London One Night Stand

London One Night Stand
Chapter 32


__ADS_3

Boy membawa Alice masuk ke dalam kamarnya dan menidurkan wanita itu di ranjang king size miliknya.


"Aku akan memanggil salah satu pelayanmu untuk membantumu membersihkan diri dan berganti pakaian." ucap Boy hendak keluar dari dana namun ditahan oleh Alice.


"Bisakah kau tetap di sini bersamaku, Boy." pinta Alice dengan wajah memelas. Ia benar-benar malu saat ini. Apalagi tubuhnya hampir saja di ternoda oleh dua orang pria hidung belang.


"Maafkan aku, tugasmu sebagai temanmu hanya sampai di sini. Aku harus segera kembali karena istriku sedang menunggu." jawab Boy mencoba menolak keinginan Alice.


Alice tersenyum kecut dan sedikit kecewa mendengar kalimat yang keluar dari bibir Boy. Meski ia begitu bahagia saat tadi Boy datang ke club dan menyelamatkannya, namun kini semuanya seakan hilang.


"Kenapa, apa kau sekarang sudah mulai mencintai wanita itu?" tanya Alice menarik tubuh Boy agar menghadapnya. Pasalnya sejak tadi Boy memalingkan wajah dan enggan menatap Alice yang hanya mengenakan selembar handuk.


"Bukan masalah cinta atau tidak. Clara sekarang adalah istriku dan kita--"


"Jika kau menganggap wanita itu istrimu, kenapa kau meninggalkannya tengah malam begini sendirian. Bukankah seharunya kau menemaninya tidur?" ucapan Alice membuat Boy menyadari satu hal, kalau ia sudah melakukan sebuah kesalahan.


"Aku mohon, Boy. Temani aku hanya sampai aku tidur. Selama beberapa minggu terakhir setelah pernikahanmu, aku kesepian. Rasanya tidak sanggup lagi untuk menjalani sisa hidupku yang seperti ini." Alice meneteskan air matanya, membuat Boy merasa tidak tega jika harus meninggalkannya seorang diri.

__ADS_1


Bagaimanapun juga, Alice adalah salah satu wanita yang sudah menerima segala kekurangannya.


"Lalu bagaimana dengan Justin? Kau bisa menghubunginya dan meminta pria itu menemanimu, bukan?" kalimat Boy terasa menohok dan menusuk hati Alice.


"Boy, aku dan Justin sama sekali tidak memiliki hubungan spesial semacam itu." setelah di bantu oleh salah satu maid Alice memakai gaun tidur yang sedikit tertutup hanya saja memperlihatkan belahan dada.


"Maaf, aku harus pergi." Tanpa menunggu lama lagi, Boy benar-benar pergi dari sana tanpa peduli dengan teriakan Alice yang terus memanggil namanya berulang kali.


"Argh!" jerit Alice mengacak-acak rambutnya frustasi.


Clara sudah berada di depan mansion milik Darren dan berlari masuk ke dalam meninggalkan Mark.


"Selamat malam, Kak!" sapa Clara pada Darren lalu langsung masuk menuju ke kamarnya.


"Ada apa dengannya, tiba-tiba datang tanpa permisi." gerutu Darren yang bangun untuk mengambil. "Bahkan dia sudah menikah, lalu dimana suaminya itu."


"Tuan..." ucap Mark yang berjalan menunduk mendekati Darren yang berada di dapur.

__ADS_1


Saat ini tubuh Mark bergetar dan gugup. Apalagi melihat wajah Darren yang terlihat ingin memakannya sekarang juga.


"Katakan, jangan berbelit!" ucap Darren. Pria itu mengambil gelas yang sudah berisi air dan meminumnya.


Uhuk!


Darren tersedak mendengar pengakuan Mark. Tangannya terkepal, ingin sekali ia memukul wajah Boy dan membuatnya tidak berdaya. Kalau bukan suami adiknya, mungkin Darren sudah menjadikan Boy jadi santapan para buayanya yang kelaparan.


"Hamil? Bagaimana bisa kau tau itu, hah? Lalu bagaimana dengan Boy? Apa dia sudah tau kalau--"


"Jangan beritahu dia." potong Clara hendak memeluk Darren namun ia urungkan. "Biarkan aku tinggal di sini untuk beberapa waktu, Kak."


"Lakukan saja, asal kau tidak membuatku kerepotan nanti. Tapi sebelum itu aku akan mengantarmu pergi ke dokter untuk memeriksa keadaan kalian."


Clara hanya mengangguk mengiyakan.


"Dia bahkan sama sekali tidak mencari ku. Clara mengulum senyuman.

__ADS_1


__ADS_2