
"Kapten, seperti nya tempat persembunyian kita tertangkap. " Ucap Idzam.
"Apa kamu melihat sesuatu yang mencurigakan? " Tanya Hardi.
"Benar, tapi maaf saya tidak bisa mengejar atau menembak nya. " Jawab Idzam.
Dor
Dor
tiba - tiba serangan dadakan menembaki seisi rumah, semua nya pun dengan senjata masing - masing, Hardi terus mengarahkan senjatanya, saat tepat Sahara keluar dari kamar nya.
"Menunduk Kinanti...!!! " Ucap Hardi sambil terus menembaki musuh.
Hardi langsung membawa Sahara untuk berlindung di balik meja, serangan tembakan terus menerus menyerang.
Sahara menutup kedua telinga nya saat Hardi dan ketiga anak buah nya terus membalas tembak kan.
Alif kini berada di samping Sahara memberikan sebuah pistol pada Sahara.
"Kamu kan pandai memakai nya, sekarang kita bantu mereka membalaskan serangan ini.
Dor
Dor
Sahara dengan tangan gemetar memegang pistol yang di berikan oleh Alif, terlihat Hardi kehabisan amunisi, hingga akhir nya dengan tekad kuat Sahara menembaki para musuh.
Praaaaanngggg
Beberapa pasukan bertopeng masuk dengan senjata samurai siap pada tangan mereka, ke enam nya pun terkepung.
" Siapa kalian?? " Bentak Hardi.
Sedangkan Sahara, Alif, Idzam masih mengarahkan senjata pada mereka. Sebuah serangan mendadak pun mengenai salah satu nya, hingga aksi saling menyerang pun terjadi.
Sahara yang mengingat dirinya juara karate pun mengeluarkan semua jurusnya, dengan tangan kosong Sahara menumpas pasukan bertopeng tersebut.
Hardi pun tidak tinggal diam saat mendapatkan serangan dari belakang dengan menendang punggung nya.
Sreeeeetttt
Hardi berhasil mengambil salah satu samurai dan mengenai perut musuh nya, hingga sebuah tembakan tiba - tiba pun datang kembali.
'Kita mundur... mereka lebih banyak...!!! " Ucap Hardi.
Satu persatu keluar, hingga aksi kejar - kejaran pun terjadi, kedua kaki Sahara yang masih merasakan sakit seketika hilang saat harus melakukan perlawanan.
Dor
Dor
Dor
Tembakan terus di arah kan pada mereka yang terus berlari ke tengah hutang.
"Berpencar...!!! " Ucap Alif, lalu mereka pun berpencar mengelabui musuh.
Aksi kejar - kejaran terus terjadi hingga musuh semakin jauh tertinggal, mereka pun memilih bersembunyi secara terpisah.
__ADS_1
Sahara menutup mulut ny dengan kedua tangan nya, saat musuh telat berada di atas nya. Sahara yang saat itu bersembunyi di bawah sebuah gorong - gorong.
Mata Sahara membulat lebar saat sebuah ular besar mendekati nya, hingga meraba pada kedua kaki nya dan terus merayap ke atas hingga ular tersebut melilit tubuh Sahara.
Musuh masih tetap berada di dekat Sahara, hingga beberapa orang pun datang, rasa panik begitu besar musuh dan ular.
"Mereka menghilang, jejak nya tidak terlihat." Ucap Pria tersebut.
"Jenderal Federick pasti akan marah, kita tidak bisa membawa kepala Kapten Hardi atau Dokter Kinanti. "
"Kalau begitu, kita bakar hutan ini karena mereka pasti akan terperangkap disini. "
Seperti bau minyak tanah yang begitu sangat menyengat, hingga mengenai kedua kaki Sahara dengan tubuh yang masih di lilit oleh ular.
Asap mulai mengebul, api sudah terlihat dan suara mereka pun hilang, setelah sekita sepuluh menit, terdengar suara panggilan Hardi, Alif, Idzam,Ilham dan Abas.
Sahara tidak berani berteriak karena kepala ular dengan mulut yang sudah terbuka lebar mengarahkan pada nya.
"Kinanti.....!!! " Panggil Hardi.
"Dokter Kinanti...!!! " Ucap Lantang Alif.
"Dokter...!!! "
"Bu Dokter...!! "
Saat mata Hardi menyapu hutan dengan api yang sudah mulai berkobar, Hardi melihat pakaian warna biru.
"Kinanti..!! " Hardi dan ketiga nya pun langsung mengikuti pergerakan Hardi.
Terlihat tubuh Kinanti yang terlilit oleh ular piton besar yang akan memangsa nya.
Nafas Kinanti sudah mulai sesak karena lilitan yang semakin kencang, dan terasa akan remuk tulang tubuh nya.
"Kapten Hati - hati. " Ucap Alif.
Dengan hati - hati tangan Hardi memegang kepala Ular tersebut sedangkan Ilham dan Abas membantu melepaskan lilitan pada tubuh Sahara. Hingga lilitan tersebut melonggar dan berhasil di lepaskan.
Api yang sudah merambat luas dengan penuh tenaga Hardi mematahkan leher ular tersebut lalu di lempar kan pada api yang berkobar.
Uhuk.. uhuk...
Sahara merasakan sakit di sekujur tubuh nya, Hardi membantu pelan Sahara untuk berdiri. Mereka pun segera pergi untuk meninggal kan hutan.
Sahara merasakan sesak di dada nya, hingga nafas nya pun sangat sulit, Hardi pun segera meminta untuk Sahara naik ke atas punggung nya.
"Sudah siap? " Tanya Hardi.
Sahara pun mengangguk kan kepala nya, dan melanjutkan langkah nya dengan setengah berlari untuk keluar hutan yang sudah terbakar.
****
"Ayah... Ibu...!! " Panggil Lembayung bahagia melihat kedua orang tua nya pulang. Sahara langsung memeluk tubuh Lembayung yang sangat dirinya rindukan.
"Ibu kok pucat?" Tanya Lembayung.
"Ibu sedang sakit sayang. " Jawab Hardi.
"Kapten, pasti mereka akan kemari. " Ucap Ilham.
__ADS_1
"Kita harus segera pergi dari tempat ini." Ucap Hardi.
"Bi Irah, tolong bawa Lembayung ke kota H. Dan Idzam kamu tolong antar dan jaga anak serta pengasuh nya. "
"Tidak Ayah, Lembayung tidak mau berpisah sama Ayah dan Ibu. " Ucap Lembayung.
"Nak, kamu harus pergi jauh dari sini. Besok pagi naik kereta dan ingat jangan sampai kalian tertangkap. Nanti disana kalian cari Lettu Halim, dia akan membantu kalian."
"Siap Kapten, saya akan melindungi keluarga Kapten. "
"Sayang, Ayah Ibu Janji akan menyusul kalian." Ucap Sahara.
"Janji Ya bu. "
"Janji."
*****
Saat sebelum shubuh, Lembayung, Bi Irah dah Idzam bersiap - siap untuk berangkat ke stasiun.
Lembayung terus memeluk tubuh Hardi dah Sahara, seakan tidak mau berpisah.
"Lembayung paham kan, setiap apa yang Ayah katakan? " Ucap Hardi.
"Lembayung harus jadi anak kuat bila suatu saat tidak bisa lagu bertemu sama Ayah dan Ibu. " Ucap Lembayung.
Dengan mata berkaca - kaca Hardi kembali memeluk tubuh Lembayung.
"Jangan tunjukkan identitas kamu, siapa kamu sebenarnya. Di luar sana, sangat berbahaya. "
*****
"Tante makan ya, saya belikan nasi padang. " Ucap Bima.
"Tante nggak nafsu makan Bima." Ucap Ibu Mike.
"Makan Tante, bagaimana juga Tante harus makan. " Bujuk Bima.
"Tante, melihat Sahara seperti ini, seperti. semangat hidup Tante hilang. "
"Tante jangan begitu, kalau Tante sakit gimana? "
"Seandainya Sahara benar - benar pergi, Tante juga ingin menyusul mereka. "
"Tante nggak boleh bicara begitu, Sahara pasti akan bangun."
"Terima kasih Bima, kamu selalu menyemangati Tante, dan selalu ada di sisi Sahara. "
"Tante, keluarga Tante itu sudah seperti keluarga Bima sendiri. Setelah kedua orang tua Bima meninggal dunia hanya Om Sahril yang selalu ada di samping Bima, dari saat ikut mendaftar pendidikan Militer, Om Sahril sudah dekat sama Bima, entah bagaimana cerita nya Om itu selalu memperhatikan Bima. "
"Suami Tante selalu cerita, bagaimana cara dia menceritakan kamu, sebagai prajurit yang hebat Tante masih ingat. "
.
.
.
.
__ADS_1