
Semua orang bersuka cita atas kemerdekaan yang telah di dapat kan, bendera pun berkibar dengan sangat tinggi dengan iringan lagu kebangsaan.
Tangis bahagia , pelukan hangat mereka menyambut nya dan beberapa keluarga terpisah akibat perang pun berkumpul kembali.
Mata Hardi terus menyisir namun sangat sulit karena lautan manusia, namun Hardi melihat dari atap gedung beberapa sniper yang sudah siap membidik atas perintah nya.
"Kalau seperti ini bagaimana bisa untuk menangkap nya. " Ucap Hardi.
Hardi tersontak kaget saat punggung nya di tepuk oleh Hawkins, pria kebangsaan K yang ikut membela negara Hardi.
"Seperti ny tegang banget, semua orang bahagia tapi kamu beda. " Ucap Hawkins.
"Saya hanya sedang memantau, takut ada sesuatu hal yang tidak di ingin kan."
"Tenang saja, mereka sudah pergi begitu juga Federick. "
"Kita tidak tahu, karena saya yakin mereka masih berada di negara ini. Walau kita sudah merdeka, mereka tetap masih ingin menguasai negara ini. "
Hardi melihat Sahara bersama Lembayung, yang berada di antara masyarakat yang sedang berkumpul mendengarkan pidato dari Pak Sastrowardoyo. Hardi pun dengan segera berlari ke arah mereka, dengan menerjang beberapa orang yang berdiri.
"Kenapa kalian kemari? "
Hardi terus menerjang desakan tersebut, sangat susah Hardi tak mundur dan terus maju. Namun terdengar suara ledakkan dan jeritan manusia. Sahara dan Lembayung pun kini semakin jauh , hingga Hardi merasakan susah untuk memanggilnya.
Buuuuummmm
Buuuuummmm
Aaaaaaaaaaaaa
Teriakan dan seruan manusia terdengar sangat kencang, bahkan semuanya berhamburan saat sebuah bom meledak di tengah - tengah mereka.
"Apakah sejarah berubah kembali? "
Hardi melihat seorang yang mencurigakan dengan senjata yang di pegang tangan nya siap untuk di tarik pelatuk nya.
Hardi mengejar pria tersebut dan melupakan Sahara dan Lembayung, tangan Hardi meraih pundak pria tersebut hingga menoleh. Namun pria tersebut memperlihatkan sebuah bom di yang terpasang di tubuh nya.
"Mau kabur kemana kamu? " Ucap Hardi dengan menodong kan senjata nya.
Senyum sinis pria tersebut dengan tangan di remote kontrol bom tersebut siap untuk di ledak kan.
"Saya tekan, kamu mati. " Ucap nya siap menekan tombol tersebut.
"Jangan macam - macam kamu. " Ucap Hardi.
__ADS_1
"Amankan semua orang, jangan sampai ada yang terluka lagi. " Ucap Hardi dengan senjata yang mengarah pada pria tersebut.
"Lebih baik menyerah, semua senjata kini mengarahkan pada kamu. " Ucap Hardi.
Pria tersebut melihat sekitar nya, senjata kini mengarahkan pada nya dengan siap menembakkan, namun pria tersebut tetap memperlihatkan senyuman sinis nya.
"Saya tidak akan menghentikan bom ini, walau remote ini saya buang atau tidak saya tekan, tetap akan meledak. Karena Jenderal Federick telah mengendalikan dari jarak jauh, dia lakukan sebagai aksi protes karena telah di singkirkan dari negara ini. "
"Memang pantas, karena apa yang ingin pemerintah kalian miliki adalah bukan milik nya tapi ini semua milik kami. "
"Jenderal Federick tidak akan pernah mundur, karena apa yang harus di miliki akan terus di kejar. "
"Negara kami sudah merdeka, bukti kami bisa mengambil alih semua nya. kalian pun akan segera di singkirkan. Apa menurut kalian aksi bom bunuh diri ini adalah menakuti kami untuk menyerah, sampai titik darah penghabisan kami tidak akan pernah takut atau menyerah. " Ucap Hardi.
Sebuah mobil Jeep dengan mobil truk datang, Jenderal Federick pun turun dari mobil yang di tumpangi nya.
Perdana Menteri Sastrowardoyo turun dari atas podium dan berjalan mendekati Federick.
"Mau apa kamu kemari, apa kamu tidak lihat kami telah mendapatkan milik kami semua. Apa namun tidak malu dengan dunia, sedangkan pemerintahan kalian masih tetap ingin menguasai negera ini yang sudah merdeka. " Ucap lantang Pak Sastrowardoyo.
"Hahahahaha... apa menurut kamu, menang nya kalian akan tetap saya mundur, apa kalian lupa siapa yang membantu rakyat kelaparan, pembebasan pajak itu bukan dari bantuan kami. "
"Kamu pikir, kami tidak bodoh apa hah.. kalian membantu warga pribumi tidak dengan imbalan, tapi wilayah yang berhasil di ambil oleh kalian apa lupa kalau sudah kami rebut kembali dari pengkhianat yang sangatlah bodoh memberikan nya pada kalian. "
"Ayah....!!! "
"Lembayung jangan mendekat...!!! " Teriak Hardi.
"Lembayung...!! "
Dor
Dor
Aaaaaaaaa
"Tidak.....!!! "
Buuuuummmm
Suara ledakan Bom pun terjadi semua nya terpelanting, Hardi dengan rasa sakit akibat tubuh nya terpelanting dengan kasar mencoba untuk bangun.
Hiks... hiks...
"Ayah..!! " Isak tangis Lembayung saat merasakan kedua kaki nya tertembak.
__ADS_1
Hardi pun melihat Sahara tergeletak tak sadarkan diri, terlihat Federick bangun dan mengarahkan senjatanya ke arah Lembayung.
"Tidak....!!!" Teriak Hardi.
Dor
Dor
Federick pun tumbang dengan tembakan tepat di dada nya, suara tembakan pun mengarahkan pada anak buah Federick, para sniper yang berada di atas gedung pun menumpas habis hingga tak tersisa.
"Lembayung." Hardi berlari mendekati Lembayung yang menangis karena kedua kaki nya tertembak.
Hiks.. hiks.. hiks..
"Ayah..!!"
Tim medis pun dengan segera menolong Lembayung, Hardi berjalan ke arah Sahara yang tergelatak pingsan.
"Sayang bangun. " Ucap Hardi sambil mengusap wajahnya.
Sahara pun bangun dengan merasakan perut yang sangat sakit, Hardi melihat ada darah yang keluar dari celah kaki nya.
"Abang."
"Sayang, keluar darah. "
"Sakit Bang. "
"Tolong cepat bantu istri saya. "
*****
"Negara kita telah benar - benar merdeka, tapi di balik semua nya ada duka. Ratusan rakyat kita meninggal di tempat, anak kamu kedua kaki nya di tembak bahkan kamu pun harus kehilangan nyawa calon anak kamu. " Ucap Pak Sastrowardoyo.
Hardi menundukkan kepala nya dengan menahan sesak di dada, merasakan apa yang terjadi pada keluarganya.
"Berkat kamu, kita telah benar - benar bebas dari penjajah. "
"Bukan karena saya, tapi kita semua atas kerja sama kita selama ini. "
"Tapi siapa yang membasmi akar nya, itu kamu. Kamu pantas mendapatkan sebuah prestasi dan akan di kenang sepanjang sejarah. "
.
.
__ADS_1
.