Lorong Waktu ( Tentara) Masa Lalu

Lorong Waktu ( Tentara) Masa Lalu
Raga Dengan Jiwa Yang Berbeda


__ADS_3

Sahara berada di dalam kamar nya, kamar yang sangat dirinya rindukan. Dengan memeluk bantal kesayangan nya, wangi harum kamar yang begitu selama ini dirinya rindukan.


"Akhirnya bisa menempati kamar ini lagi. " Ucap Sahara.


Saat sedang berguling ke kanan dan ke kiri, Sahara melihat tas yahh terakhir dirinya bawa. Sahara pun bangun, dan mengambil tas nya. Ponsel yang selama ini menjadi teman kemana dan sebuah buku Biografi Kapten Hardi.


Sahara membuka satu persatu halaman tersebut, saat membaca dan membuka terdapat sebuah gambar bahkan isi nya pun menceritakan hal yang selama ini Sahara alami.


"Bang Hardi. " Ucap Sahara sambil menatap gambar di saat Kapten Hardi sedang memeluk Lembayung.


Sahara pun membaca kembali Isi nya, isi yang semua nya berubah dan nama istri nya pun adalah bernama Sahara dengan wajah dirinya.


"Sejarah benar - benar berubah Bang, saya ingat tapi kenapa saat terakhir itu saya lupa siapa diri saya yang sebenarnya."


Sahara memegang kalung pemberian Nenek Lembayung, kalung berliontin jamrud. Ada rasa rindu pada sosok Nenek Lembayung tapi semua nya terlambat, Nenek Lembayung telah pergi untuk selama nya.


"Nenek di masa lalu, adalah sosok Nenek yang sangat kuat. Hingga sampai akhir hayat Nenek, tangisan Nenek saat masih kecil, membuat hati saya tersayat. Saya tidak bisa lupa semua nya ternyata saya ingat itu. "


*****


"Selamat datang kembali Sahara, kami semua sangat senang akhirnya kamu bisa ada disini lagi. " Ucap Pak Santoso Dosen pembimbing Sahara.


"Terima kasih Pak, alhamdulillah saya juga masih bisa bertemu sama bapak, dan para dosen lain nya. "


"Kedua sahabat kamu sudah wisuda, mereka sekarang kerja di mana? "


"Mereka bilang kerja di arsip nasional untuk Agnes dan Robby di kementerian Pariwisata dan kebudayaan. " Ucap Sahara.


"Alhamdulillah, sekarang tinggal kamu yang mengejar skripsi tertinggal kamu. "


"Benar Pak, mungkin ada banyak revisi disini. Dan saya akan perbaiki lagi. "


"Bapak pelajari lagi ya, karena sudah lama. "


"Judul masih sama, hanya isi harus banyak di rubah. "


"Ok, saya periksa dulu. "


*****


Intan menatap Sahara yang berdiri tepat di depan mata nya, Sahara tersenyum saat berhadapan dengan Intan. Intan pun membalas senyuman Sahara dan mempersilahkan untuk masuk.

__ADS_1


"Saya senang akhirnya kamu siuman, koma yang sangat panjang bahkan sampai setiap hari Bang Bima tak pernah absen untuk menemui kamu. "


"Terima kasih, saya nggak menyangka kalau Nenek telah meninggal dunia. "


"Nenek meninggal tidak ada yang tahu, dia seperti sedang membaca saat itu. Tahu - tahu sudah nggak ada. "


Sahara melepaskan kalung pemberian Nenek Lembayung dan meletakkan di atas meja.


"Saya tidak pantas memakai nya, tolong simpan. " Ucap Sahara.


"Kalau Nenek secara langsung memberikan, kenapa kamu kembalikan? "


"Ini bernilai sejarah, terlalu mahal untuk saya pakai. "


"Nenek sudah memilih kamu, apa yang nenek pilih adalah pilihan yang tepat. "


"Nggak, itu tidak pantas. Saya selama ini banyak merepotkan Nenek, meminta untuk mengungkapkan sejarah yang pernah terjadi."


Intan menatap Sahara begitu pun juga Sahara menatap ke arah Intan.


"Kenapa kamu tidak meninggal saja? " Ucap Intan membuat Sahara tersentak kaget.


"Kamu mendoakan saya meninggal? "Ucap Sahara.


Sahara tersenyum sinis dengan membuang wajah nya kesamping, dan menatap kembali ke arah Intan.


"Kamu tahu, saya tidak mencintai Bima. Tenang saja, hati saya tidak ada untuk Bima."


"Tapi saya belum bisa berada di hati nya. Menyingkirkan kamu itu sungguh sangat sulit. Dia malah berjanji kalau kamu belum siuman dia tidak akan mau menikahi saya. Tapi baru sekarang dia mengajak menikah karena kamu telah siuman. "


"Terus, kenapa kamu katakan itu semua? Nggak ngaruh karena saya nggak ada hati. Mau menikah ya menikah saja. Lagian saya nggak menyuruh Bima untuk menikah sama kamu menunggu saya sadar , jadi salahkan Bima dong bukan salah saya. " Ucap Sahara langsung berdiri dari duduk nya.


"Saya mungkin masih sering kemari, karena Saya masih butuh bahan. Ah.. nggak deh mendingan hari ini saya habiskan waktu disini nanti nggak bakal kemari lagi. " Ucap Sahara menuju kamar Kapten Hardi.


Mata Sahara terpejam, saat masuk kedalam kamar Kapten Hardi, mengingat semua apa yang terjadi di dalam kamar ini. Bahkan dengan bergetar, Sahara memegang bantal dimana biasa Kapten Hardi tidur.


"Intan kenapa kamar kakek buyut terbuka. " Terdengar suara seorang pria yang berjalan menuju ke kamar Kapten Hardi.


Bima menatap punggung seorang wanita, Sahara membuka kedua mata nya saat mendengar suara yang tak asing bagi nya. Sahara membalikkan badan nya , Bima tepat berdiri di depan Sahara.


"Kapten Hardi." Ucap Sahara pelan.

__ADS_1


"Kamu sedang apa? " Tanya Bima.


"Sa - saya, maaf saya pakai kamar ini dulu untuk bahan skripsi. " Jawab Sahara.


"Kalau sudah, silahkan pergi. Karena sebentar lagi kami akan pergi, Intan sama saya akan pengajuan nikah. " Ucap Bima.


"Sebentar, saya masih ingin mem photo dulu."


Bima pun masuk ke kamar nya dari pintu yang ada di dalam kamar Kapten Hardi. Sahara melihat Bima memasukan pakaian nya kedalam koper.


"Bang, ini berkas nya. " Ucap Intan yang terdengar oleh Sahara.


"Semua nya sudah beres? " Ucap Bima.


"Sudah."


Sahara sesekali melirik ke arah mereka yang sedang berinteraksi, ada sedikit rasa sesak, namun Sahara ingat akan dirinya tidak mau memiliki suami seorang Tentara.


"Masih lama nggak? " Tanya Bima.


"Saya ingin mem photo bunker. " Jawab Sahara.


"Dua jam lagi, kami harus sudah berada di bandara. Kami harus berangkat 15 menit lagi. Kamu tahu kan jalanan macet? karena saya tidak ada waktu lagi. "


"Saya juga tidak ada waktu lagi, hanya hari ini dan saya tidak akan kemari lagi."


"Nanti saya photo kan, saya akan kirim ke nomer Tante. "


"Baiklah, kalau begitu saya permisi. " Ucap Sahara dengan kecewa.


Bima menatap punggung Sahara yang keluar dari kamar Kakek buyut nya, hingga sampai lah di depan pintu depan rumah.


"Terima kasih, selama Saya koma kamu selalu datang. Terima kasih untuk bunga yang setiap hari kamu kirim, terima kasih hanya itu yang bisa saya sampai kan."


"Iya."


"Andai kamu tahu, bagaimana rasanya saat kamu tak sadarkan diri, kamu tidak bangun selama satu setengah tahun lebih, kamu tahu perasaan saya itu tak bisa di katakan dengan kata - kata, kamu tahu sesak dada ini saat cinta saya tidak terbalas kan. " Ucap Bima dalam hati.


"Seandainya kamu tahu, saya merindukan sosok itu. Melihat mu, seakan ingin memeluk mu. " Ucap Sahara dalam hatinya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2