku harus mphh..." Boy menutup mulutnya dan segera berlari ke kamar mandi karena merasa mual.
Huweek!
Boy memuntahkan seluruh isi perutnya. Tubuhnya terasa lemas karena sudah dua hari ia mengalami ini dan tidak nafsu makan sama sekali.
"Sepertinya aku kurang enak badan." Boy menyentuh keningnya. "Tidak panas. Lalu aku kenapa?" tanya Boy pada diri sendiri.
Pria itu kemudian meraih ponsel yang berada di atas nakas untuk menghubungi seseorang.
"Mark, bisakah kau membawakan beberapa obat dan juga--" belum selesai Boy bicara, ia melihat Clara bangun dengan mata yang masih terpejam.
__ADS_1
"Lapar..." lirih Clara tiba-tiba.
Waktu sudah menunjukkan hampir pukul satu malam, dan perut wanita itu berbunyi sejak tadi karena kelaparan.
Tidak biasanya Clara makan tengah malam. Dulu Boy sering mengajaknya, namun ia selalu menolak dengan alasan takut gemuk. Tapi sekarang, ia bahkan tidak peduli dengan bentuk badannya yang mulai terlihat berisi.
"Pesan dua porsi ay--"
"Lima. Aku mau lima porsi ayam goreng. Bagian sayap tanpa tulang dengan sedikit tepung dan jangan terlalu matang."
Seketika ucapan Clara membuat Boy terdiam. Banyak sekali kemauannya, pikir Boy.
"Satu lagi, aku ice lemon tea hangat."
"Aku hanya ingin makan ayam dan ice lemon tea hangat. Dimana letak kesalahanku sebenarnya." gerutu Clara.
Setelah setengah jam menunggu. Mark sudah datang dan membawakan pesanan Clara lalu menatanya di depan meja.
"Silahkan, Nyonya. Dan selamat menikmati." ucap Mark yang hendak pergi dari dana namun di tahan oleh Clara.
"Terima kasih, Mark."
__ADS_1
Boy hanya diam memperhatikan dan kembali fokus dengan ponselnya yang sejak tadi tidak dia pegang.
"Ck! Pasti dari wanita itu." gumam Clara. Entah kenapa ia jadi sangat kesal mengingat wajah Alice yang tersenyum pada Boy.
Dan benar saja, Boy menerima sebuah panggilan dan bicara agak menjauh darinya.
"Mau Alice atau siapapun apa peduliku!" Clara segera menikmati semua makanan yang ada di depan mata.
"Lupakan kurus, pokoknya hidup makan!" imbuh Clara merasa hari ini adalah hari dimana ia bisa makan enak lagi setelah hampir satu bulan menahannya dengan alasan keuangan Boy.
''Pelan-pelan kau bisa tersedak.'' Boy yang sudah selesai menerima panggilan tersebut, duduk di depan Clara hingga membuat wanita itu tersedak ayam goreng.
Uhuk!
"Sudah kukatakan, makan perlahan!" Boy mengusap punggung Clara dengan penuh kelembutan. Membuat hati wanita itu menghangat. Sebuah senyuman tipis terukir di kedua sudut bibirnya.
"Boy sebenarnya aku--"
"Wajahmu memerah, apa kau sakit?" tanya Boy mengambil selembar tisu lalu mengusap sisa saos yang belepotan di bibir Clara.
"Sialan!" gumam Clara yang baru sadar kalau selama ini suaminya sangat tampan.
__ADS_1
...----------------...