London One Night Stand

London One Night Stand
Extra Part 2


__ADS_3

"Ada apa Mark, kenapa kau tergesa-gesa begitu?" tanya Clara yang hendak pergi keluar bersama Boy untuk membeli perlengkapan bayi.


"Apa tuan Dave ada di dalam, Nyonya?" bukannya menjawab pertanyaan Clara, Mark malah balik bertanya membuat wanita itu menjadi kesal.


"Cari saja sendiri sana!" jawab Clara dengan nada emosi.


"Sayang, sabar," Boy memeluk istrinya dan mengusap punggung nya penuh kelembutan.


Beberapa hari ini emosi Clara sedang tidak stabil. Kadang menangis dan marah tanpa alasan yang jelas.


"Dia bertanya tapi menjawab dengan pertanyaan juga , Boy! Menyebalkan bukan?" Clara yang tadinya marah saat ini berubah menangis. Air matanya tiba-tiba menetes hanya karena ucapan Mark.


"Mark!" Boy menatap tajam Mark dan memberi kode agar pria itu segera pergi. Karena setelah ini bisa dipastikan Clara akan melakukan sesuatu yang aneh.


"No! Kemari kau!" pinta Clara seraya membentak.


"Habislah kau," ejek Boy yang tersenyum puas akhirnya dia terbebas dari amukan istrinya.


"Jangan senang dulu, Boy! Karena kamu yang harus melakukannya," seringai tipis terukir dari bibir Clara.


Mark menghela nafas lalu menunduk lemas. Ingin sekali ia berteriak. Padahal dirinya sedang dalam keadaan darurat dan apesnya malah bertemu dengan Clara.


Bagi Mark keinginan ibu hamil tidak boleh di tolak. Pamali katanya.

__ADS_1


"Nyonya mau apa, katakan. Karena saya benar-benar sedang dalam misi penting."


"Mendekat padaku, Mark." ucap Clara.


Mark mengiyakan dan mendekat ke arah Clara dengan langkah kaki yang sedikit lamban.


"Kau itu pria 'kan, kenapa jalanmu lelet seperti keong?" gerutu Clara.


Greet!


"Arghh, Nyonya apa yang anda lakukan sakit!" pekik Mark saat Clara menarik kuat rambut ikalnya yang terlihat acak-acakan.


"Ih, menyebalkan. Aku benci melihat rambutmu ini tahu!"


"S-sayang, hentikan. Kasihan dia!"


Boy yang tidak tega mencoba melerai keduanya, namun saat mendapat lirikan maut dari Clara, ia segera menjauh dan membiarkan Clara melakukan apapun sesuka hatinya.


"Sebenarnya istriku hamil anak apa? Ganas sekali," gumam Boy dalam hati.


Setelah merasa puas Clara berhenti, lalu memanggil Boy dan memintanya untuk memeluk Mark.


"Tidak mau, sayang! Aku masih normal!" tolak Boy.

__ADS_1


"Cepat usap dan peluk dia, Boy. Anggap seperti anakmu sendiri," Clara merengek dengan mata berkaca-kaca. Rasanya ingin sekali Boy menerjangnya di atas ranjang saat ini juga.


"Baiklah, tapi dengan satu syarat."


"Katakan."


"Jatahku nambah dua ronde setiap malam," kaya Boy menaik turunkan alisnya.


"Aku setuju, tapi aku juga punya syarat," Clara tersenyum jahil karena berhasil menggoda Boy. "Kau harus mencium pipi dan dahi Mark."


"What the..." Boy tidak melanjutkan kalimatnya karena Clara sudah melotot tajam ke arahnya. "Oke aku setuju.".


Boy benar-benar melakukannya, ia memeluk Mark dan mengusap punggungnya. "Pejamkan matamu, bodoh!" bisik Boy.


"Tuan, nona Alice hilang. Saya berniat meminta bantuan tuan Dave untuk mencarinya," lirih Mark pada Boy.


"Apa? Hilang?"


"Oh astaga, pelan kan suara anda."


"Siapa yang hilang sayang?" tanya Clara.


Ia mendekati Boy dan juga Mark yang terlihat menyembunyikan sesuatu darinya. "Cepat katakan, siapa yang hilang?!"

__ADS_1


"Nona Alice," jawab Mark.


__ADS_2