
"Hari ini aku akan pulang terlambat, jadi jangan menungguku," ujar Justin mengambil jas dan beberapa perlengkapan kerjanya. Sudah satu minggu Justin pulang terlambat tanpa memberi kabar pada Alice.
"Bisakah kau meluangkan waktu untukku, Justin?" tanya Alice lirih dan sedikit menunduk saat Justin hendak berangkat.
"Untuk apa?" Justin menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Alice.
"Jadwal pemeriksaan ke dokter kandungan--"
"Sudah berapa kali aku katakan, aku tidak peduli padanya. Kau punya kaki bukan, jadi pergilah sendiri." potong Justin melangkah keluar dari sana.
Alice meremas dadanya yang terasa sakit. Wanita itu bisa mengerti kalau Justin tidak bisa menerima dirinya sampai saat ini. Namun, setidaknya jangan mengacuhkan bayi mereka.
"Sepertinya aku harus berhenti memperjuangkan mu, Justin. Aku lelah." Alice mengusap pipinya yang sudah basah karena air mata. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi tanpa menunggu suaminya.
"Tuan, apa anda tidak keterlaluan tadi." kata Mark melirik Justin dari spion depan. Dad Dave menugaskan Mark agar mendampingi Justin. "Bagaimana kalau Nyonya tau, selama ini anda pulang terlambat bukan karena lembur. Melainkan..."
"Hentikan, kau berisik sekali." bentak Justin membuat Mark langsung diam. "Fokus saja menyetir dan jangan berkomentar, atau ku pecat tanpa pesangon." pria itu memijat pelipisnya yang terasa pusing.
"Tapi yang membayar gaji saya tuan Dave, bukan anda." Mark selalu saja bicara tanpa peduli apakah lawan bicaranya tersinggung atau tidak. Ini adalah kali kedua dia dihadapkan dengan masalah yang membuatnya muak.
Saat itu, ia harus menjadi penasehat cinta untuk Boy dan Clara. Lalu sekarang, Mark berada di antara Justin dan Alice. Dimana mereka berdua sama-sama keras kepala, tanpa ada yang mau mengalah.
"Kau ini menyebalkan sekali, Mark! Membuat mood ku hancur saja."
"Mood anda memang sudah hancur tanpa repot-repot saya menghancurkannya." Mark turun dan membuka pintu untuk Justin, karena saat ini mereka sudah berada di depan kantor.
Bugh!
__ADS_1
"Argh, apa yang anda lakukan, Tuan." pekik Mark saat satu pukulan keras mendarat di perutnya.
"Kau belum sarapan 'kan?" tanya Justin menepuk pelan pundak Mark.
Pria itu mengangguk dan sedikit meringis menahan sakit.
"Itu sarapan pagi untukmu. Lain kali, jangan asal bicara kalau tidak mau aku pukul!" Justin menepuk pipi Mark dan masuk ke dalam.
"Tidak kakak, tidak adik. Keduanya sama-sama merepotkan. Kenapa mereka tidak jadi tukang pukul saja." gerutu Mark menyusul Justin, namun sebelum itu ia mengambil beberapa barang Justin yang tertinggal di mobil.
.
.
.
"Selamat, Nyonya. Jenis kelaminnya laki-laki," kata dokter menunjukkan hasil Usg di layar monitor. "Usia kandungan anda sudah memasuki lima bulan, harap berhati-hati. Jaga pola makan."
"Apa suami anda sibuk lagi, Nyonya?" tanya dokter Mariam.
"Ya, seperti biasa, Dok. Suamiku pekerja keras, jadi aku maklum kalau hari ini kami tidak datang bersama lagi." membicarakan tentang Justin membuat wajah Alice murung, seakan ada beban yang wanita itu pikul sendirian.
"Jangan terlalu stress, karena akan menganggu perkembangan bayi anda."
"Lalu aku harus bagaimana, bohong jika selama ini aku tidak memikirkan masalah yang ada dalam rumah tangga kami, Dok. Aku bukan wanita kuat yang bisa menerima dengan lapang dada, apa yang suaminya lakukan." semua ucapan Alice membuat dokter Mariam merasa iba. Wanita hamil bukankah seharusnya dimanja dan diberikan kasih sayang.
"Kandungan anda lemah, nyonya. Saya tidak mau terjadi apa-apa pada bayi yang tidak bersalah karena keegoisan orangtuanya. Mulai sekarang, cobalah rileks. Jika anda merasa beban yang selama ini dipikul terlalu berat, tinggalkan..." baru kali ini Alice mendengar nasehat dari seorang dokter kandungan. Tentu saya ucapan wanita itu Alice terima dengan baik.
__ADS_1
"Sekali lagi, terima kasih Dokter." selesai melakukan pemeriksaan, Alice menuju ke halte terdekat. Ia berniat menunjukkan hasil Usg tersebut pada Justin.
"Semoga saja, dia mau melihatnya."
Dua puluh menit perjalanan, Alice sudah sampai di depan kantor milik Justin.
"Nyonya, apa yang anda lakukan disini? Kenapa tidak bilang, saya bisa menjemput anda tadi.' tanya Mark yang kaget melihat kedatangan Alice. Untuk pertama kalinya, ia datang mengunjungi kantor suaminya.
"Aku membawakan makan siang untuk, Justin. Apa dia ada di dalam?" tak menunggu jawaban Mark, Alice menuju ke lift.
"Te-tentu saja tuan ada di dalam, dia sedang sibuk dengan beberapa laporan keuangan yang harus diserahkan hari ini juga pada daddy nya." Mark sedikit gugup, ia terpaksa berbohong. Padahal bukan itu yang sedang Justin lakukan.
Lift pun terbuka, sampailah mereka di lantai dua, dimana ruangan Justin berada.
"Saya akan masuk terlebih dahulu dan memberitahu tuan kalau anda datang kemari dan--" belum selesai Mark bicara, Alice menyelonong masuk dan membuka pintu tanpa mengetuknya lebih dulu.
"Mark! Sudah kukatakan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu karena aku belum menyelesaikannya." teriak Justin mendengar suara pintu terbuka.
"Oh jadi ini yang kau lakukan selama ini?"
Justin menoleh, ia terkejut saat melihat Alice menjatuhkan paper bag yang berada di tangannya ke lantai.
"Alice, ini tidak seperti yang kau kira." Justin mendorong wanita yang sejak tadi duduk di pangkuannya hingga jatuh ke lantai.
"Tidak perlu menjelaskan apapun. Maaf karena sudah menganggu kalian berdua." Alice berlari keluar tanpa memedulikan teriakan Justin.
"Bodoh! Kenapa dia bisa datang kemari, hah?" bentak Justin, "Dan kau berani sekali duduk di pangkuanku dan membuat istriku salah paham!"
__ADS_1
"Maaf, Tuan." Ucap Mark dan wanita itu bersamaan.
Justin segera menyusul Alice, ia takut terjadi sesuatu pada istrinya. Terlebih lagi bayi yang ada di dalam kandungan Alice.