London One Night Stand

London One Night Stand
Chapter 39


__ADS_3

Sedangkan di tempat lain, seorang pria sedang duduk dan menatap datar ke layar laptop yang berada di depannya.


"Hanya ini?" suara bariton pria itu membuat membuat bulu kudu merinding seketika.


"Ya, Tuan. Hanya itu yang bisa saya laporkan." jawab Clark asisten pribadi Jhon.


Pria tua itu menghela nafas lalu menyalakan rokok dan menyilangkan salah satu kakinya. "Terus saja awasi. Jika dia berani macam-macam hancurkan perusahaan milik keluarganya sampai tidak tersisa." perintah John tanpa mau di bantah sedikitpun.


"Tapi tuan Darren bilang untuk tidak mencampuri kehidupan nona Clara, Tuan. Dia ingin adiknya itu mandiri dan bebas dari pengawasan kita." Clark menimpali ucapan Jhon.


"Kau mengaturku, hah? Cucu perempuan kesayanganku itu sedang hamil dan aku tidak mau terjadi sesuatu pada cicit ku." bentak Jhon membuat Clark langsung diam tak berani menatap pria itu.


"Baiklah, Tuan. Saya akan melakukan perintah anda." ucap Clark berlalu dari sana. Jhon menatap kepergian pria itu dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Tikus kecil memang seharusnya di singkirkan." seringai tipis terukir di bibirnya.


*****


"Bagaimana keadaannya. Tidak terjadi sesuatu 'kan pada bayiku?" tanya Clara pada Aldo yang tak lain adalah dokter kandungan yang menanganinya.


"Sebenarnya apa yang kau lakukan sampai terjadi pendarahan seperti ini? Apa kau tau, wanita hamil itu tidak boleh pecicilan?" sarkas dokter Aldo yang kesal pada Clara. Sahabatnya yang bar-bar ini sangat susah sekali di atur.

__ADS_1


"Dan lihat, jidat dan wajahmu itu kenapa bisa memar? Apa kau ini baru saja latihan tinju?" lagi-lagi dokter Aldo mengomelinya sama seperti mom Lauren.


Clara menghela nafas panjang dan mulai menceritakan semuanya pada dokter Aldo. "Lalu kau diam saja saat melihat suamimu di ganggu wanita lain? Jangan bilang kalau kau tidak mencintainya."


Clara mengangguk lemah, jujur saja ia tidak tau apa yang ada di dalam hatinya saat ini.


"Bodoh! Bagaimana tidak mencintai kalau sampai sekarang kau masih bertahan dengannya. Dan bayi ini ada diantara kalian karena takdir." penjelasan dokter Aldo membuat Clara kembali diam.


"Dia mencintai wanita itu, sedangkan pernikahan kami hanyalah sebuah kesalahan. Aku tidak mau saat anak ini lahir nanti dia akan..." Clara enggan melanjutkan kalimatnya, membayangkan apa yang terjadi nanti saja sudah membuatnya hampir gila. Seorang Clara akan menjadi janda.


Dokter Aldo terkekeh lalu memberi banyak wejangan pada Clara. "Kalian tidak akan sampai ke jenjang pernikahan tanpa alasan, perjuangkan saja suami mu."


"Tidak mau! Untuk apa? Sedangkan dia terus memuji wanita lain di hadapanku. Menyebalkan." gerutu Clara beranjak dari ranjang dan duduk merapikan pakaiannya.


"Rubah sikap bar-bar mu itu. Jadilah wanita feminim dan sedikit lembut. Agar dia tidak berpaling." dokter Aldo menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Ia tau seperti apa Clara, keras kepala dan selalu seenaknya sendiri.


"Ya baiklah, Tuan penasehat. Saya akan mendengarkan perintah anda." tawa renyah pecah dari keduanya, begitulah mereka saat sedang bersama.


"Titip salam untuk Zelin, semoga proses persalinan anak kedua kalian lancar." ucap Clara mengusap punggung tangan dokter Aldo.


"Terima kasih. Jangan lupa minum vitamin yang sudah kuberikan. Kandungan mu masih lemah, kurangi mengonsumsi kafein." dokter Aldo mengantar Clara keluar dari ruangannya.

__ADS_1


Tak jauh dari mereka berdiri, seorang pria yang tengah mendorong kursi roda dengan tergesa-gesa dan melihat ke arah mereka berdua.


"Bukankah itu istrimu?" ucap Alice menghentikan langkahnya. "Mereka terlihat sangat serasi sekali ya."


Bukan ucapan Alice yang sedang Boy pikirkan, tapi apa yang clara lakukan di rumah sakit dan menemui dokter kandungan.


"Boy, kau mau kemana! Bantu ayah dia kesakitan!" teriakan Alice tidak dipedulikan oleh Boy. "jalaang sialan itu lagi! Dia benar-benar harus di singkirkan." Alice segera membawa ayahnya masuk ke ruangan pemeriksaan karena mengalami kejang-kejang.


"Aku pergi," ucap Clara pada dokter Aldo.


"Sebenarnya aku ingin mengantarmu tapi ada pasien lain yang harus aku tangani." Aldo menggaruk tengkuk lehernya.


"Tidak apa-apa. Aku bisa naik--"


Gret!


Tangan Clara ditarik sedikit kuat oleh Boy yang sejak tadi menahan emosi melihat kemesraan mereka berdua.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini, bersama dengannya?" tanya Boy dengan nafas menggebu.


Clara reflek menoleh dan terkejut melihat sosok yang sangat ia kenali sudah berada di belakangnya.

__ADS_1


"B-boy..."


...----------------...


__ADS_2