
Boy keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk tipis yang melilit di pinggang. Pagi ini ia bersiap untuk pergi keluar kota karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.
"Pakaianmu sudah aku siapkan di atas ranjang." ucap Clara memalingkan wajahnya dan hendak keluar dari sana. Namun, Boy sudah terlebih dulu menahan tangannya.
"Aku belum mengijinkanmu pergi, bantu aku memakainya." ucapan Boy membuat Clara memutar bola mata malas. Ini sudah hari ke lima wanita itu mendiamkan Boy tanpa mengajaknya bicara sama sekali.
Seharusnya Boy senang, tapi ia merasa tidak terima di acuhkan seperti ini oleh istrinya. "Kau tidak boleh membantah suamimu."
Clara menghela nafas kasar. Sejak kapan Boy menganggap dirinya sebagai seorang istri. Bahkan beberapa hari ini pria itu masih sering bertemu dengan Alice tanpa sepengetahuannya.
"Pakai sendiri celanamu, aku hanya akan memakaikan kemeja dan dasi saja." ketus Clara kembali membuang muka.
"Sudah ku katakan kau harus memakaikan semuanya tanpa terkecuali." pinta Boy dengan nada sedikit penuh penakanan.
"Kau sinting, aku tidak mau! Berhentilah memaksaku." Clara mendorong kedua pundak Boy,
Brugh!
Boy berhasil menindih tubuh Clara, dan membuat wanita itu tidak berkutik dibawah kungkungannya. Kedua mata mereka saling bertemu dan menatap untuk beberapa saat.
Clara bisa merasakan hangat hembusan Boy dengan aroma mint segar, begitu juga sebaliknya.
__ADS_1
"Aku menginginkanmu," bisik Boy lirih tepat di telinga Clara.
"Menginginkan apa maksudmu? Aku juga harus berangkat bekerja, jadi mengertilah. Justin juga pastimphh--" kalimat Clara terpotong saat Boy membungkam bibir dengan sebuah ciuman, sangat lembut dan berbeda dari biasanya.
Setelah beberapa saat ciuman mereka terlepas karena Clara berusaha untuk menghindar. Bukan tanpa alasan, jika dia terus mengijinkan Boy melakukan itu bisa dipastikan pagi ini mereka akan berlanjut di atas ranjang.
"Kenapa? Kau tidak menyukai ciuman itu? Kau juga menghindariku, itu membuatku tersiksa. Aku merindukan Clara yang dulu." ucap Boy dengan jujur, karena itulah yang terus mengganjal di hatinya.
"Tapi sayang sekali, Clara yang dulu sudah mati. Kau selalu berpikir kalau aku ini menyebalkan, matre dan hanya menyukai pria kaya bukan? Ya, anggap saja aku masih seperti itu sekarang." ujar Clara dengan nafas menggebu.
Boy diam, ia merasa tertampar dengan ucapan Clara. Bahkan hubungan mereka sama sekali tidak ada kemajuan selama beberapa bulan terakhir ini. "Lalu kau mau apa?"
"Mungkin berpisah lebih baik, tanpa harus menunggu satu tahun."
"Ya, aku ingin.." Boy kembali menarik Clara dan membungkam bibirnya, kali ini tidak ada kelembutan, kasar dan menuntut.
Boy merobek paksa gaun yang dikenakan oleh Clara hingga wanita itu polos tanpa apapun sekarang. Ia mulai melepas handuknya dan memaksa masuk ke bagian inti milik Clara.
"Brengsekk! Sakit Boy, keluarkan benda itu!" teriak Clara dengan butiran bening yang mulai menetes.
"Aku tidak suka kau menyebut nama pria lain di hadapanku!"
__ADS_1
"Dia bukan pria lain, dia kakakmu! Kau menyebalkan, aku benar-benar membencimu!" lirih Clara sedikit lemas katena Boy terus saja menghentakkan miliknya tanpa ampun di bawah sana.
"Kau milikku!" Boy menarik Clara dan membawa tubuh polos itu ke dalam pelukannya.
"Lalu bagaimana dengan Alice, kau sering bertemu dengannya 'kan?"
Boy mengangguk, karena memang ia sering menemui wanita itu. Alice meminta tolong padanya untuk menemani sang ayah pergi therapi. Yang lumpuh karena stroke.
"Aku tidak memiliki hubungan apapun lagi dengannya, kami hanya berteman. Percayalah." jelas Boy. Padahal saat ini Clara tidak membutuhkan itu, dia hanya ingin sebuah kehangatan. Apalagi moodnya yang sering tiba-tiba naik turun.
"Shh..bisakah kau mengelurkan benda itu." desis Clara. Asetnya terasa sakit dan perih.
"Maafkan aku."
"Aku akan memberimu kesempatan, buktikan kalau kau memang bisa menjadi suami terbaik untukku." ucap Clara sebelum menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Brakk!
Boy menyentuh dadanya, jantung pria itu berdetak kencang mendengar ucapan Clara. "Suami ya..."
...----------------...
__ADS_1