
Clara ingin sekali mengatakan pada Boy kalau saat ini dirinya tengah hamil. Namun, wanita itu mengurungkan niatnya saat melihat ponsel Boy kembali berdering. Dimana tertera di sana nama Alice.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Boy sebelum mengangkat panggilan.
"Tidak. Lupakan saja." Clara bangkit dari duduknya, ia meletakkan ayam goreng tersebut dan pergi masuk ke kamarnya.
Boy melirik Mark yang mengangkat kedua bahunya acuh.
"Ponsel anda Tuan." ucap Mark memberikan ponselnya pada Boy.
"Terima kasih." Boy sedikit menjauh dari Mark untuk bicara pada Alice.
"Katakan, kenapa kau menghubungiku malam-malam begini." tanya Boy pada Alice yang berada di sebrang sana.
"B..boy kumohon kemari lah tolong aku, ada seseorang yang berusaha untuk--" panggilan itu terputus, suara Alice tak terdengar lagi.
"Alice! Katakan, ada apa!" teriak Boy yang terlihat khawatir.
Boy berlari ke kamarnya dan mengambil kunci mobil di atas nakas, tak lupa ia memakai jaket kulit berwarna hitam miliknya.
"Kau mau kemana? Kenapa tergesa-gesa sekali?" tanya Clara yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Aku harus pergi sekarang."
Clara menarik lengan Boy, berharap jika pria itu tidak pergi dan tetap tinggal. "Temani aku malam ini." ucap Clara dengan nada sedikit memohon. Entah kenapa rasanya malam ini akan menjadi malam terkahir mereka bersama.
__ADS_1
"Hanya sebentar, aku akan segera kembali. Mark akan menemanimu." sebenarnya Boy juga tidak ingin meninggalkan Clara, tapi Alice juga sedang membutuhkannya sekarang.
"Sekali saja..."lirih Clara.
"Maafkan aku." tanpa menunggu lama, Boy mengurai tangan Clara yang sejak tadi menahannya.
Dada Clara rasanya sesak dan sakit. Perasaan macam apa ini. Tidak mungkin bukan, jika dirinya mulai memiliki perasaan pada Boy sejak ada janin di dalam perutnya?
Clara membuang testpack yang ada di tangannya ke tempat sampah lalu mengambil ponsel dan sweater nya.
"Nyonya anda mau kemana. Ini sudah malam." Mark yang sedang fokus pada laptopnya segera menghampiri Clara. Wanita itu berjalan gontai menuju ke mobil.
"Tentu saja mengikuti suamiku!" jawab Clara dengan nafas yang menggebu.
"Suami? Jadi, Nyonya sudah--"
"Kemana, Nyonya?" lagi-lagi Mark bertingkah seperti orang bodoh. Membuat Clara ingin sekali memukul wajahnya.
"Tentu saja menyusulnya! Cepat Mark, atau aku akan berangkat sendiri." ancam Clara.
Dengan terpaksa Mark masuk dan duduk di kursi kemudi sedangkan Clara juga ikut berada di sampingnya.
"Kau pasti tau kan kemana Boy pergi?"
Mark mengangguk. Sepertu dugaan Clara, suaminya itu pasti pergi menemui Alice, mantan tunangannya yang gagal.
__ADS_1
***
Boy sudah berada di sebuah club malam, dimana Alice berada. Wanita itu mengirim pesan pada Boy dimana dirinya berada.
"Selamat malam, Tuan." sambut salah satu waiters.
"Alice Anderson. Dimana dia."
Waiters tersebut hanya diam. Memang Alice berada di sini dan masuk ke ruang vvip bersama seorang pria.
"Katakan kenapa kau diam saja, hah? Atau kau mau aku mengobrak abrik tempat ini?"
Waiters tersebut menggeleng, ia tidak berani mengatakan dimana keberadaan Alice dan hanya menunduk.
Melihat keributan di antara mereka berdua sang manager langung datang mendekat. "Ada apa Tuan, kau ingin memesan wanita penghibur?" tanya pria yang diketahui bernama Lee.
Bugh!
Bugh!
Dua pukulan keras mendarat di pipi Lee. Pria itu jatuh tersungkur ke lantai dengan sudut bibir yang berdarah.
"Aku tidak suka basa basi. Jadi katalan dimana pria hidung belang itu membawa Alice!"
"T-tapi mereka sudah membayar mahal wanita itu, Tuan."
__ADS_1
"Aku akan menggantinya tiga kali lipat darinya." ancam Boy menatap tajam Lee.
"B-baik, ikutlah dengan saya."