London One Night Stand

London One Night Stand
Chapter 53


__ADS_3

Brak!


Boy menutupi pintu ruangan pribadinya dengan kuat, membuat Clara tersentak kaget dan mengelus dada berkali-kali.


"Boy, maafkan aku," Clara menyusul Boy dan duduk di pangkuannya. "Jangan marah, setelah ini aku tidak akan meminta yang aneh-aneh kalau kau tidak ikhlas melakukannya."


Permintaan maaf macam apa itu. Setelah ia berdandan seperti badut dan mengatakan cinta, Clara bilang dirinya tidak ikhlas?


Boy menatap Clara tajam. Ingin rasanya ia marah, namun ditahan. Karena Boy tau, semua yang Clara inginkan karena ngidam nya seorang ibu hamil.


Di sisi lain ia senang, karena Boy menepati ucapannya. Namun, Clara juga tidak tega setelah ini Boy pasti akan jadi bahan perbincangan.


"Aku akan keluar," ketus Clara.


"Siapa yang menyuruh istriku ini keluar, hum?" Boy menarik pinggang Clara, mendekatkan semakin erat ke dada bidangnya. "Aku akan memaafkan mu dengan satu syarat," seringai tipis terukir di bibir Boy dan Clara tau apa maksud senyuman itu.


"Boy, pagi tadi kita--"


"Sayang, kau lupa panggilan itu? Aku ingin tau reaksi mommy, kalau kau masih tidak memanggil namaku dengan benar?" Boy menaik turunkan alisnya untuk menggoda Clara.

__ADS_1


"Ck! Dasar tukang mengadu!" decak Clara kesal dan mendorong dada Boy. "Baiklah sayang, sekarang ijinkan aku kembali ke meja kerjaku, oke." pinta Clara hendak beranjak dari duduknya


Belum sempat wanita itu menjauh, Boy sudah mellumat dan menyesap bibir dengan polesan lipstik berwarna merah milik Clara. "Lain kali tidak udah mewarnai bibirmu, aku tidak suka kecantikan istriku di lihat oleh pria lain." ucap Boy mengusap pipi Clara.


"Apa kau ingin aku pergi bekerja dengan wajah pucat seperti orang sakit?" Clara menggelengkan kepala seraya tersenyum mendengar ucapan Boy.


"Mungkin itu lebih baik. Kau boleh pergi, tapi besok jangan ulangi lagi." Boy melepas jasnya dan mengikatkan di perut Clara. "Dan juga pakaian kerjamu ini terlalu menggoda di mata pria, sayang. Mulai besok ganti, atau aku akan merobeknya dengan tanganku sendiri."


Boy seperti inilah yang membuat Clara nyaman. Kehangatan dan perhatiannya selalu berhasil meluluhkan hatinya, meski dengan raut wajah dingin dan datar.


Clara baru sadar, apakah mungkin ia sudah memiliki perasaan pada Boy sejak dulu?


"Kenapa menatapku seperti itu," Boy merapikan pakaian Clara dan mengancingkan dua kemeja bagian atasnya yang terbuka akibat ulahnya.


"Aku mencintaimu, suamiku." ucap Clara sebelum keluar dari sana dan meninggalkan Boy yang masih mematung. Ia menyentuh pipinya yang baru saja di kecup oleh Clara.


"Aku lebih mencintaimu, istriku." gumam Boy dalam hati. Bahagia, tentu saja itu yang saat ini ia rasakan.


*****

__ADS_1


"Bagaimana, apa kau sudah menghubungi Boy sayang." tanya Jean yang saat ini sedang menyiapkan makan siang.


"Hmm." jawab Darren singkat.


"Sayang, jangan seperti ini. Bagaimana pun dia adalah istri Clara. Jadi apapun keputusannya, kita harus menerima." Jean meletakkan satu cangkir kopi di depan Darren yang masih fokus pada laptop dan pekerjaan kantor.


"Berhentilah membelanya, Honey. Dia seenaknya saja keluar dari perusahaan tanpa memberi kabar dariku. Dan tiba-tiba saja dia menjadi Ceo Matteo's Grup. Menggelikan." ujar Darren panjang lebar karena kesal dengan apa yaang sudah Boy lakukan.


Bukan tanpa alasan, perusahaan milik Matteo's grup adalah rival terberat DA Corp. Bisa dipastikan keduanya akan bersaing untuk mendapatkan kepercayaan dari investor terbesar London yang sebentar lagi akan tiba di Indonesia.


"Darren, mengalah saja padanya." Jean mengusap perut buncitnya lalu duduk di samping Darren.


"Aku tidak janji, Honey." Darren menyeruput kopinya. "Dan aku rasa Boy akan lebih terkejut saat mengetahui siapa pemilik Exos Corp."


"Apa maksudmu sayang?" tanya Jean mengerutkan kedua alisnya.


"Dia adalah mantan kekasih Clara," Darren tersenyum licik. Bisa dipastikan kalau tender kali ini dia adalah pemenangnya.


"Hah? Kau yakin sudah menyelidikinya. Lebih baik jangan di teruskan, atau akan timbul masalah." Jean meletakkan roti dengan selai coklat kedukaan Darren. "Makan ini, kau pati tidak mau nasi 'kan."

__ADS_1


"Terima kasih," Darren mengecup dahi Jean lalu mengusap perut istrinya itu. "Aku sudah tidak sabar menunggu kelahiran putra ketiga kita."


"Aku juga, sayang."


__ADS_2