
"Dari mana saja?" tanya Justin yang sudah berdiri di samping meja kerja Clara.
"Anda terlalu ingin tau urusan orang lain." jawab Clara, ia kembali fokus pada laptop yang berada di depannya.
"Clara, aku sedang mengajakmu bicara. Sekali saja, bisakah kau melihatku?" Justin meraih tangan Clara dan menggenggamnya erat.
"Maaf, saya tidak bisa berpaling saat di depan sana sudah ada seseorang yang menunggu saya." Clara menepis tangan Justin dan memberikan berkas yang tadi tertunda.
Justin tersenyum kelu, sejak dulu adiknya itu memang selalu merebut apa yabg ia miliki bahkan urusan wanita sekalipun.
"Bawa saja keruangan ku!" Justin beranjak, melangkahkan kaki masuk ke ruang kerjanya.
Clara menghela nafas kasar dan terpaksa mengikuti kemauan Justin. Awalnya ia memang tertarik pada pria itu, namun hanya sebatas penasaran. Entah kenapa sekarang sedikit ada yang berbeda.
Setelah setelah memberikan semua berkas itu dia segera keluar. Meski saat di dalam tadi, Justin mencoba menahannya. Tetap saja Clara lebih memilik pergi dan meninggalkannya.
"Kenapa mereka berdua sangat mirip, menyebalkan dan selalu memaksa." gerutu Clara yang sudah berada di toilet karyawan dan menatap kesal ke arah cermin.
Clara menyentuh dahinya dan tersenyum. Ia mengingat kembali apa yang sudah Boy lakukan padanya saat makan siang tadi.
Jantungnya berdetak kencang saat merasakan setiap sentuhan yang Boy berikan padanya. "Astaga, apa yang terjadi padaku. Tidak mungkin kan aku mulai memiliki perasaan padanya," Clara mencoba membuang semua pikirannya bodohnya itu.
"Dasar jalaang!" teriak seorang wanita dari belakang dan langsung menarik rambut Clara.
"Lepaskan! Sakit Alice apa yang kau lakukan, hah?!"
__ADS_1
Alice sama sekali tidak mau melepaskan Clara dan malam menarik rambut wanita itu semakin kuat.
"Berhenti bersikap sok manis di depanku! Kau sudah merebut Boy dariku, Clara!" bentak Alice. Tidak hanya itu, ia juga mendorong tubuh Clara hingga kepalanya membentur dinding.
Dugh!
"Shhh, kau benar-benar wanita gila!" desis Clara yang merasakan sakit di bagian kepalanya. Pusing akibat kehamilannya saja belum sembuh dan sekarang malah bertambah.
"Itu adalah hukuman untuk..."
Gret!
Belum selesai Alice bicara, Clara sudah menarik rambut wanita itu dan membenturkan dahinya ke tembok yang ada di belakangnya.
"Argh, sinting! Dasar bar-bar." pekik Alice, entah sudah berapa kali Clara melakukan itu. Alice tidak menyangka kalau Clara seganas ini.
"Clara Alfred, aku akan membalas mu nanti." gumam Alice menyentuh hidungnya yang mengeluarkan darah.
*******
"Kenapa lama sekali, hum? Apa dia yang membuatmu tertahan di dalam." Boy menghampiri Clara yang berjalan ke arahnya.
"Tidak, pekerjaan yang dia berikan cukup banyak." Clara menunduk dan menyembunyikan wajahnya. Ia tidak ingin Boy melihat keadaanya saat ini.
Kepala sedikit benjol dan pipi terluka karena cakaran buas singa betina.
__ADS_1
"Hei, aku ada di sini. Bukan di bawah sana." ucap Boy menarik dagu Clara agar wanitanya menatap dirinya. "Apa ini? Wajahmu kenapa jadi..."
Brak!
Clara cepat-cepat masuk ke dalam mobil dan susuk di bangku belakang. Boy yang melihat melihat itu segera menyusul istrinya.
"Duduk di depan!"
"Tidak mau!" tolak Clara.
"Tapi aku bukan supir mu! Atau aku akan pindah ke belakang dan meminta jatah padamu!'' ancam Boy dan tanpa menunggu lama Clara langsung pindak ke depan dengan wajah kesal.
"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak mungkin membawa mu bertemu mommy dengan keadaan seperti ini." tanya Boy namun di abaikan oleh Clara. "Jadi masih tidak mau mengaku?"
"Kekasihmu yang melakukannya." jawab Clara ketus tanpa berpaling melihat keluar jendela.
"Dia gadis yang lembut mana mungkin melakukan itu padamu." ucap Boy menatap Clara.
Wanita itu langsung menoleh. "Jadi kau tidak percaya padaku?" tanya Clara dengan nafas menggebu. Hatinya kesal, di saat seperti inipun Boy masih membela Alice.
"Bukan begitu, yang aku tau Alice..."
"Cukup! Jika kau menjemput ku hanya untuk membelanya lebih baik aku turun." Clara hendak membuka pintu mobil, namun Boy lebih dulu menahannya.
"Aku tidak membelanya tapi memang kenyataannya..." ucapan Boy terhenti saat Clara sudah lebih dulu keluar dan meninggalkan dirinya. "Oh shiit! Wanita itu benar-benar keras kepala!"
__ADS_1
...----------------...