
"Bagaimana keadaan Nenek kami Dok? " Tanya Bima.
"Karena jatuh nya, hingga tulang ekor tidak bisa buat duduk lagi. Jadi harus berbaring di atas tempat tidur. " Jawab Dokter Budi, dokter keluarga Nenek Lembayung.
"Apa bisa di operasi? " Tanya Bima kembali.
"Tulang Nenek sudah tua, dan berdasarkan laporan dari Dokter ortopedi kemarin mengirimkan email pada saya, Nenek mengindap osteoporosis, tulang nya rapuh karena faktor usia juga. " Jawab Dokter Budi.
"Terima kasih Dok untuk informasi nya."
"Sama - sama, bisa sembuh hanya lama kalau untuk seusia Nenek itu beda dengan usia seperti kita. "
"Baik Dok, Terima kasih kembali penjelasan nya. "
****
"Nek, kalau mau sesuatu bilang sama Intan, kalau nggak kedengaran Intan nya nggak apa - apa teriak juga. " Ucap Bima.
"Kemarin, hanya ingin ambil kacamata, Nenek ingin membaca. " Ucap Nenek Lembayung.
"Bima."
"Iya Nek? "
"Nenek juga kasihan sama Intan, dia menghabiskan hari - hari hanya untuk mengurus Nenek, walau dia itu cucu angkat tapi dia perhatian sama Nenek."
"Intan itu baik Nek, hanya nasib masa lalu tidak seberuntung Bima masih ada keluarga. Intan Nenek ambil dari Panti Asuhan dan entah dimana orang tua nya yang tega menaruh Intan di Panti. "
"Nenek dulu sempat ingin kamu menikah sama Intan, tapi kamu mencintai Sahara. "
"Kalau untuk itu, Bima nanti bicarakan lagi."
"Bagaimana kabar Sahara? "
"Masih belum siuman Nek. "
"Setengah tahun dia koma. "
"Apa Nenek melihat sesuatu? "
"Nenek sekarang tidak bisa melihat apa - apa, semua nya gelap kadang putih. "
****
"Kamu dari tadi berdiri di depan pintu? " Ucap Bima saat keluar dari kamar Nenek Lembayung, Intan sedang berdiri tepat di balik pintu yang terbuka.
"Ma - maaf Bang. "Ucap Intan.
" Kamu tadi dengar semua nya? " Tanya Bima.
"Maaf Bang. " Jawab Intan.
"Santai saja. " Ucap Bima sambil berjalan.
"Abang." Panggil Intan.
"Ada apa? " Ucap Bima.
"Masalah itu. "
"Tenang saja, Abang juga tidak memaksa kamu untuk memenuhi apa keinginan Nenek."
__ADS_1
"Nggak Bang, saya sadar dan kita sama - sama tidak memiliki rasa. " Ucap Intan.
"Tapi bila suatu saat kita berjodoh mau di bilang apa lagi, cinta bisa datang sambil berjalan. "
"Nggak Bang, hati Abang juga hanya untuk Sahara tidak untuk yang lain. "
"Sahara tidak mencintai saya, cinta saya bertepuk sebelah tangan."
"Kalau Abang yakin, Sahara akan jadi milik Abang. "
"Janji Abang, kalau dia siuman, Abang akan pergi jauh dari hidup nya. Hanya amanat itu Abang tidak bisa memenuhi nya, tapi bila amanat Nenek, Abang akan memenuhi nya."
Intan menatap punggung Bima yang masuk kedalam kamar nya, hingga pintu kamar Bima tertutup.
"Jujur abang, saya menyukai Abang tapi saya sadar diri siapa saya ini."
*****
"Ayah, Lembayung kangen Ayah sama Ibu." Ucap Lembayung dari seberang.
"Sabar nak, pasti kita bertemu. Kamu baik - baik disana ya, ingat jangan pernah pergi jauh dari Bi Irah dan Paman Idzam. " Ucap Hardi.
"Baik Ayah, Lembayung ingin bicara sama Ibu."
Hardi memberikan gagang telepon seluar pada Sahara, terdengar suara Lembayung yang sangat senang memanggil Ibu nya.
"Ibu.. .!!! "
"Sayang, kamu sudah makan? "
"Sudah Ibu, Ayah sama Ibu sudah? "
"Siap Ibu, Lembayung nggak akan melanggar nya. "
"Anak pintar, jaga kesehatan sayang. Tunggu Ayah dan Ibu akan menjemput kamu nanti."
Sahara lalu duduk di samping Hardi, sedangkan yang lain tengah beristirahat. Kini mereka berada di tempat tinggal Sayuti, salah satu aktifis HAM yang aktif.
"Untuk sementara disini aman, kalian bisa menyusun strategi, Perdana Menteri Sastrowardoyo pun tengah mengatur strategi dimana kedua nya harus di hancurkan. " Ucap Sayuti.
"Saya akan menemui Pak Sastrowardoyo, tolong bantu saya menyiapkan kendaraan untuk kesana. " Ucap Hardi.
"Besok jam 3 pagi, kita berangkat kesana." Ucap Sayuti.
*****
Hardi mencium bibir Sahara dengan sangat rakus, hingga Sahara kesulitan bernafas, di dorong nya tubuh Hardi yang sudah menciumi leher jenjang nya.
"Abang." Ucap Sahara sambil men****sah.
"Abang , besok akan pergi menemui Perdana Menteri, mungkin akan melihat keadaan Lembayung di rumah Halim. "
"Lama kah, Abang disana? "
"Abang akan pulang secepat nya kalau tidak ada halangan. "
"Apakah, Sayuti bisa di percaya? "
"Kalau tidak bisa di percaya, buat apa Abang bawa kalian semua kesini. "
"Saya takut mereka memakai topeng."
__ADS_1
"Tenang saja, Abang tidak salah membawa kamu dan anak buah Abang. "
"Apakah Abang akan menghabisi Jenderal Smith? "
"Mungkin."
"Apa Abang tidak memikirkan kalau dia itu mertua Abang, kakek dari Lembayung. "
Hardi merapikan anak rambut yang mengenai mata Sahara, nafas nya sangat dekat dengan wajah Sahara. Tangan Sahara pun kini mengalunkan di leher nya, hingga tubuh mereka saling merapat.
"Abang akan tetap membela kebenaran, tidak melihat siapa dia. Abang tidak akan membela yang jahat, karena hukum tidak pandang siapa orang itu. "
"Seandainya, Abang benar meninggal ditangan Jenderal Smith. "
"Bukan kah, sudah tertulis sejarah nya, Abang akan meninggal saat jihad. "
"Kita sama - sama akan merubah takdir itu, saya tidak ingin waktu kita hanya sebentar. " Ucap Sahara.
"Apakah Sahara sudah jatuh cinta sama Kapten Hardi? "
"Iya, saya sudah jatuh cinta sama Kapten, tolong kembali untuk saya, jangan pergi tinggalkan saya. "
Hardi menarik tubuh Sahara kedalam pelukan nya, Sahara memeluk tubuh Hardi sangat kuat.
"Do'a kan Abang, do'a kan Abang agar kembali dengan selamat, do'a kan Abang agar selalu berada bersama kalian. "
"Saya nyaman bersama Abang disini, saya pun mau tetap menetap disini. "Ucap Sahara.
****
" Abang berangkat dulu, ingat Abang akan telepon di saat deringan ke 5 , jangan angkat kalau melebihi itu. " Pesan Hardi.
"Iya Bang, hati - hati. " Ucap Sahara.
"Tolong jaga istri saya. " Ucap Hardi pada Ilham dan Aji.
"Siap Kapten, kami akan menjaga Dokter Kinanti. " Ucap Aji.
Alif, Hardi dan Sayuti pun pergi saat pagi buta, Sahara menatap mobil yang kini menjauh dan hilang dari pandangan nya.
"Bu Dokter, mari kita masuk. Kita tidak boleh terlalu lama di luar. " Ajak Ilham dan di anggukkan oleh Sahara.
Sedangkan Hardi duduk di kursi penumpang belakang dan Sayuti yang mengemudikan mobil nya dengan di samping nya Dokter Alif.
"Apa Pak Perdana Menteri sudah di beri tahu?" Tanya Hardi.
"Sudah, dia meminta bertemu di rumah Van Houston." Jawab Sayuti.
"Apa, kamu bawa kami ke rumah Van Houston!! " Ucap Hardi kaget.
"Kenapa Kapten, apakah Kapten Takut? " Tanya Sayuti sambil melirik di kaca spion nya.
"Saya tidak pernah takut, seperti menghadapi kematian." Jawab Hardi.
"Hati - hati Kapten, sekarang itu kita tidak tahu mana teman mana lawan, karena wajah mereka akan sama semua nya dan kita tidak tahu seperti apa wajah di balik topeng yang di kenakan." Ucap Sayuti.
.
.
.
__ADS_1